Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Kedudukan Saksi dalam Pandangan Islam

Jumat 24 Jan 2020 08:25 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah

Kedudukan Saksi dalam Pandangan Islam

Kedudukan Saksi dalam Pandangan Islam

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Para ulama berselisih pendapat mengenai boleh tidaknya menghadirkan saksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ulama saling berselisih pendapat mengenai boleh tidaknya menghadirkan suara saksi antara pihak tergugat dan yang menggugat.  Menurut Imam Abu Hanifah, saksi tidak perlu didengar kecuali dalam urusan nikah dan perkara-perkara lain yang tidak berulang.

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd dijelaskan, menurut sebagian ulama yang lain, saksi tidak perlu didengar sama sekali. Namun begitu, bagi Imam Malik dan Imam Syafi'i, suara saksi perlu didengar. Alasannya, agar saksi dapat memberikan kesaksian kepada penggugat mengenai hal yang diketahuinya.

Menurut Imam Abu Hanifah, letak kekuatan saksi tidak pada keadilannya. Namun menurut Imam Malik, tidak pada jumlahnya. Sedangkan menurut Al-Jauza'i hal itu terletak pada jumlahnya. Dan apabila seluruh saksi sama-sama adil, maka menurut Imam Malik, keberadaan saksi-saksi itu menjadi tidak berguna.

Hal itu karena pihak tergugat telah diambil sumpahnya. Jika ia menolak maka penggugatlah yang bersumpah. Sehingga hak itu menjadi milik penggugat sebab posisi tergugat adalah sebagai saksi atau buktinya.

Namun, seluruh ulama sepakat, jika tergugat menyanggah saksi sebelum ada keputusan, maka keputusannya itu batal. Tapi jika ia menyanggahnya sesudah ada keputusan, menurut Imam Malik, maka keputusan itu tidak batal. Sedangkan menurut Imam Syafi'i, itu batal.

Jika si saksi menarik kembali kesaksiannya, maka harus dilihat dulu apakah ia melakukan ini sebelum atau sesudah keputusan dijatuhkan. Kalau sebelumnya, maka menurut sebagian besar ulama, keputusan ini berlaku tetap.

Tak hanya mengenai hal itu, hakim juga perlu memperhatikan waktu yang tepat untuk mengadili. Di antaranya, mempertimbangkan kondisi internal psikis si hakim itu sendiri apakah siap atau belum untuk mengadili.

Kondisi psikis seorang hakim juga dapat berkontribusi pada sikap keputusan yang diambil. Kondisi psikis hakim yang baik ketika mengadili berpotensi memahami persoalan secara jernih, sedangkan jika sebaliknya maka dikhawatirkan keputusan yang diambil akan tak berimbang.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA