Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Inspirasi dari Ayat Bencana

Sabtu 25 Jan 2020 09:10 WIB

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Muhammad Hafil

Inspirasi dari Ayat Bencana. Foto: Bencana alam (ilustrasi).

Inspirasi dari Ayat Bencana. Foto: Bencana alam (ilustrasi).

Foto: Antara/Embong Salampessy
Alquran membicarakan banyak hal, termasuk soal bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah

Baca Juga

Ayat Alquran membicarakan banyak hal, mulai dari prapenciptaan hingga kiamat. Bencana merupakan topik yang juga disinggung Allah dalam firman-Nya. Ayat tersebut kini menjadi pembicaraan masyarakat baik dalam forum tatap muka maupun media sosial.

Di antara teks Alquran yang kerap mereka kutip adalah surah al-Isra' ayat ke-16 yang berbunyi: "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."

Dalam bacaan Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, mantan imam besar al-Azhar, seperti tertuang dalam kitab tafsirnya, al-Wasith, mengutip pendapat Abu Hayyan, ayat ini sebagai penegasan tentang pentingnya memeluk hidayah, setelah Allah SWT mengutus rasul kepada suatu kaum. Korelasi (munasabah) ayat ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya menguatkan hal tersebut.

Ayat ke-15 surah al-Isra' menyatakan, "Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah) maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."

Membacanya dengan kerangka munasabah, ayat ke-15 berbicara bahwa Allah menegaskan tidak akan turun azab kepada suatu kaum, sampai Dia mengutus seorang rasul yang menunjukkan jalan yang hak dan batil. Apabila seorang rasul telah diutus, (di sinilah korelasi ayat 15 dan 16) lalu para pembesar dan kaumnya melakukan kefasikan berupa mengingkari risalah, itulah faktor pemicu datangnya azab yang meluluhlantakkan peradaban.

Allah tidak main-main dengan janji-Nya, sebagaimana dijelaskan berupa bukti hancurnya peradaban kaum yang datang setelah Nabi Nuh AS dalam ayat ke-17, masih dalam surah yang sama. Dan berapa banyak kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.

Di sinilah letak korelasi ketiga ayat tersebut dalam kerangka tafsir, bukan berangkat dari pembacaan sporadis dan parsial, berbekal terjemahan Alquran bahasa Indonesia. Dalam konteks ini, tak heran jika sebagaian ulama berpendapat ayat ini hanya berlaku secara khusus, bagi umat-umat terdahulu. Dengan demikian, dalam membaca gempa maupun tsunami, keduanya bukanlah bentuk "siksa" terhadap kaum umat Muhammad SAW.

Intelektual Mesir, Syekh Abd Shabur as-Syahin, bahkan membaca kejadian-kejadian alam yang terjadi akhir-akhir ini tak lebih dari sekadar fenomena alam biasa. Akal manusia tak akan mampu menangkap maksud mengapa Allah mendatangkan gempa dan tsunami di negara- negara berpenduduk Muslim, pada saat yang sama, negara-negara yang tak memeluk Islam aman-aman saja dari terpaan bencana.

Menurut pembacan Syekh Syahin, beragam azab mulai dari angin topan, gempa bumi, banjir bandang, hujan batu, dan lain sebagainya, yang menimpa kaum Tsamud, 'Ad, Syua'ib, Luth, terjadi dalam dimensi ruang dan waktu yang terbatas. Azab tersebut turun akibat maksiat berupa pengingkaran mereka atas risalah tauhid, pada awal peradaban Islam mengemuka.

Tentu tak apple to apple membandingkan peradaban masa lalu dan masa kini yang sudah dihuni miliaran Muslim dengan azab berupa fenomena alam. Meminjam istilah ushul fiqh, komparasi bencana pada dua peradaban yang berbeda tersebut dengan ragam anasirnya adalah qiyas ma' al fariq, sebuah analogi yang cacat dan sudah pasti salah (batil)!

Di satu sisi, seandainya kita berkeyakinan jika tiada apa pun di dunia ini tanpa ada hikmah dan pesan ilahiyah, termasuk datangnya bencana yang bertubi-tubi adalah sebab kemaksiatan dan kesalahan, tentunya bencana yang ada merupakan buah kolektif bersama, akibat dosa yang kita perbuat bersama, bukan ulah seorang saja.

Dalam tafsirnya, Adhwa' al-Bayan fi Tafsir al- Quran, Syekh as-Syanqithi justru secara tegas menyebutkan makna kata muthraf (para pembesar, elite) dalam ayat ke-16 surah itu sejatinya kesalahan tak hanya bertumpu pada elite, tetapi juga mencakup keseluruhan kaum yang kerap bermaksiat.

Mengapa hanya elite yang disebutkan dalam ayat tersebut? Karena biasanya dalam konteks sejarah peradaban masa lalu, akar rumput akan mengikuti para elitenya dalam hal bermaksiat. Karena itulah cukup disebutkan muthraf.

Dalam sebuah hadis sahih, riwayat Zainab binti Jahsy, Rasulullah pernah ditanya sahabat, apakah segenap umat yang saleh akan ter imbas kebinasaan akibat Ya'juj dan Ma'juj? Rasul menjawab, Ya jika kemaksiatan merajalela.

Menurut Syekh Zahglul an-Najjar, dalam konteks masa sekarang, sebagai pembacaan atas pesan sebuah bencana, pada dasarnya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan topan merupakan "tentara" Allah yang diutus sebagai peringatan bagi mereka yang selamat; bagi orang yang saleh, ia merupakan ujian; sementara bagi mereka yang bermaksiat, bencana merupakan sebuah ganjaran. Semoga kita semua mengambil ibrah dari berbagai bencana yang terjadi di negeri ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA