Senin 01 Mar 2021 08:38 WIB

Pusat Ibadah Lintas Agama di Berlin Segera Dibangun

Bangunan itu akan dilengkapi dengan sinagoga, masjid, serta gereja

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Esthi Maharani
Presidium House of One Foundation: Pastur Gregor Hohberg (dari kiri), Rabi Andreas Nachama dan Imam Kadir Sanchi. Selama lebih dari 10 tahun, ide pembangunan rumah ibadah perwakilan bersama untuk tiga agama monoteistik Yudaisme, Kristen, dan Islam telah direncanakan, dibahas, dan dipromosikan di Berlin.
Foto: Deutsche Welle
Presidium House of One Foundation: Pastur Gregor Hohberg (dari kiri), Rabi Andreas Nachama dan Imam Kadir Sanchi. Selama lebih dari 10 tahun, ide pembangunan rumah ibadah perwakilan bersama untuk tiga agama monoteistik Yudaisme, Kristen, dan Islam telah direncanakan, dibahas, dan dipromosikan di Berlin.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pemerintah Ibu Kota Berlin berencana membangun pusat ibadah untuk pemeluk Islam, Yahudi dan Krissten. Konstruksi bangunan rencananya akan mulai dikerjakan di musim semi ini. Bangunan itu akan dilengkapi dengan sinagoga, masjid, serta gereja, yang akan dihubungkan bersama melalui sebuah area pertemuan.

Dilansir di Times of Israel, Senin(1/3), bangunan yang disebut House of One itu akan dibangun di bekas situs sebuah gereja, yang dihancurkan oleh otoritas komunis Jerman Timur selama era Soviet.

Batu fondasi untuk struktur bangunan akan dipasang dalam sebuah upacara pada 27 Mei. Upacara ini sekaligus mengakhiri 10 tahun perencanaan dan memulai sekitar empat tahun prediksi pembangunan.

Proyek tersebut diprediksi akan menelan biaya sekitar 47 juta Euro atau setara Rp 809,5 miliar. Sebagian besar biaya akan ditanggung oleh Pemerintah Jerman, sedangkan sebagian berasal dari sumbangan masyarakat maupun lembaga.

Pusat ibadah tersebut didesain memiliki ruang aula yang besar. Nantinya, pemerintah juga bisa memanfaatkan bangunan ini untuk mengundang masyarakat dari latar belakang agama lain, serta non-agama, ke acara-acara di sana.

Pusat ibadah ini dirancang oleh firma arsitektur Berlin, Kuehn Malvezzi. Firma ini dijuluki oleh beberapa orang dengan sebutan "churmosquagogue". Mantan rabi untuk sinagoga militer Amerika di barat daya Berlin, Rabbi Andreas Nachama, di ajak untuk bekerja sama dalam proyek tersebut, berdampingan dengan tokoh keagamaan lainnya.

"Ada banyak cara untuk bertemu Tuhan, dan masing-masing adalah cara yang baik. Ini lebih dari sekedar simbol. Ini adalah awal dari era baru di mana kami menunjukkan tidak ada kebencian di antara kami," kata Nachama.

Pusat ibadah ini akan dibangun di bekas situs Gereja St. Peter di daerah Petriplatz Berlin. Gereja tersebut rusak selama Perang Dunia II dan dihancurkan oleh pemerintah komunis pada tahun 1964. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement