Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Dompet Dhuafa Bersama Media Selenggarakan Forum Diplomatik

Rabu 26 Feb 2020 12:22 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Gita Amanda

Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa

Forum Diplomatik digelar sebagai Penghargaan untuk BJ Habibie.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Republika, Voice of Indonesia dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyelenggarakan Forum Diplomatik dengan tema Kebebasan Pers, Penghargaan untuk BJ Habibie, di Auditorium Jusuf Ronodipuro,  Gedung RRI Jakarta, Rabu, (26/2).

Direktur Voice of Indonesia Agung Susatyo mengatakan bahwa Habibie telah mengambil langkah penting dalam proses mendorong proses demokratisasi di Indonesia. "Mustahil kita bisa berbicara tentang demokrasi jika pers masih terkekang," katanya.

Kebebasan pers di Indonesia lahir setelah Orde Baru tumbang pada 1998 dan membahas pasal 28 F UUD 1945, melalui amandemen dua, yang berbunyi, "setiap orang yang membantah dan mencari informasi untuk mengembangkan  pribadi dan lingkungan sosialnya, juga berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan mengungkapkan segala jenis saluran yang tersedia. "  

Kebebasan pers ini kemudian ditegaskan lagi melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Bacharuddin Jusuf Habibie mengambil andil besar dalam mewujudkan kebebasan pers di Indonesia.  Saat disetujui presiden ke-3 RI, Habibie mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.  

Peran pers sebagai pilar demokrasi terus mendapat tantangan.  Peningkatan Indeks Kebebasan Pers, tekanan terhadap media hingga fenomena hoax kerap muncul dipermukaan.  

Agung Susatyo mengatakan tantangan ini harus dijawab bersama oleh semua pihak, baik media, pemerintah dan masyarakat.  

"Warisan dari Pak Habibie dalam bentuk kebebasan pers ini harus kita rawat dan kita pelihara. Tantangan itu akan terus ada tetapi kita harus mampu menjawabnya," tegasnya.  

Baharuddin Jusuf Habibie wafat pada 11 September 2019 lalu.  Habibie meninggalkan warisan besar untuk kemajuan demokrasi Indonesia dalam bentuk kebebasan pers, Jasa ini akan senantiasa menjadi kenangan manis bagi bangsa Indonesia.  

Karena jasanya, pada 16 September 2019, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menganugerahi Bapak Kebebasan Pers Indonesia.  Forum Diplomatik "Kebebasan Pers, Penghargaan untuk BJ Habibie" menghadirkan pembicara yaitu Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Niken Widiastuti, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Dr. Peter Schoof, Kepala  Media dan Komunikasi Kedutaan Besar Inggris di Jakarta John Nickell, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal Sembiring, dan Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA