Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Khalifah

Jejak Ottoman Selamatkan Kelaparan Warga Kristen Irlandia

Senin 17 Feb 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Monumen 'Great Famine  di Costum House Quay di  Dublin Docklands, Irelandia.

Monumen 'Great Famine di Costum House Quay di Dublin Docklands, Irelandia.

Foto: aa.com
Kekhalifahan Ottoman yang ternyata mengajarkan apa itu toleransi agama.

Dalam benak banyak orang, kisah kekhalifahan Ottoman (Dinasti Usmaninah) kini dianggap selalu menjadi ancaman. Dalam banyak benak mereka, cara bernegara seperti itu menakutkan. Anggapan yang ada kekhalifahan model Ottoman semuanya nista dan peyoratif. Publik dunia, termasuk Indonesia, dicecoki kesan kekuasaan politik Islam itu selalu menakutkan, penuh penyelewengan, dan brutal.

Namun, apakah benar begitu? Apakah kekuasaan itu tak punya rasa toleransi sedikit pun kepada pihak lain yang berbeda keyakinan atau agama?

Dan sebenarnya tudingan ini pun sama saja. Demokrasi dan sistem pemerintahan ala Barat masa kini pun sudah terbukti memakan korban jutaan orang. Tak hanya pembantaian orang dalam sejarah, bahkan dua perang dunia dan penjahan model penghisapan telah meletus karenanya.

Nah, salah satu model atau contoh dari nilai ideal dalam praktik kekuasaan Ottoman telah dilakukan Sultan Abdul Majed yang bertahkta di Turki sekitar dua abad silam. Ia ternyata tak segan memberikan sumbangan kepada negara lain yang jauh dan penduduknya bukan Muslim, yakni Irlandia.

Kala itu saat terjadi bencana ‘Great Famine’ atau ‘Kelaparan Besar’, sultan Turki ini memberikan peranannya. Orang Irlandia mengenal zaman susah ini sebagai Irish Potato Famine (Kelaparan Kentang di Irlandia). Tepatnya peristiwa ini terjadi sekitar 160 tahun silam.

Memang Irlandia bukan negeri Islam. Penduduknya mayoritas beragama Kristen. Namun, kekaisaran Ottoman, Sultan Abdul Majeed, dengan lapang hari secara pribadi kala itu menawarkan bantuan senilai 10.000 pound kepada Irlandia.

photo
Surat ucapan terima kasih kepada Sultan Turki Abdul Majeed dari rakyat Irlandia
Uniknya lagi, saat itu usia Sultan Abdul Majeed baru 23 tahun. Atas sikap dermawan ini Kekhalifahan Ottoman atau Utsmani memiliki reputasi kedermawanan di seluruh dunia.
Anehnya, meski Irlandia itu di bawah kekuasaan Inggris, langkah Sultan tak membuat negara tuan koloni Irlandia tak berkenan membantunya, Kala itu para diplomat Inggris di Turki menasihatinya bahwa tindakan Sultan akan menyinggung banyak orang, termasuk Ratu Victoria.

Atas situasi ini, diplomat Inggris yang ada di Istanbul Welesley menyarankan agar Sultan Abdul Majeed menyumbangkan setengah dari dari jumlah sumbangannya. Dan jangan melebihi sumbangan Ratu Inggirs yang hanya memberi sumbangan senilai dua ribu pound saja, meski Irlandia adalah bagian dari Inggris pada saat itu.

Namun, Sultan Abdul Majeed menemukan cara lain untuk membantu kelaparan akut di Irlandia itu. Secara diam-diam mengirimkan lima kapal penuh makanan ke Kota Drogheda pada Mei 1847. Maka di situlah penduduk  setempat yang beragama Kristen mulai akrab dengan simbol-simbol Islam, seperti bulan sabit dan bintang. Lambang ini mulai dikenal warga kota itu saat armada kapal bantuan dari Kesultanan Ottoman datang.

Mungkin saja banyak orang yang skeptis bila sultan Turki dermawan kepada umat beragama lain yang tinggal jauh dari Turki, apalagi agamanya beda. Namun, hal ini tak bisa dibantah. Banyak bukti dan klaim yang mendukung bahwa sultan Turki itu baik budinya.

Bukti tersebut di antaranya adalah artikel surat kabar pada masa itu. Selain itu, juga sepucuk surat dari Irlandia yang secara eksplisit berterima kasih kepada Sultan Abdul Majeed atas bantuannya.

Bahkan, sebuah jurnal agama yang terbit di Inggris menerbitkan sebuah artikel berjudul: "Seorang Sultan yang Baik Hati". Dalam artikelnya, penulis menyebut, untuk pertama kalinya seorang penguasa Mohammedan mewakili populasi Islam yang beraneka ragam, secara spontan memanifestasikan simpati hangat dengan negara Kristen.

Surat penghargaan dari bangsawan Irlandia dan orang-orang kepada Sultan Ottoman ada di arsip Istana Topkapi hari ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA