Ahad 14 Mar 2021 20:07 WIB

Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok di Bangladesh Naik

Harga bahan pokok di Bangladesh naik menjelang Ramadhan.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil
Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok di Bangladesh Naik. Foto: Ilustrasi Ramadhan
Foto: Reuters/Nikola Solic
Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok di Bangladesh Naik. Foto: Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA—Menjelang Ramadhan, kenaikan harga bahan pokok telah menjadi hal yang lumrah terjadi. Setiap tahun, pedagang kompak menaikkan harga bawang merah, daging, hingga minyak. Namun kenaikan yang terjadi tahun ini sedikit berbeda.

Jika biasanya harga naik hanya beberapa sen dari sebelumnya, kali ini, hanya dalam kurun waktu sepekan terakhir, harga bawang meroket hingga 10-15 Taka (Rp. 1.700-2.550), per kilogramnya. Begitu juga dengan harga minyak yang naik 4-5 Taka (Rp. 680-850) per liter.

Baca Juga

Para pedagang mengatakan bahwa harga bawang merah naik karena kekurangan pasokan karena persediaan awal panen hampir habis dan akan memakan waktu dua minggu lagi sampai panen yang terlambat masuk ke pasar. Sementara itu pedagang minyak grosir justru menyalahkan kenaikan harga di pasar internasional, yang memaksa mereka menaikkan harga pula.

engingat bahwa pedagang selalu berusaha menaikkan harga barang yang populer digunakan untuk berbuka puasa, kenaikan harga bawang dan minyak baru-baru ini menunjukkan bahwa pemerintah sekali lagi gagal melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar.

 

Bukan hanya permintaan bawang merah, miju-miju, terong, minyak kacang kedelai, gula, dan barang-barang serupa lainnya juga meningkat setiap Ramadhan. Musim panen bawang merah juga memiliki pola yang mapan.

Data kementerian perdagangan tahun 2019 menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan, permintaan gula dan minyak nabati hampir dua kali lipat sementara permintaan bawang merah meningkat sekitar 150 persen, kacang polong 860 persen dan miju-miju hampir 113 persen.

Adapun kasus kenaikan harga karena kekurangan pasokan, dianggap merupakan akibat dari kegagalan pengawasan pemerintah.

Demikian pula, pemerintah diharapkan memantau pasar internasional dan bertindak sesuai untuk menjaga stabilitas pasar lokal.

Asosiasi Konsumen Bangladesh telah lama menggarisbawahi pentingnya pemantauan pasar dan mendesak peningkatan kapasitas pemerintah dalam hal ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya, dilaporkan bagaimana beberapa pedagang memanipulasi pasar dan menciptakan kekurangan buatan, mengingat meningkatnya permintaan barang berbuka puasa. Kementerian terkait harus menyelidiki kenaikan harga baru-baru ini untuk melihat apakah itu yang terjadi dan mempertimbangkan untuk menetapkan batas atas harga barang.

Selain harus mengambil langkah awal untuk mengatasi situasi ini, pemerintah juga harus mengambil inisiatif jangka panjang untuk mencegah manipulasi pasar di bulan Ramadhan. Pemerintah juga harus berinvestasi dalam mengembangkan sistem informasi pasar yang memantau data produksi yang akurat dan tepat waktu, pasokan saham dan harga pasar serta informasi terkait faktor lain yang dapat mempengaruhi harga barang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement