Jumat 20 Mar 2020 01:00 WIB

Masjid Tertua, Saksi Pemakaman, Hingga Dihimpit Permukiman

Para pedagang (koja) dari India dan Hadramaut tiba untuk berdagang sekaligus bersyiar

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan / Red: Agus Yulianto
Suasana masjid tertua di Jakarta, Masjid Jami Al-Anshor.(Republika/Zainur Mahsir Ramadhan)
Foto: Republika/Zainur Mahsir Ramadhan
Suasana masjid tertua di Jakarta, Masjid Jami Al-Anshor.(Republika/Zainur Mahsir Ramadhan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jalan Pengukiran II, Tambora, Jakarta Barat merupakan salah satu permukiman padat di Jakarta bagian Barat. Namun siapa sangka, ada sejarah Islam Nusantara di tengah-tengah permukiman tersebut.

“Saya juga baru tahu pas kecil, dari engkong saya. Pas saya cek ke pencatatan sejarah, eh iya ini masjid paling tua di Jakarta,” ujar wakil ketua DKM Masjid Jami Al-Anshor, Iskandar (62 tahun) ketika ditemui Republika belum lama ini.

Dia menyebut, masjid yang dibangun pada 1648 itu, telah menjadi bangunan cagar budaya melalui SK Gubernur DKI Jakarta tahun 1993. Alhasil, banyak bentuk yang sudah berubah dari awal pembangunannya.

Ia menampik, jika perubahan atau renovasi pada bangunan itu karena upaya pemerintah. Sebaliknya, peran swadaya masyarakat yang prihatin karena lapuknya masjid dirasa menjadi pemicu untuk melakukan renovasi pada masjid tersebut.

“Karena kalau gak dibangun lagi, ini bisa ambruk. Biar dikata kayu dulu kuat, tapi mau gimana lagi kalau umurnya sudah lewat?” tanyanya.

Menurutnya, Pemprov DKI memang memberikan dana untuk perbaikan setiap 10 tahun sekali. Akan tetapi, kini, dana tersebut ia nilai tak terlalu berpengaruh, apalagi ketika bangunan yang sudah direnovasi total dan semakin kokoh.

“Sejak awal dibangun sampai sekarang, hampir semua bagian diganti. Kecuali dari tujuh kayu di atas itu,” kata dia sambil menunjuk ke atas.

Empat tiang penyangga dalam masjid, kata dia, memang sempat menjadi ciri khas masjid itu, ketika kayu kolot berusia ratusan tahun digunakan. Namun demikian, seiring umur dan banjir dari kali angke atau sekitarannya yang meluap, kayu tersebut digantikan dengan beton.

Dia mengenang, ketika kecil, daerah di sekitar masjid dia sebut masih berupa hamparan pemakaman yang luas. Hingga akhirnya, pemakaman tersebut berubah menjadi permukiman padat yang kini ditempati warga pendatang dari berbagai daerah dan menutupi bentuk masjid.

“Kata engkong saya, dulu juga begitu,” tuturnya.

Kepada Republika Iskandar menambahkan, kakeknya juga selalu bercerita mengenai keadaan ketika masa penjajahan atau ketika para pedagang (koja) dari India dan Hadramaut tiba untuk berdagang sekaligus bersyiar.

“Masjid ini juga dibangun oleh mereka katanya,” ucapnya.

Meski mendapat berbagai cerita dari pengurus pendahulu di masjid itu, ia mengaku, tak mengetahui tiga makam di dalam masjid tertua di Jakarta itu.  Bukan tanpa sebab, tak ada nama ataupun berkas yang mengklaim makam tersebut.

“Dari dulu kayak gitu, paling diperbaiki dengan tambahan batu aja makamnya. Itu ada dua makam, yang satu diisi dua, jadi total ada tiga,” kata dia.

Dari pantauan Republika di Masjid Jami Al-Anshor, kondisi masjid tersebut berada di antara permukiman padat. Bahkan, perlu akses melalui gang yang hanya cukup satu motor dan satu pejalan kaki untuk memasuki masjid tersebut.

Masjid yang berada di Jl. Pengukiran II No.6 RT. 006 RW. 04 Kelurahan Pekojan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat itu memiliki bentuk yang memang sederhana. Utamanya dengan empat tiang penyangga masjid dan dihias dengan full kramik. Di bagian belakang, menurut Iskandar bukan bagian awal masjid, dan tak termasuk bagian cagar.

Namun demikian, karena kepentingan ibadah, bagian tersebut dibangun menjadi satu bagian dan ditingkatkan menjadi dua lantai. “Tetap saja jamaah mah sedikit. Ramai paling Jumatan sama hari pertama atau kedua tarawih,” katanya. 

Menurut Iskandar, hal tersebut dikarenakan kebanyakan warga merupakan pendatang dan pekerja di Jakarta. Di mana warga asli, telah berpencar ke berbagai daerah dan bahkan, tak kembali.

“Jadi warga asli sini mah paling bisa diitung jari,” katanya.

Ketika Republika berkesempatan mengunjungi masjid tersebut pada Jumat lalu, suasana memang penuh, bahkan cenderung memadati gang akses masuk. Tak ayal, beberapa jamaah perlu berdiri hingga khutbah selesai untuk dapat memasuki pelataran masjid.

“Iya paling shalat Jumat atau pas nggak ada kerja aja shalat di sini,” ujar salah satu warga, Rifai.

Menurut dia, Shalat Jumat memang selalu penuh di masjid bersejarah itu. Utamanya, ketika pekerja pasar dan sekitarannya memilih masjid tersebut karena dekat. Selain dari para pengemudi yang tak sengaja lewat ketika hendak shalat Jumat.

Sejarawan Islam, Tiar Anwar mengatakan, bukan hanya satu dua masjid di Jakarta Utara dan sekitaranya yang memiliki masjid berusia ratusan tahun. Khususnya di Pekojan dan dekat pelabuhan Jakarta Utara.

“Karena dulu pusat kota Jakarta itu dekat pelabuhan, bukan di Jakarta Pusat, Timur atau Selatan,” kata dia.

Dia menyebut, tak asing jika banyak ditemukan masjid di wilayahan tersebut. Utamanya, bangunan yang didirikan oleh para pedagang keturunan India dan Arab.

Meski kampung India atau Kampung Arab dia nilai sudah melebur di daerah tersebut. Warisan berupa cagar dinilai masih kokoh dan dirawat hingga kini. 

Berita Terkait
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi