Kamis 19 Nov 2020 22:40 WIB

Tudingan Imigran Muslim tak Berprestasi Dibantah Riset Ini

Sejumlah imigran Muslim justru buktikan prestasi di negara mereka tinggal

Sejumlah imigran Muslim justru buktikan prestasi di negara mereka tinggal.  Ilustrasi sekelompok imigran tiba dengan bus di Munich, Jerman, Ahad (13/9).
Foto: EPA
Sejumlah imigran Muslim justru buktikan prestasi di negara mereka tinggal. Ilustrasi sekelompok imigran tiba dengan bus di Munich, Jerman, Ahad (13/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kaum imigran saaat ini menjadi salah satu unsur terbesar komunitas Muslim di negara-negara Barat.

Sebagian dari mereka berasal dari negeri-negeri yang didera konflik, seperti Palestina, Suriah, Yaman, hingga Afrika. Ada pula yang datang dari kawasan Asia Selatan semisal India dan Pakistan. Diaspora umat Islam tak bisa dilepaskan dari mereka.

Baca Juga

Dalam menjalani kehidupan di negeri orang, kaum imigran Muslim mampu menunjukkan keunggulan mereka di berbagai bidang. Mulai bidang pendidikan, politik, kesenian, hingga sains dan teknologi. Di bidang pendidikan, anak-anak imigran Muslim dikenal memiliki motivasi belajar yang tinggi. 

Fakta itu terungkap lewat temuan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), pada 2016 lalu. Menurut hasil penelitian lembaga ekonomi antarpemerintah itu, 10 persen siswa usia 15 tahun dengan latar belakang imigran di Amerika Serikat mencatatkan prestasi yang sama dengan 10 persen siswa peringkat teratas yang bukan imigran. Prestasi tersebut diukur berdasarkan perhitungan tes internasional Pisa.

 

Fenomena semacam itu ternyata tidak terjadi di Amerika Serikat saja. Menurut survei yang dilakukan terhadap 13 dari 37 negara Eropa, termasuk Inggris, 10 persen siswa imigran di peringkat teratas memiliki nilai tes Pisa 10 angka lebih tinggi dari teman-teman mereka yang bukan imigran. 

"Para siswa imigran yang punya motivasi belajar tinggi ini mampu mengatasi kekurangan mereka terkait dengan kemiskinan dan latar belakang keluarganya. Mereka memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi yang berarti bagi negara tempat mereka bermukim," ujar Direktur Pendidikan OECD Andreas Schleicher seperti dilansir laman BBC, belum lama ini. 

Saat ini imigran Muslim yang sukses meniti karier di bidangnya cukup banyak jumlahnya. Sebut saja Imam Zaid Shakir, yang dikenal sebagai pendiri Zaytuna College (kampus perguruan tinggi Islam pertama di Amerika Serikat).

Selain itu, ada lagi nama Mohamed El Erian, ekonom Muslim Amerika Serikat yang saat ini ikut memimpin salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia, yaitu Pacific Investment Mana gement Company (Pimco).

Perusahaan itu tercatat memiliki aset 842 miliar dolar Amerika. Selanjutnya, ada lagi nama Fareed Zakaria, Muslim Amerika keturunan India yang dikenal sebagai jurnalis di CNN dan the Washington Post.

*Naskah bagian artikel yang tayang di Harian Republika 2017

 

sumber : Harian Republika
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement