Senin 14 Dec 2020 02:18 WIB

Pemkot Salatiga Terus Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesantren

Penyebaran covid-19 di Pesantren dicegah Pemkot Salatiga.

Rep: BOWO PRIBADI/ Red: Muhammad Hafil
Pemkot Salatiga Terus Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesantren. Foto: Ilustrasi Covid-19
Foto: Pixabay
Pemkot Salatiga Terus Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesantren. Foto: Ilustrasi Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID,SALATIGA--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Salatiga melaporkan adanya klaster baru penyebaran Covid-19, hingga berkontribusi terhadap lonjakan kasus positif Covid-19 di daerahnya.

Pada akhir pekan kemarin, Dinkes Kota Salatiga mencatat telah terjadi penambahan sedikitnya 109 kasus baru positif Covid-19 dan 33 orang pasien dinyatakan telah sembuh dari paparan virus tersebut.

Baca Juga

Dari jumlah kasus baru Covid-19 yang terungkap di Kota Salatiga tersebut, sebagian besar merupakan penularan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren (ponpes), khususnya di wilayah Kecamatan Sidorejo.

Setidaknya, ada tiga pondok pesantren yang para santrinya telah terkonfirmasi positif Covid-19, dari hasil upaya penelusuran dan penanganan yang dilakukan oleh Dinkes serta Satgas Covid-19 Kota Salatiga.

 

Dinkes menyebut, klaster pondok pesantren ini merupakan pasien nomor 897 hingga 987. “Artinya ada 90 kasus baru dari penularan di lingkungan pondok pesantren di Kota Salatiga,” kata Kepala Dinkes Kota Salatiga, Siti Zuraida, Ahad (13/12).

Karena jumlahnya terhitung cukup banyak, lanjut Siti, untuk kebijakan selanjutnya akan diambil tingkat Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga dan perihal klaster pondok pesantren tersebut juga sudah dilaporkan Ketua Satgas Covid-19 setempat yang sekaligus Wali Kota Salatiga.

“Sudah kita laporkan --baik mengenai tindak lanjutnya maupun perkembangan terkini munculnya kasus baru Covid-19, dari lingkungan pondok pesantren di Salatiga tersebut,” tambah Siti.

Ia juga menjelaskan, awal kasus positif di lingkungan pondok pesantren di Kota Salatiga,  diketahui saat ada laporan santri di salah satu pondok yang bergejala, hingga tim kesehatan Puskesmas mengambil tindakan. 

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas bersama tim Dinkes Kota Salatiga, segera turun untuk melakukan pemeriksaan standar Covid-19 di pondok pesantren yang dimaksud.

Belakangan terungkap, ada 30 santri yang diketahui bergejala dan mengalami anosmia, hingga Dinkes Kota Salatiga segera melakukan karantina kepada seluruh santri dan pengajar di lingkungan pondok tersebut.

“Melalui petugas Puskesmas, kami kemudian 'melock', semua santri dan pengejarnya di dalam lingkungan pondok, termasuk lalu lintas keluar masuk orang sampai menunggu jadwal untuk dilakukan tes usap,” jelasnya.

Sejauh ini, masih jelas Zuraida, mereka semua patuh dan Dinkes Kota Salatiga terus memberikan  penanganan dengan asupan vitamin, termasuk suplay handsanitizer serta sabun cuci tangan dari puskesmas.

Hasil penelusuran yang dilakukan oleh dinkes, beberapa santri telah positif terpapar Covid-19. “Termasuk, di pondok pesantren lainnya juga ditemukan santri  yang diketahui positif terpapar Covid-19, dan jumlahnya terus terakumulasi,” tambah Siti.

Sehingga, Dinkes Kota Salatiga mengambil langkah untuk menggencarkan tes usap di lingkungan pondok pesantren. “Ada pondok yang memiliki asrama khusus santriwan dengan jumlah swab 219,” lanjutnya.

Menyikapi penularan di lingkungan pondok pesantren tersebut, Siti mengaku, Dinkes Kota Salatiga juga telah berkoordinasi dengan kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat, terkait dengan temuan kasus Covid-19 di lingkungan ponpes.

Dinkes juga telah meminta kantor Kemenag untuk mengedarkan imbauan isolasi terlebih dahulu, kepada orang- orang yang baru (keluar/ masuk) ke pondok pesantren termasuk juga di panti, asuhan.

Sejauh ini, para santri memang menghuni dan hanya tinggal di lingkungan asrama pondok pesantren. Namun orang yang keluar masuk di lingkungan pondok juga harus dipastikan, tidak membawa virus Covid-19 ke dalam lingkungan pondok.

“Sekarang sudah lockdown, tapi antisipasi beberapa fasilitas pondok juga dilakukan, karena ada pondok di jalur utama (jalan raya), yang masjidnya juga digunakan masyarakat umum untuk sholat Jumat,” lanjut Siti. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement