Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

“Menshalatkan” Orang Hidup

Ahad 16 Feb 2020 09:34 WIB

Red: Irwan Kelana

Ustadz Salim A Fillah bersama jamaah Muslim Indonesia di Brisbane, Australia.

Ustadz Salim A Fillah bersama jamaah Muslim Indonesia di Brisbane, Australia.

Foto: Dok IISB
Ustaz Salim A Fillah berbagi rahasia sukses Masjid Jogokariyan di Australia.

REPUBLIKA.CO.ID, BRISBANE — Menshalatkan orang mati, itu biasa. Menshalatkan mereka yang hidup, baru luar biasa. 

Demikian disampaikan Wakil Ketua Masjid Jogokariyan, Jogkakarta, Salim A Fillah, dalam kajian subuh bertajuk “Dari Masjid Islam Bangkit” yang diselenggarakan oleh Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB), Quran Class Brisbane (QCB), dan Indonesian Muslim center of Queensland (IMCQ),  di  IMCQ, Logan Lea, Brisbane, Australia, awal Februari 2020 lalu.

Hadir dalam acara itu Ketua IISB Taufik Kurrohman, Ketua QCB, Alaik Kubro, dan Ketua Manajemen IMCQ Edy Wahyu Susilo dan puluhan jamaah dari sekitar Logan Lea dan Brisbane.

“Banyak masjid yang program-programnya adalah peringatan hari besar Islam. Di tempat kami, program utama masjid adalah “menshalatkan” orang hidup. Ini lebih sulit dari pada menshalatkan orang mati,” papar anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Lebih lanjut ia menjelaskan, menshalatkan orang hidup tidak lain mengajak Muslim yang sudah mukallaf (sudah baligh) untuk shalat berjamaah di masjid. Di samping itu, pengurus masjid menyangga amanah besar bagaimana menjadikan masjid sebagai kekuatan yang berdampak kepada kemandirian sosial-ekonomi jamaahnya.

Untuk merumuskan tugas itu, ungkap ayah dari Hilma 'Aqila Mumtaza ini, diperlukan pemetaan daerah yang menjadi cakupan dakwah berikut kondisi jamaah masjid. “Masjid kami melayani 4 RW dan 18 RT mencakup 870 KK dengan perkiraan 3.960 jiwa. Dari jumlah tersebut,  1.900 orang adalah mukallaf,” papar ustaz  yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Elektro UGM dan Psikologi UIN Yogyakarta ini. 

Detail dari data yang dikumpulkan itu kemudian diperdalam termasuk, nama warga, golongan darah, pekerjaan, sampai kepada tingkat yang paling personal, seperti apakah sudah melakukan shalat atau belum. Untuk mendapatkan data-data personal, kadang tidak mudah, karena itu mereka menurunkan “pasukan” HAMAS (Himpunan Anak-anak Masjid Jogokariyan) yang hasilnya kemudian divalidasi oleh kakak-kakak mereka yang tergabung dalam RMJ (Remaja Masjid Jogokariyan).

Dari sensus masjid ini, terungkap pada tahun 2005 ada 480 dari 1900-an mukallaf yang belum melaksanakan shalat. Hal itu tidak mengherankan, kata di,   karena Jogokariyan dulu terkenal basis PKI, bahkan tahun 1966 LEKRA setempat pernah mengemas pertujukan ketoprak Patine Gusti Allah (Matinya Allah).

“Kebanyakan dari mereka orang tua. Mereka tidak ke masjid karena belum bisa shalat. Meskipun di masjid sudah digelar kajian shalat, mereka tetap tidak datang karena malu. Karena itu, kami membuka open donation untuk menyiapkan kafalah bagi para dai yang datang langsung ke rumah mereka dan mengajari mereka sampai 10 kali pertemuan. Setelah selesai, mereka diberikan hadiah dari sarung, peci, hingga mukena,” terangnya untuk memacu dan menyemangati semangat menegakkan shalat.

Hasilnya mulai kelihatan. Tahun 2015, mukallaf yang belum shalat tinggal 28 orang. “Mereka (yang sudah dilatih) kini lebih rajin dari jamaah lama. Banyak yang datang ke masjid jam tiga pagi, jauh sebelum shalat Subuh dilakukan,” imbuhnya lagi.

Program menshalatkan yang hidup, juga dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain melalui kulineran. Takmir masjid mensurvei beberapa angkringan (tempat jualan makanan khas sego kucing) dan kemudian dari hasil terbaik yang direkomendasikan jamaah, oleh takmir masjid difasilitasi untuk berjualan di sekitar masjid. 

“Mereka kita kasih tempat tanpa harus membayar, tapi kita kasih tugas kalau azan tiba agar menyilahkan dan mengajak para pembeli setia untuk shlat berjamaah.” 

Mengajak shalat juga dilakukan dengan masuk dalam kumpulan atau pemilik hobi tertentu, semisal gowes. Jamaah masjid Jogokariyan, terang Ustaz  Salim, diminta ngrombyongi (turut serta) dalam kegiatan sepedaan. Mereka dikasih dana untuk mendukung kegiatan gowes ini di mana di setiap akhir tujuan, biasanya diakhiri dengan kulineran.

“Misalnya pecel imogiri, sate klatak, jejamuran yang biayanya ditanggung masjid. Misi dakwahnya diselipkan, misalnya dengan mengajak mereka berhenti untuk shalat Dhuha di masjid.” 

Tidak sedikit dari mereka yang ngeles untuk tidak ikut shalat, beralasan pakai celana pendeklah, baju kotorlah, sampai alasan yang dicari-cari seperti belum mandi junub. “Tapi alasan ini sudah diantisipasi, dengan disediakan pakaian yang layak untuk shalat,” ujarnya.

Tidak berhenti di sini, takmir masjid kemudian menyediakan tempat khusus untuk komunitas gowes di sekitar masjid dan bahkan pada hari tertentu menggelar bursa aksesori sepeda. 

Untuk mewadahi kegiatan hobi sepeda ini, akhirnya takmir mendukung pendirian Djamboel (Djamaah Masjid Bersepeda Oentel) yang dalam salah satu acara syawalan berhasil mengumpulkan tiga ribu oentelist se-Jogja. Salah satu poin dari deklarasi mereka misalnya menyebutkan, “sebaik-baik ontel, ontel ke masjid”. 

Saat ini, sambung Ustaz  Salim, masjid juga memfasilitasi mereka yang hobi mancing. Pengurus masjid bantingan (mengeluarkan infak dalam jumlah yang agak besar) untuk dibelikan mobil bagi yang berhobi mancing. Seperti biasa, sebelum berangkat ke lokasi, malamnya mancing mania ini sudah diajak mabit dan Tahajjudan di masjid.

Pusat pembelajaran

Selain mengajak shalat melalui hobi, Takmir masjid Jogokariyan juga mendukung upaya menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pembelajaran.  Di dalam masjid dibuatkan Sanggar Aula dimana kebutuhan untuk belajar seperti komputer, printer, wifi semua disediakan gratis. “Kita bukan lagi schooling society, tapi sudah menjadi learning society,” jelas Ustaz  Salim.

 Waktu antara Magrib dan Isya dialokasikan untuk belajar Alquran. Selepas Isya’, anak-anak dan remaja yang ingin belajar berbagai ilmu akan mendapat pendampingan, dari Fisika, Biologi, Kimia, Matematika, bahasa Inggris, hingga bahasa Jepang. Hasil dari kegiatan ini, remaja masjid Jogokariyan dikenal berprestasi, bukan sekadar tingkat nasional, tapi mendunia. Di antaranya, Muhammad Hasan Habib (juara olimpiade Kimia di Argentina) dan Asahi Takahasi (juara olimpiade Geografi di Jepang). 

Bukan itu saja, fasilitas terkait kegiatan remaja dan olah raga disediakan. Dari meja pingpong hingga karambol. Idenya, yang penting anak muda mau dan suka berada di masjid. Anak-anak remaja berandalan, didekati dan dibuatkan markas. Sebut saja, genk Kethek Kopyok yang anggotanya masih anak-anak SMP hingga awal SMA. Mereka lalu dibina, disediakan makan, dibuatkan proyek buat lampion menjelang Ramadhan yang kemudian didistribusikan ke warga.

“Mereka saat ini menjadi jaringan pertolongan masyarakat dalam kecemasan. Seperti anak hilang. Pernah mereka mendapatkan penghargaan dari Polsek karena kecepatan mereka menemukan anak hilang,” paparnya.

Semua kegiatan kemasyarakatan ini tidak mungkin tanpa dukungan finansial yang memadai. Bagaimana masjid mendapatkannya? Kembali ke sensus jamaah. Pada periode 2005-2010, Takmir masjid Jogokariyan menggiatkan Gerakan Jamaah Mandiri.

Dalam satu tahun anggaran dibagi ke dalam 52 minggu, lalu ketemulah biaya per pekan. Biaya ini dibagi oleh jumlah jamaah yang sudah disensus. Diperoleh satuan dana per minggu untuk tiap jamaah. Lalu diumumkan bagi jamaah yang infaknya kurang dari jumlah minimal biaya perminggu, status mereka adalah jamaah yang disubsidi masjid. Rupanya tidak ada yang mau menjadi beban bagi masjid.  Dengan cara itu infak masjid naik berlipat. 

Oleh takmir, dana yang masuk segera didistribusikan untuk kegiatan yang sudah diprogramkan. Dengan cara itu, saldo infak masjid diusahakan menjadi nol. “Kenapa? Karena orang yang berinfak ingin agar amalnya segera menjadi amal saleh. Jangan sampai ada jamaah yang lagi kesulitan tidak bisa membayar pengobatan, sementara saldo masjid besar,” jelas Ustaz Salim. 

Tidak semua jamaah berasal dari golongan mampu. Adakalanya beban hidup  menempatkan mereka dalam situasi terdesak seperti kekurangan pangan. Untuk mencukupi kebutuhan dasar ini, mereka dibekali dengan ATM Beras. Beras berasal dari jamaah yang tiap kali memasak menyisihkan satu genggam beras dalam kantong plastik, lalu dibawa dan dikumpulkan di masjid. Jamaah yang membutuhkan sudah didata. Inilah manfaat dari sensus jamaah yang dilakukan sebelumnya. “Sekali mereka menggesek ATM, maka keluarlah beras sesuai dengan jumlah anggota keluarganya,” jelas Ustaz  Salim.

Berangkat dari kelengkapan data, jamaah Masjid Jogokariyan juga berkontribusi dalam kedaruratan yang lainnya. Ketika PMI DIY kekurangan stok darah, mereka bisa mengontak takmir masjid. Dari bank data jamaah, langsung bisa diakses jamaah yang memiliki golongan darah yang sama, berikut nomor telepon. "Dalam waktu yang relatif cepat, takmir bisa menghubungi dan kemudian memberangkatkan siapa saja yang bersedia mendonorkan darahnya untuk pasien yang memerlukan," paparnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA