Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Produktivitas Cabai Semarang Masih Terkendala Cuaca Ekstrem

Senin 20 Jan 2020 12:20 WIB

Rep: Bowo S Pribadi/ Red: Dwi Murdaningsih

Stok cabai diperkirakan membaik pada bulan depan. Foto: Pedagang melayani pembeli cabai di kawasan Pasar Bina Usaha Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (15/1/2020).

Stok cabai diperkirakan membaik pada bulan depan. Foto: Pedagang melayani pembeli cabai di kawasan Pasar Bina Usaha Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (15/1/2020).

Foto: SYIFA YULINNAS/ANTARA FOTO
Stok cabai diperkirakan membaik pada bulan depan.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Dampak cuaca ekstrim yang terjadi di wilayah Kabupaten Semarang, awal Januari ini ditengara turut mempengaruhi pasokan sejumlah komoditas hortikultura. Salah satunya adalah komoditas cabai.

Curah hujan yang cukup tinggi telah mempengaruhi produktifitas tanaman cabai, di tingkat petani. Pasokan sejumlah jenis cabai untuk Terminal Agribisnis Jetis, Kecamatan Bandungan pun ikut terganggu.

Ijeh angel lombok iki mas (red; masih sulit cabai untuk saat ini mas,” ucap Suryati (38), salah seorang perantara pedagang sayuran, di Terminal Agribisnis, Jetis, kepada Republika.co.id, Ahad (19/1).

Ia mengungkapkan, untuk bisa mendapatkan cabai satu kuintal dari petani pada saat ini bukan persoalan yang mudah. Pasokan dari petani sedang menurun sejak awal bulan Januari 2020 lalu.

Umumnya, petani masih menunggu kondisi cuaca yang lebih memungkinkan untuk bisa menanm cabai. “Kalau awal tahu selalu begini, masalahnya petani juga menghindari curah hujan tinggi,” jelasnya.

Kalaupun ada petani di Kecamatan Bandungan yang sudah menanam cabai, sekarang ini juga belum waktunya panen. Paling tidak dalam satu bulan ke depan para petani baru bisa panen cabai di ladang mereka.

Artinya, stok cabai dari petani diperkirakan bakal berangsur membaik, sekitar bulan depan. “Kalau sekarang, stok cabai masih kurang terus, tak terkecuali di Terminal Agro Jetis ini,” tambahnya.

Sementara itu, Jarno (44), petani di Dusun Ampelgading, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan mengaku baru menanam tanaman cabai karena memang menunggu curah hujan yang tidak ekstrim.

Saat ini, usia tanaman cabai yang dibudidayakan secara tumpangsari dengan bunga mawar masih berusia 10 hari. Idealnya untuk panen tanaman cabai tersebut membutuhkan waktu paling cepat 65 hari.

Sehingga, setidaknya masih membutuhkan waktu dua bulan lagi tanaman cabai untuk dapat dipanen. “Sehingga, kalau sekarang ini, produktifitas cabai di tingkat petani memang belum banyak,” katanya.        

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Susianto (30), petani di Dusun Pagergedog, Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru. Menurutnya, pada masa awal musim penghujan petani di wilayahnya –umumnya-- memang belum menanam cabai.

Petani memilih menanam tanaman hortikultura yang cenderung lebih tahan terhadap curah hujan tinggi. “Dibandingkan tanaman cabai, umumnya petani masih memilih tanaman kubis atau jenis sawi,” jelasnya.

Karena, petani menghindari jenis- jenis tanaman yang mudah rusak kalau curah hujan masih cukup tinggi. “Sehingga wajar jika di tingkat pedagang harga cabai kembali melonjak, karena stok dari petani memang menurun,” tambahnya.

Data yang dihimpun Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perindag) Provinsi Jawa Tengah per tanggal 19 Januari 2020 menunjukkan, harga cabai rawit merah di lima pasar rakyat utama masih berada pada kisaran harga Rp 62.000 hingga Rp 70.000 per kilogram.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA