REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam merupakan agama yang sangat hati-hati sekali dalam segala hal, termasuk masalah ibadah shalat. Begitu pentingnya posisi shalat di dalam Islam, sampai-sampai sedang perang pun shalat mesti ditunaikan meski sambil menenteng senjata.
"Bahkan saat berjihad di jalan Allah di medan perang ada istilah shalat khauf yang artinya shalat dalam keadaan takut," kata KH Hermansyah Lc MA, saat berbincang dengan Republika, Kamis (23/4).
Kenapa shalat ketika perang ini tidak dinamakan Shalatun Nasr yang artinya sholat minta tolong. Padahal, saat jihad itu sedang dekat dengan Allah dan shalatnya diatur barisannya dan masih dibolehkan memegang senjata ketika shalat.
"Kenapa, karena saat shalat dalam keadaan perang, musuh bisa saja menyerangnya dan menghabisi pasukan mujahid," katanya.
KH Hermansyah yang juga sebagai Ketua Pusat Talim Alquran, Kampung Melayu ini mengatakan, musuh yang diperangi Rasulullah itu, saat ini bisa dikaitkan dengan pandemi Covid-19. Virus ini merupakan musuh manusia yang tak terlihat dan harus dilawan, salah satunya memutus sebarannya dengan tidak banyak keluar rumah.
"Sekarang musuh kita yaitu Covid-19 yang musuh ini justru tidak terlihat dan sudah terbukti mematikan banyak orang dalam waktu singkat. Maka, wajar kita shalat yang lebih aman di rumah," katanya.
Untuk itu umat Islam mesti memperhatikan seruan-seruan yang disampaikan pemerintah maupun tenaga medis. Jangan sampai kata KH Hermansyah saat kita sedang menjalankan akhir ibadah puasa ternyata kita mendengar dan melihat ada teman kita, saudara kita, tetangga sedang tergeletak di rumah sakit.
"Naudzubillah. Padahal, seharusnya saat Idul Fitri kita bergembira ria. Tetapi ternyata musibah menimpa orang-orang yg kita cintai dan bahkan jangan sampai saat Idul Fitri ada yang wafat karena tertimpa corona," katanya.
KH Hermansyah, berdoa, semoga kita semua dijadikan orang yang semakin bertaqwa, karena banyak di rumah. Semoga kita semua dan keluarga serta kaum muslimin terbebas dari wabah penyakit yang mematikan ini.
"Mudah-mudah kaum muslimin terbebas dari penderitaan akibat wabah yang mematikan ini. Amiin ya rabbal alamiin," harapnya.
KH Hermansyah menuturkan, negara-negara seperti Pakistan atau wilayah yang wabahnya belum terlaru parah dan seharusnya mereka lebih hati hati, jangan dijadikan patokan.
"Coba negara Saudi Arabia tempat di mana dua mesjid teragung dalam Islam yaitu mesjidil haram dan mesjid nabawi, sepi," katanya.
Karena mereka, kata KH Hermansyah, sebagai penguasa faham dan sadar akan bahaya virus Covid-19 ini bagi keselamtan kaum muslim. Bahkan kalau sampai berlanjut, maka penyelenggaran haji akan ditunda karena pasti akan banyak orang datang dari berbagai negeri yang potensi penularannya dahsyat.
"Sehingga, pulang haji membawa dan menyebarkan virus ke negaranya masing dan menelan korban yang semakin banyak dan meluas," katanya.