Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Muhammadiyah: Alquran Harus Diajarkan dengan Pemahaman

Kamis 20 Feb 2020 21:58 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Nashih Nashrullah

Alquran tidak cukup dengan menghafal tetapi juga dengan pemahaman. Logo Muhammadiyah.

Alquran tidak cukup dengan menghafal tetapi juga dengan pemahaman. Logo Muhammadiyah.

Foto: Antara
Alquran tidak cukup dengan menghafal tetapi juga dengan pemahaman.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL – Radikalisme masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Bahkan, berbagai aksi radikal dan terorisme dilakukan kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai suatu agama.

Baca Juga

Untuk itu, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto mengatakan, pemahaman agama harus diajarkan secara komprehensif. Sehingga, dapat memahami dan sekaligus mengamalkan ilmu agama. Hal ini tentu dapat menangkal radikalisme itu sendiri. 

Dia menjelaskan, dalam mengajarkan Alquran tidak hanya dengan metode menghafal saja. Namun, Alquran harus diajarkan dengan pemahaman ilmu pengetahuan. 

Menurutnya, dalam beribadah dan akidah harus sesuai dengan ajaran agama. Sementara, dalam urusan sosial kemasyarakatan juga harus menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. 

“Yang literal (harfiah) hanya pada aspek ibadah dan akidah, tetapi aspek di luar itu harus dengan menggunakan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam. Jika membaca ayat, harus dipikirkan dan dipahami terlebih dahulu,” katanya saat menggelar FGD di Hotel Grand Dafam Rohan, Bantul, Kamis (20/02).

Danarto menuturkan, perkembangan zaman terus terjadi. Hal ini, bahkan juga menjadikan masyarakat Indonesia untuk terus mengikuti perkembangan yang ada. 

Dengan begitu, menurut Danarto, umat Muslim harus rajin mengikuti kajian kontemporer. “Penerapan (ajaran Islam) dari waktu ke waktu harus mengikuti perkembangan peradaban yang ada. Harus mengikuti kajian keilmuan kontemporer yang ada,” jelasnya.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Ir Hamli, mengatakan paham radikalisme sendiri bisa masuk dan menyampaikan doktrin melalui berbagai tempat. Seperti di sekolah, pondok pesantren, organisasi, bahkan rumah sakit.

Hal ini, kata Hamli, kerap digunakan oleh pelaku teror dalam melancarkan aksinya. Doktrin ini, ujarnya, bahkan sudah terjadi sejak pendidikan anak usia dini (Paud). 

“Natal, Tahun Baru, Ramadhan, Lebaran dan 17 Agustus. 17 Agustus mereka akan serang, karena mereka menganggap sebagai negara thagut. Doktrin pemikiran seperti ini sudah terjadi mulai dari Paud, dari TK. Minimal untuk tidak suka terhadap yang berbeda,” ujarnya.  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA