Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Memasak Daging tapi Masih Ada Darah, Apa Hukumnya?

Ahad 23 Feb 2020 16:24 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Saat memasak daging serigkali masih tersisa darah segar di dalamnya. Pedagang daging sapi (ilustrasi)

Saat memasak daging serigkali masih tersisa darah segar di dalamnya. Pedagang daging sapi (ilustrasi)

Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Saat memasak daging serigkali masih tersisa darah segar di dalamnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Mengolah daging baik berupa ayam, sapi, kambing, atau kerbau misalnya, terkadang masih terdapat darah segar dalam daging atau tulang-tulangnya. Apa hukumnya? Apakah darah tersebut harus benar-benar disterilkan?  

Baca Juga

Mengutip buku Islam Sehari-Hari, karya KH Abdurrahman Nafis, dijelaskan bahwa darah yang mengalir (dâman masfûhan), yang keluar dari hewan yang boleh dimakan dagingnya atau yang tidak boleh dimakan dagingnya termasuk barang najis yang tidak boleh dimakan sebagaimana firman Allah SWT, dalam surat Al An’am ayat 145, “Katakanlah: Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi, karena semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa  sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Darah yang diharamkan itu darah yang keluar dari binatang yang boleh dimakan dagingnya atau yang tidak boleh dimakan dagingnya kalau darah itu sampai mengalir  baik itu diminum langsung atau dibekukan dulu kemudian digoreng dan dimakan.

Tetapi kalau darah itu sedikit dan tidak sampai mengalir seperti darah yang tersisa pada daging, gajih  atau tulang dari hewan yang boleh dimakan dagingnya itu termasuk najis yang diampuni (ma’fu ‘anhu).

Adapun  pentolan bakso yang terbuat dari daging sapi yang digiling langsung tanpa dicuci dulu, kalau ketika digiling tidak dicampur dengan air maka itu ma’fu dan halal dimakan. Tetapi kalau ketika digiling dicampur dengan air untuk mencucinya atau barang lain maka daging yang digiling bercampur darah itu najis dan tidak boleh dimakan. Karena darah yang tersisa pada daging sudah tidak murni lagi.

Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantany menjelaskan, “Dan adapun darah yang tersisa pada daging, tulang dan gajih dari hewan sembelihan maka itu najis yang dimaafkan. Demikian itu jika tidak bercampur dengan sesuatu, seperti jika kambing disembelih kemudian dipotong dagingnya dan tersisa bekas darah walaupun kuahnya berwarna dengan warna darah.” (Nihayat az-Zein : 40)

Daging yang masih ada sisa darahnya, kalau hendak dimasak atau digiling seharusnya dibersihkan dahulu sampai bersih benar, sehingga suci. Atau agar tergolong najis ma’fu (dimaafkan), maka daging tersebut tidak usah dicuci, langsung saja digiling dan dibuat pentolan bakso tanpa dicampur air.  

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA