Selasa 02 Feb 2021 10:09 WIB

Dari Abu Lahab Murokab, Gatoloco, Hingga Jahiliyah Digital

Kisah tentang jahilyah dunia literasi dan digital.

Buku stensilan Gatolotjo
Foto: Muhammad Subarkah
Buku stensilan Gatolotjo

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Bila hari ini Emha Ainun Nadjib bicara lugas di tayangan Youtube mengenai fenomena kontroversi penghinaan agama seraya mengatakan tak peduli apa itu 'abu rokok, abu duda, atau abu-abu' lainnya, memang tak terlalu mengherankan. Ini karena beberapa tahun silam 'budayawan dari Yogyakarta' itu sudah bicara yang hampir senada.

Apa yang dikatakan Emha, intinya pun sekarang tak ada yang berbeda dengan apa yang nyatakannya kala itu, yakni pada Sabtu dini hari di depan masa pengajian ‘Kenduri Cinta’ yang memadati pelataran parkir Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Di depan masa pengajiannya yang sudah dia gelar selama lebih dari 20 tahun itu, Emha secara terbuka menyindir situasi sosial yang terjadi pada masa sekarang atau yang akrab disebut sebabagi generasi milenial atau generasi ‘zaman now’.

Emha mengungkapkan kemirisan hatinya karena melihat langsung betapa zaman ini sudah begitu ‘gila’ membanalkan nilai dan ajaran yang diyakini kaum Muslim. Di media sosial, asma Allah dan Rasullah SAW sudah secara terbuka dijadikan bahan pelecehan.

Menurut Emha, di zaman inilah Allah dan Rasulnya secara terbuka dihinakan secara luar biasa. Kedua sosok itu secara vulgar ditulis dan dipublikasikan seraya menyebut alat kelamin dan laku persetubuhan. Perilaku ini tak pernah ada dalam sejarah Indonesia dan Nusantara.

“Dan di zaman inilah Allah dan agama Islam dan umatnya ini tidak dibela. Namun, pada saat ini juga ada orang yang dibela secara luar biasa, tanpa malu tanpa ragu, seolah orang itu adalah mahluk luar biasa dan segala-galanya serta kini telah menjadi sesembahan barunya,’’ lanjut Emha.

Ironisnya, lanjut Emha, di zaman jahilyah dahulu ada sosok Abu Lahab yang menjadi penentang utama dakwah Nabi Muhamamd SAW. Dia tidak pernah melakukan perilaku penghinaan dan penistaan semasif dan sekasar seperti sekarang ini. Maka, jelas sekali kini telah lahir sosok Abu Lahab kuadrat (Abu Lahab Murakab, bahasa Arabnya, red).

“Jadi zaman ini memang bisa disebut zaman ultrajahilyah!’’ kata Emha menandaskan. Bahkan, katanya, bisa saja dirinya kini mulai merasa putus asa dengan Indonesa, tapi pihaknya pada saat yang sama tidak pernah merasa putus asa terhadap pertolongan Allah SWT.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement