Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Khofifah Tawarkan Layanan Paliatif Kanker Berbasis Pesantren

Kamis 27 Feb 2020 07:50 WIB

Rep: Dadang Kurnia / Red: Agus Yulianto

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa

Foto: Republika TV/Surya Dinata
Pasien juga mendapatkan siraman spiritual dari pengasuh pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID,  SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menawarkan layanan paliatif (ikhtiar mengurangi penderitaan) berbasis pesantren bagi penderita kanker, khususnya stadium lanjut. Menurutnya, layanan paliatif kanker dapat dilakukan melalui kerja sama dan koordinasi berbagai pihak. Mulai Pemprov Jatim, Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Fakultas Kedokteran, dan pesantren-pesantren.

“Menurut saya potensi Jawa Timur cukup besar untuk menyiapkan perawatan paliatif berbasis pesantren. Ketika KKN, mahasiswanya bisa diarahkan untuk  memberikan pelayanan di petawatan paliatif berbasis pesantren,” kata Khofifah saat menghadiri peringatan Hari Kanker Se-dunia 2020 di Surabaya, Rabu (26/2).

Khofifah mengatakan, salah satu keuntungan dari layanan paliatif berbasis pesantren adalah tidak pelu mendirikan bangunan baru. Hanya saja, kata dia, perlu melakukan rehab di pesantren yang nantinya ditetapkan sebagai sarana untuk layanan paliatif berbasis pesantren. 

Selain itu, jika layanan tersebut dijalankan, maka penderita kanker tidak hanya mendapatkan layanan medis saja. Tetapi juga sekaligus mendapatkan siraman spiritual dari pengasuh pesantren. 

“Jadi paling rehab sedikit dan bisa mendapatkan penguatan spiritual dari pesantren kemudian bisa kunjungan para dokter. YKI punya fungsi preventif, promotif, dan supportif. Pesantren memiliki kemampuan support yang luar biasa, khususnya membangun ketenangan hati melalui dzikir dan sebagainya,” ujar Khofifah. 

Khofifah menjelaskan, pendekatan paliatif yang menitikberatkan pada peningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya, merupakan kebutuhan penting bagi penderita kanker. Hal ini dikarenakan sering kali ketika seseorang mendapatkan vonis dari dokter, maka mereka kehilangan semangat hidup dan cenderung berputus asa.

“Paliatif itu menurut saya adalah sebuah kebutuhan apalagi kalau mereka yang sudah divonis oleh dokter tinggal berapa bulan misalnya,   biasanya sudah hopeless,  semangat hidup mereka yang harus dibangkitkan,” kata Khofifah.

Khofifah juga mengusulkan adanya perluasaan YKI di kabupaten/ kota di Jawa Timur. Karena, kata dia, di kabupaten/ kota di Jatim, belum semuanya terdapat YKI. Khofifah juga mengharapkan adanya peran dari PKK dan Dharma Wanita agar melakukan sosialisasi pada masyarakat terkait kanker. Utamanya kanker payudara dan kanker servik yang menjadi penyebab tertinggi kematian wanita.

Ketua YKI Jatim, Nina Kirana Soekarwo mengajak semua pihak untuk peduli terhadap persoalan kanker di tengah-tengah masyarakat. Dia mengingatkan agar semua berupaya untuk cegah kanker melalui pola hidup sehat dengan kata kunci cerdik. Yaitu, Cek Kesehatan Secara Rutin, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stres. 

“Ibu-ibu tentu masih ingat kata kunci cegah kanker dengan berpola hidup sehat dengan kata kunci cerdik,” kata Nina Soekarwo.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA