Senin 24 Aug 2020 13:36 WIB

Pahlawan tak Dikenal Masa: Peran Ulama dan Santri

Ulama dan santri terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pahlawan tak Dikenal Masa: Peran Ulama dan Santri. Ilustrasi
Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Pahlawan tak Dikenal Masa: Peran Ulama dan Santri. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Tiyar Firdaus

Generasi suatu bangsa akan kehilangan integritasnya ketika perjuangan pendahulunya dihapuskan dalam catatan sejarah. Sebagaimana para Orientalis Barat mendesain sejarah Islam, sirah Rasulullah dan para Sahabat dalam bingkai “De-Islamisasi”. Ini pun terjadi pada Ulama dan Santri serta umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga

Di tengah mundurnya negara Imperialis akibat serangan dari umat Islam. Maka didatangkanlah para Sarjana Barat, seperti Snouck Hurgronje, J.H kern, dan J.L.A Brandes untuk bertugas menuliskan dan memutar balikan fakta sejarah perjuangan umat Islam.

Nusantara, meliputi kepulauan yang terpisah-pisah dari Sabang sampai Merauke ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan sebagian kecil Filipina bagian selatan atau disebut sebagai kawasan Hindia-Timur. Semuanya dikendalikan oleh para Sultan Kerajaan seperti Kerajaan Pasai, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, Kerajaan Banten, dan lainnya.

Memasuki abad Ke-16 M, bangsa Portugis dan Spanyol memasuki Nusantara dan merebut Malaka sebagai pusat niaga Islam di bawah kekuasaanya Afonso de Albuquerque. Penyerangan kesultanan Aceh dan kesultanan Demak terhadap Kolonial dilancarkan guna menguasai kembali Malaka. Kemudian, Lari ke selatan dan menguasai Sunda Kelapa, namun berhasil direbut kembali oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Di lain tempat mereka menguasai Mataram, namun Sultan Babullah bisa merebutnya kembali dari tangan Portugis, sehingga tahun 1527 M para Sultan beserta Ulama dan Santri mampu mengusir Portugis dari tanah air.

Memasuki abad Ke-17 M, Imperialis Belanda dan Inggris menjajah tanah air dan mendirikan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dan East Indian Company (EIC) pada tahun 1602 M. Para penjajah mengalami perlawanan sengit dari para Ulama dan Santri, juga para Sultan: Sultan Hasanuddin Makassar, dan dari Mataram Sultan Agung, begitupun di Jawa Pangeran Diponegoro, di Sumatera ada Imam Bonjol memimpin perang Padri 1821-1837M. Syekh Abdul Shomad Al-Palembangi, Syekh Arsyad Albanjari, Syekh Muqoyyim dan Kyai Abbas di Cirebon, Habib Ali Habsyi Kwitang di Jakarta, Habib Ustman bin Husein Al Alaydrus dari Bandung, Kyai Ahmad Sanusi dari Sukabumi, Syekh Syubkhi dikenal dengan Ulama Bambu Runcing. Dan masih banyak lagi, tak mungkin penulis menuliskan semuanya disini.

Namun, Bukti peninggalan makam para Ulama di setiap daerah, juga akan cerita setiap tokoh dari penduduk setempat yang tak tercatat dalam catatan sejarawan di seluruh nusantara merupakan bukti kuat sejarah pergerakan Ulama dalam menyebarkan Islam dan melawan penjajahan.

Menggeliatnya sistem politik kristenisasi, politik Etis, dan Asosiasi yang akibatnya menyengsarakan penduduk pribumi yang semakin tertindas. Maka untuk membangkitkan politik nasional sebagai perlawanan politik Belanda, maka Umar Said Tjokrominoto (pada usia muda 30 Tahun) dan kawannya Haji Agus Salim meneruskan Sjarikat Islam sebagai wadah umat Islam agar mau berorganisasi menggalang persatuan dan kesatuan. Dari situlah umat Islam akan memiliki kekuatan, dan hanya dengan kekuatan itulah akan memperoleh kemenangan. Dari kemenanganlah kita akan mencapai kemerdekaan.

Sehingga Sjarikat Islam berhasil membawa banyak sekali masa pendukungnya. Dan peran serta pergerakan Sjarikat Islam sangat mempengaruhi dalam melawan penjajahan, bahkan ditakuti bangsa kolonial pada waktu itu.

Untuk melemahkan perlawanan Ulama, Santri dan segenap umat Islam. Dan usulan dari penasihat Belanda Snouck Hurgronje: “Tidak satupun yang dapat diperbuat untuk meredakan perlawanan para Ulama kecuali sampai ditumpas sampai habis. Oleh karena itu, dirancanglah Ruth Less Opperattion (Operasi tanpa belas kasih).”

Maka didirikanlah sistem Politik Etis: melalui perekonomian diberlakukanlah “Tanam Paksa” pada tahun 1830 M- 1919 M. Sehingga kelaparan melanda umat Islam dan petani pribumi harus pergi meninggalkan keluarganya untuk kerja paksa.

 

 

sumber : Suara Muhammadiyah
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement