Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Nabi Muhammad SAW Tanggapi Santai Lawan Debat Meski Kafir

Sabtu 25 Jan 2020 08:00 WIB

Rep: MgRol 127/ Red: Nashih Nashrullah

Nabi Muhammad SAW tak pernah mencaci lawan debatnya. Rasulullah SAW (ilustrasi)

Nabi Muhammad SAW tak pernah mencaci lawan debatnya. Rasulullah SAW (ilustrasi)

Foto: republika
Nabi Muhammad SAW tak pernah mencaci lawan debatnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Perdebatan merupakan hal yang sering kita temui di dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, perbedaan dan perselisihan memang akan terus terjadi. Walaupun demikian, sebagai seorang Muslim hendaknya terus menjaga ihsan. 

Baca Juga

Sebagaimana dalam firman Allah dijelaskan: “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an Nahl: 125)

Marilah kita belajar dari kisah Nabi SAW bagaimana beliau berdialog. Amru Khalid menceritakannya dalam buku Semulia Akhlak Nabi.

Kala itu, Utbah bin Rabi’ah mendatangi  Nabi Muhammad SAW. Ketika itu beliau masih tinggal di Makkah saat kaum mulsimin menerima berbagai siksaan yang berat.  

Utbah datang untuk membujuk Nabi SAW dengan menawarkan segelimang harta supaya beliau mau meninggalkan dakwahnya.  

Selain itu, beliau pun menawarkan istri, kedudukan, serta tabib pribadi sebagai antisipasi beliau mengidap penyakit jiwa. Semua itu Utbah lakukan agar Nabi Saw mau meninggalkan dakwahnya.

Kemudian, Nabi SAW menjawabnya dengan tenang. “Aku akan mendengarkan apa yang kau katakan, wahai Abu al-Walid.”

Lalu, Utbah kembali melanjutkan bicaranya itu. Setelah selesai bicara, Nabi SAW pun angkat bicara. “Apakah engkau telah selesai dalam bicara, wahai Abu al-Walid?” tanya beliau SAW dengan santun.

Hadis tersebut diriwayatkan al-Hindi no 35428 dan as-Suyuthi dalam ad-Dur al-Manstsur V/358.

Betapa tenang dan santunnya beliau SAW menghadapi lawan bicaranya dalam berbedat. Padahal, apa yang dikatakan Utbah bin Rabi’ah  saat itu adalah cercaan dan hinaan. Akan tetapi, lihatlah Nabi Saw yang mau mendengarkan semua apa yang Utbah katakan.

Jika kita berada di posisi Nabi SAW, apakah kita akan setenang itu? Seringkali perdebatan dan perselisihan membuat seseorang tidak terkendali dalam emosinya. Maka dari itu, teladanilah sifat Nabi yang ihsannya masih tetap terjaga meski dalam dialog dan perdebatan sekali pun.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA