Jumat 17 Jan 2020 04:15 WIB

Korban Serangan Masjid Christchurch Terancam Jadi Tunawisma

Korban serangan Masjid Christchurch kesulitan mencari rumah yang terjangkau.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah
Seorang korban selamat dari insiden serangan di masjid di Christchurch di Selandia Baru Mohammad Sahadat dan empat anaknya terancam jadi tunawisma.
Foto: CHRIS SKELTON/STUFF
Seorang korban selamat dari insiden serangan di masjid di Christchurch di Selandia Baru Mohammad Sahadat dan empat anaknya terancam jadi tunawisma.

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Seorang korban selamat dari insiden serangan di masjid di Christchurch di Selandia Baru menghadapi masa depan yang tidak jelas. Mohammad Sahadat beserta istri dan keempat anaknya terancam menjadi tunawisma dalam dua pekan mendatang.

 

Baca Juga

Insiden serangan yang terjadi di masjid pada 15 Maret 2019 itu telah membuat hidup Sahadat berubah. Sahadat baru berada di Selandia Baru selama tiga bulan ketika ia ditembak di Masjid Linwood dalam serangan yang menewaskan setidaknya 50 orang. Saat itu, ia bekerja menjadi koki di restoran India Bawarchi.

Sahadat mengalami serangan panik dan tidak lagi bisa bekerja setelah kehilangan fungsi lengannya. Ia akan menjalani operasi besar pada 10 Februari mendatang.

Sahadat sebelumnya diberikan status sebagai penduduk tetap pada September 2019 lalu di bawah visa khusus yang dibuat sebagai respons atas serangan tersebut. Namun, kini ia kesulitan mencari rumah yang terjangkau bagi keluarganya.

Mereka harus mengosongkan rumah sementara mereka di Linwood Park Village pada 31 Januari 2020. Rumah-rumah di sana dihilangkan karena lokasi tersebut akan dijadikan taman kembali.

Agar memenuhi syarat untuk perumahan publik, pelamar harus tinggal di Selandia Baru selama dua tahun sejak tanggal mereka diberikan izin tinggal. Kementerian Pembangunan Sosial (MSD) sebenarnya sedang berusaha mencarikan keluarga itu persewaan pribadi atau mungkin rumah sementara.

Sebelum serangan teror terjadi, Sahadat memang telah merencanakan mimpinya pindah dari India dan tinggal di Selandia Baru. Ia lantas menabung dan membawa istrinya, Tarnnum Praveen, dan empat anak mereka ke negara itu.

Keempat anaknya kini berusia 11, sembilan, tujuh, dan lima tahun. Melalui penerjemah, Sahadat mengungkapkan ia telah merencanakan dan mempertimbangkan selama bertahun-tahun untuk datang ke sana.

"Dia menjalani kehidupan yang baik, pekerjaannya baik, dia memiliki kehidupan yang memuaskan, berjalan mulus dan mudah, dan kemudian serangan itu terjadi," kata penerjemah itu, seperti dilansir di Stuff, Kamis (16/1).

Sahadat pindah dari negaranya karena berharap anak-anaknya akan mendapatkan kesempatan untuk masa depan yang baik, dibandingkan di desa mereka yang kesempatannya terbatas.

"Saya berusaha memberi anak-anak saya segalanya yang tidak saya dapatkan, pendidikan dan kehidupan yang baik," ujarnya.

Sahadat sebelumnya pernah tinggal dengan koleganya dan membayar sewa. Keluarganya kemudian tiba setelah ia terluka dan mereka kemudian pindah ke rumah temannya, lalu menghabiskan 22 hari di sebuah motel. Akhirnya, mereka menempati rumah di Linwood Village dengan biaya 100 dolar sepekan.

Ia menerima sumbangan dari lembaga-lembaga. Namun, uang itu telah digunakan untuk menghidupi keluarganya selama 10 bulan cuti. Ia kemudian menerima sebesar 470 dolar sepekan dalam pembayaran ACC.

Saat ini, istri dan anak-anaknya tengah mengupayakan untuk mendapatkan visa kepada pihak berwenang. Namun, yang paling mendesak justru adalah urusan rumah bagi keluarganya.

"Saat ini saya sedang stres. Saya harus meninggalkan rumah dalam 15 hari," kata Sahadat.

Ia tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). Karena itu, ia mencari rumah yang dekat dengan masjid dan sekolah. Sahadat ingin pemerintah membuat pengecualian terhadap aturan tinggal dua tahun bagi korban serangan masjid yang tidak mampu membayar harga sewa pribadi. Aturan MSD menyatakan persyaratan dapat dicabut jika pemohon menerima manfaat utama, tetapi tidak ACC.

Komisioner regional Diane McDermott mengatakan, berhubungan dekat dengan Sahadat dan keluarganya untuk menyediakan semua bantuan yang tersedia, agar mereka pulih dari tragedi 15 Maret 2019. Hal itu termasuk membantu mereka menemukan akomodasi sewaan pribadi. Penasihat perumahan senior Bob Hardy mengatakan, Otautahi Community Housing Trust, yang memiliki rumah-rumah di Linwood Park, bekerja dengan MSD dan penyewa untuk memastikan mereka yang dipindahkan mendapatkan rumah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement