Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Makna Cinta dalam Kehidupan Nabi Muhammad SAW

Jumat 28 Feb 2020 14:10 WIB

Rep: Syahrudin el-Fikri/ Red: Elba Damhuri

Kaligrafi Muhammad SAW. Ilustrasi

Kaligrafi Muhammad SAW. Ilustrasi

Foto: .
Nabi Muhammad SAW mengajarkan makna cinta secara hakiki.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kata-kata tulus dan baik kadang digunakan tidak pada tempatnya, sehingga banyak di antara kita yang hampir dijauhi atau bahkan direndahkan karenanya. Namun ini adalah kata—yang mampu menghilangkan ketakutan seseorang atau membuatnya tak berdaya—cinta.

Cinta sebenarnya adalah prinsip dasar agama. Ia menjadi dasar hubungan terbesar yang paling agung dan paling dekat dengan kesempurnaan.

Cinta adalah sumber hubungan seseorang dengan Tuhannya. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (QS Al-Baqarah: 222)

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mencintai orang-orang yang sabar, beramal shalih, dan berpikiran adil. Ia mengasihi orang-orang yang bertawakal kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.

Iman adalah tanaman—dihiasi dengan cinta—yang ditaburkan oleh Allah SWT dalam hati orang yang beriman. Sebuah ayat Alquran berbunyi, "...tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS Al-Hujurat: 7)

Dengan demikian, Nabi adalah seorang penganjur cinta baik dalam kata-kata maupun tindakannya. Hadits-hadits berikut adalah manifestasi yang jelas:

"Barangsiapa memiliki tiga kualitas berikut akan memiliki rasa manis (kenikmatan) iman: orang kepada siapa Allah dan Rasul-Nya menjadi lebih mahal dari apa pun, siapa yang mencintai seseorang dan ia mencintai dia hanya demi Allah, yang membenci untuk kembali ke ateisme (tidak percaya) sebagaimana ia membenci akan dilemparkan ke dalam api." (HR Bukhari-Muslim)

”Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak beriman sampai kamu saling mencintai." (HR Muslim)

 "Ya Allah, limpahkan aku karunia untuk mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang membawa aku lebih dekat pada cinta-Mu." (HR Bukhari)

"Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan yang kita cintai." (HR Bukhari)

Sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw, mari kita perbaharui rasa dan kesadaran kuat akan keindahan dan cinta yang terdapat dalam agama ini dan di seluruh alam semesta. Biarkan orang-orang beriman memiliki perasaan kasih yang besar, yang merupakan prinsip dasar dari semua keakraban, kecerahan, dan hubungan yang masuk akal.

Karena, tanpa keindahan dan cinta, tidak ada ketaatan beragama yang benar atau suara kehidupan di muka bumi. Bisakah kita melakukan semua ini, menebarkan cinta kasih kepada sesama dan menghilangkan kedengkian? Jawaban seharusnya adalah, bisa!

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA