Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Saudi Tetap Tolak Kunjungan Warga Israel

Selasa 28 Jan 2020 08:45 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Muhammad Hafil

Saudi Tetap Tolak Kunjungan Warga Israel. Foto: Riyadh, Ibu Kota Arab Saudi

Saudi Tetap Tolak Kunjungan Warga Israel. Foto: Riyadh, Ibu Kota Arab Saudi

Foto: AFP
Saudi tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menyatakan, warga Israel tidak diperbolehkan mengunjungi negara tersebut Senin (27/1). Pernyataan ini menentang lampu hijau Menteri Dalam Negeri Israel Aryeh Deri untuk warganya dapat melakukan perjalanan ke Saudi dalam kunjungan keagamaan dan bisnis.

Laporan CNN Arab, Pangeran Faisal mengatakan, warga Israel tidak diterima saat ini di Arab Saudi, rumah bagi situs-situs suci Islam. Seperti kebanyakan negara Arab, Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

"Kebijakan kami konstan. Kami tidak memiliki hubungan dengan Israel dan pemegang paspor Israel tidak dapat mengunjungi kerajaan untuk saat ini," kata Pangeran Faisal, dikutip dari Aljazirah.

Deri mengatakan, orang Israel, baik Muslim atau Yahudi, akan diizinkan untuk melakukan perjalanan ke Arab Saudi. Perjalanan itu bisa dilakukan dalam dua keadaan, yaitu untuk alasan keagamaan seperti haji, atau untuk alasan bisnis hingga 90 hari. Meski memberikan izin, mereka masih perlu izin dari otoritas Saudi.

Israel memiliki hubungan diplomatik hanya dengan dua negara Arab, Yordania dan Mesir. Pendudukan atas wilayah Palestina telah lama menjadi faktor utama yang mencegah perjanjian serupa dengan negara-negara Arab lainnya, termasuk Saudi.

"Ketika sebuah perjanjian damai antara Palestina dan Israel tercapai, pertanyaan tentang integrasi Israel di wilayah itu akan dibahas [untuk negosiasi] saya percaya," ujar Pangeran Faisal.

Komentarnya muncul ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan memiliki rencana untuk kesepakatan antara Palestina dan Israel. Namun, penawaran yang kemungkinan lebih condong ke Israel itu telah ditolak oleh Palestina.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA