Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Islam di Palembang: Jasa Syekh Nurul Ikhwan dari Tanah Arab

Jumat 14 Feb 2020 12:07 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Kedatangan para perantau Arab ke Nusantara.

Kedatangan para perantau Arab ke Nusantara.

Foto: gahetna.nl
Syekh Nurul Ikhwan mendakwahi para penguasa candi Bumiayu.

Oleh Muhammad Daud, Aktivis lembaga Kajian Naskah Melayu dan mahasiswa pascasarjana UIN Jakarta Konsentrasi Filologi

Selama ini, Islamisasi di Sumatra Selatan identik dengan keberadaan sang bupati Majapahit yang bernama Ario Damar. Sebagaimana diketahui, abad XV Palembang atau Sumatra Selatan pada umumnya termasuk daerah kekuasaan Majapahit dan sebagai daerah taklukan. Maka, Majapahit menempatkan wakilnya di Palembang, yakni Ario Damar (putra Prabu Brawijaya Sri Kertawijaya).

Pada saat Ario Damar berkuasa, Raden Rahmad atau kemudian dikenal dengan Sunan Ampel singgah selama dua bulan di Palembang dan berhasil mengajak Ario Damar masuk Islam meski dengan sembunyi-sembunyi. Dengan kata lain, ia belum mau terbuka dengan keislamannya.

Pendapat ini dikemukaan oleh T.W. Arnold yang seakan diamini oleh Uka Tjandrasasmita. Ia mengatakan bahwa perkembangan islam lebih intensif di Sumatra Selatan baru terjadi abad ke-15 M sehingga pada akhir abad ke-15 M terbentuk pemerintahan yang bercorak islam di Palembang.

Sementara, dugaan yang mengatakan Islam masuk ke palembang abad ke-7-8 Masehi hanya didasarkan berita Cina dan hal itu dikaitan dengan kegiatan para pedagang Muslim, melalui Selat Malaka ke negeri Cina. (K.H.O Gadjahnata: Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatra Selatan).
 
Kemunculan teori di atas karena kita melihat Kota Palembang saja sebagai objek penelitian dengan mengesampingkan sumber-sumber lokal yang tersebar di berbagai wilayah di Sumatra Selatan. Sebenarnya sebelum Majapahit berkuasa dan Ario Damar menjadi bupati Palembang sudah ada kekuatan Singosari di Sumatra Selatan yang berpusat di wilayah Candi Bumiayu.

Saat ini Candi Bumiayu berada di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abad Ilir (PALI). Situs Candi Bumiayu memiliki luas sekitar 40 hektare, dikelilingi oleh Sungai Lematang beserta anak-anak sungainya. Menurut Sondang Siregar, pendiri bangunan Candi Bumiayu melakukan upacara Tantrayana dengan tujuan untuk mengadang pasukan Singasari yang melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sumatra pada 1275 Masehi di bawah pimpinan Kebo Anabrang. Pada 1286 Bumi Melayu dapat ditundukkan. (lihat makalah: Jejak Tantrayana di Situs Bumiayu oleh Sondang Martini Siregar).

Namun, setelah penaklukan bumi Melayu justru di internal Kerajaan Singasari terjadi kegaduhan mengakibatkan kehancuran kerajaan itu sendiri. Di tengah politik yang tidak menentu dimanfaatkan oleh Syekh Nurul Ikhwan untuk mendakwahi para penguasa Candi Bumiayu sehingga berhasil memeluk Islam.

Setelah mengislamkan penguasa dan masyarakat di pesisir sungai lematang, Syekh Nurul Ikhwan pergi ke Bukit Siguntang dan mendakwahi raja Sanghyang. Kedatangan Syekh Nurul Ikhwan ini tercacat dalam gelumpay tanah abang atau tulisan yang terdapat di bilah bambu yang dikoleksi pribadi oleh masyarakat yang berdomisi di wilayah situs Candi Bumiayu.

Gelumpay tersebut sudah ditransliterasi oleh Nor Ansory tahun 1970-an atas inisatif  pemerintah daerah. Berdasarkan berita yang tertuang dalam gelumpay bahwa pada tahun 1299, Syekh Nurul ikhwan seorang ulama besar keturunan Umar bin Khattab yang berasal tanah Arab pergi berlayar menyebrangi lautan dengan membawa panji Islam sampai di kerajaan Kebo Undang Sungai Lematang.

Dari sumber lokal tersebut dapat keterangan bahwa jauh sebelum kedatangan Raden Rahmad atau abad ke-15 M sudah ada pendakwah di Sumatra Selatan. Persoalannya adalah apakah angka  1299 ini tahun Masehi atau tahun Saka?  Kalau tahun saka maka tahun Masehinya adalah 1377 M.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA