Rabu 29 Jan 2020 17:43 WIB

Kisah Seorang Lelaki dan Wanita Berduaan di Padang Sahara

Lelaki itu mengutarakan perasaannya kepada wanita saat berduaan di Padang Sahara.

Kisah Seorang Lelaki dan Wanita Berduaan di Padang Sahara. Foto: Ilustrasi Pacaran.
Foto: Republika/Prayogi
Kisah Seorang Lelaki dan Wanita Berduaan di Padang Sahara. Foto: Ilustrasi Pacaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alkisah, ada seorang lelaki yang hatinya tertambat pada seorang perempuan. Suatu ketika perempuan itu keluar untuk suatu keperluan. Laki-laki itu ikut pergi bersamanya. Ketika mereka berduaan di padang Sahara, sementara orang lain sudah tertidur, laki-laki itu mengungkapkan isi hatinya. Perempuan itu berkata, "Lihatlah, semua orang sudah tertidur".

Laki-laki itu senang mendengar kata-kata itu. Dia mengira bahwa perempuan itu telah memberikan jawaban kepadanya. Lalu, dia berdiri dan mengelilingi kafilah. Dia mendapati orang-orang sudah tertidur. Lalu, dia kembali kepada perempuan itu dan berkata, "Benar, mereka telah tidur'.

Baca Juga

Namun, perempuan itu bertanya, "Apa pendapatmu tentang Allah, apakah Dia tidur pada saat ini?" Ia menjawab, "Allah SWT tidak tidur. Dia tidak pernah terserang kantuk dan tidur". Perempuan itu berkata, "Dzat yang tidak tidur dan tidak akan tidur. Dia selalu melihat kita walaupun orang lain tidak melihat kita. Karena itu, Allah lebih pantas untuk ditakuti".

Akhirnya, laki-laki itu pun meninggalkan perempuan tadi karena takut kepada Allah. Dia bertobat dan kembali ke kampung halamannya. Ketika dia meninggal, orang-orang bermimpi melihatnya. Ditanyakan kepadanya, "Apa tindakan Allah kepadamu?" Dia menjawab, "Dia mengampuniku karena ketakutanku itu. Dengan demikian, terhapuslah dosa tersebut".

Hakikat takut kepada Allah

Karena khauf atau rasa takut kepada Allah, laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk bermaksiat. Itulah tanda keimanan. Sama seperti Nabi Yusuf yang menolak ajakan Siti Zulaikha; istri majikannya untuk berzina, padahal ia pun menyukainya.

Para ulama sepakat bahwa tingkat keimanan manusia tertinggi adalah seberapa jauh rasa khauf dan keikhlasan dalam ibadah. Imam Ibnu Taimiyah mengungkapkan, "Apa saja yang menghalangimu dari berbuat dosa, maka itulah khauf yang kita cari. Islam tidak pernah menuntut lebih dari itu. Begitulah para sahabat, mereka menjadi manusia istimewa dengan ketakutan mereka kepada Allah yang Mahahidup dan Mahakuasa".

Ulama lain mendefinisikan khauf dengan: "Ketika engkau duduk sendirian, maka engkau membayangkan seakan Allah SWT menampakkan Dzat-Nya kepada manusia dari atas 'Arasy-Nya."

Khauf tumbuh seiring dengan tumbuhnya cinta seseorang kepada Allah SWT. Ketika seseorang mencintai Allah, ia akan takut melakukan perbuatan yang dimurkai-Nya. Ia pun takut dijauhi-Nya sebagaimana seorang kekasih yang takut ditinggal orang yang disayanginya.

Khauf akan memunculkan sikap berpikir ke depan, bukan hanya dunia tetapi juga akhirat. Ia akan berhati-hati dalam bertindak karena setiap tindakannya mengandung konsekuensi, disukai atau dimurkai Allah. Khauf juga akan motivasi untuk terus beramal dan terus meningkatkan amalnya. Dengannya ia akan terus mendekati Allah.

Allah SWT menjanjikan surga kepada orang yang takut kepada-Nya. Difirmankan, "Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan (diri) dari (keinginan) hawa nafsunya. Maka sungguh, syurgalah tempat tinggalnya." (QS An-Nazi'at [79]: 40-41).

Rasulullah SAW menyatakan bahwa beliaulah manusia yang paling takut kepada Allah. Sabdanya, "Sesungguhnya orang yang paling tahu dan takut kepada Allah di antara kalian adalah aku." (HR Bukhari, Ahmad, Abu Daud dan Imam Malik). Dalam beberapa kesempatan Rasulullah SAW menampakkan rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Ibnu Mas'ud menceritakan, "Rasulullah berkata kepadaku, 'Bacakanlah Alquran untukku'. Aku menjawab, 'Ya Rasul bagaimana aku akan membacakannya untukmu, sedangkan engkaulah yang diberi Alquran?' Beliau bersabda, 'Bacalah, karena sesungguhnya aku senang mendengarkannya dari orang lain'. Kemudian aku membaca ayat yang ada dalam surat An-Nisaa sampai pada ayat, Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka itu (QS An-Nisaa [4]: 41). Beliau berkata, 'Cukup!' Aku melihat kedua matanya berlinang air mata" (HR Muttafaq 'alaih)

Tanda-tanda khauf

Menurut Dr 'Aidh Abdullah Al-Qarny ada empat tanda khauf. Pertama, adanya kesesuaian antara lahir dan batin. Artinya, perbuatan dan hati seseorang tidak saling bertentangan. Amal lahirnya tidak lebih baik daripada batinnya. Kedua, jujur kepada Allah SWT dalam ucapan, perbuatan dan sikapnya. Allah Maha Mengetahui atas segala yang diperbuat oleh manusia, terlihat maupun tidak, sehingga tidak ada peluang untuk berdusta.

Kejujuran ini tidak sebatas pada hati saja. Para ulama berkata, "Ada tiga tingkatan kejujuran, yaitu kejujuran dalam bersikap, kejujuran dalam perbuatan dan kejujuran dalam ucapan". Ketiga, menyesali kejelekan dan bergembira atas amal baik yang telah diperbuat. Tanda ini terungkap dalam QS Ali Imran [3] ayat 135-136, Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Keempat, hari ini lebih baik dari kemarin. Khauf akan memacu seseorang untuk senantiasa berburu amal. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana ia terus menambah dan memperbaiki amalnya. Ia berusaha agar amal hari ini lebih baik dan lebih banyak daripada sebelumnya.

Khauf berada dalam hati. Untuk menumbuhkannya perlu proses. Hati perlu dilatih agar bisa merasakan kekuasaan Allah SWT. Ada beberapa bentuk latihan untuk mendapatkannya. Pertama, membaca dan menghayati ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan hari kiamat dan adzab Allah SWT. Kedua, mengingat kematian dengan berziarah kubur. Rasulullah SAW bersabda, "Berziarahlah kalian ke kubur karena sesungguhnya kubur akan mengingatkan kalian akan kematian" (HR Muslim).

Ketiga, selalu merasa diawasi Allah SWT. Ibnu Taimiyah berkata, "Hati adalah rumah Allah SWT, dan hati tidak akan mungkin baik, atau jujur atau tetap hidup bersama Allah SWT, kecuali jika ia merasa bahwa Allah SWT. senantiasa mengawasinya". Keempat, bergabung bersama orang-orang yang selalu mengingat Allah, Bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari (QS Al-Kahfi [18]: 28).

Hikmah khauf

Kisah di atas, secara sederhana memperlihatkan hikmah takut kepada Allah SWT. Orang yang memiliki rasa khauf, akan senantiasa berhati-hati dalam bertindak. Seorang hakim misalnya, sebelum memutuskan sebuah perkara ia akan beristikharah terlebih dahulu, khawatir putusannya itu tidak adil. Demikian pula seorang pemimpin, berbagai kebijakan yang akan dijalankannya dipikir terlebih dahulu, Allah ridha atau tidak?

Khauf juga akan menumbuhkan sikap istikamah dalam beramal. Bukan saja mempertahankan amal ibadahnya, ia juga akan berusaha dengan optimal meningkatkan mutu ibadahnya itu. Kalau khauf sudah tertanam di jiwa, maka akan terbentuk generasi yang jujur, giat, dan teguh dalam beramal. Wallahu a'lam.

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement