Rabu, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 Februari 2020

Rabu, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 Februari 2020

Tersengat Sensasi Pedas Sambal Blacan Di Jalur Sutra

Jumat 17 Jan 2020 05:11 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Para sauddagar menjual rempah-rempah.

Para sauddagar menjual rempah-rempah.

Foto: Uttiek M Panji Astuti
Makanan Melayu di Perkenalkan orang Malaysia

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveller dan Penulis Buku

“Mau sambal balacan?” Tanyanya ramah yang langsung saya jawab dengan antusias, “Mauuu!”

Selama dua minggu keliling Asia Tengah, saya nyaris belum ketemu sambal. Bukanya tidak cocok dengan citarasa makanannya, karena makanan di sini juga lezat. Beberapa malah menjadi favorit saya, seperti nasi pilaf dan laghman.

Tapi sebagai penyuka pedas, setelah dua minggu rasa makanannya menjadi terlalu “flat” buat saya. Tidak ada sensasi yang membakar lidah dan membuat dahi berkeringat.

Pernah sekali di tengah perjalanan, saya, Lambang dan Sanjar memesan menu yang namanya dapanji. Ini Chinesse food yang sangat populer di Urumqi. Karena di Asia Tengah banyak restoran Uighur, maka menu ini juga tersedia di sini.

Secara bahasa dapanji artinya panci besar. Terdiri dari potongan ayam yang dimasak pedas dengan cabai yang berlimpah. Rasanya lumayan menyengat. Hanya, porsinya pasti besar. Sesuai namanya.

Problemnya, Lambang dan Sanjar tidak bisa makan pedas sama sekali. Lambang bermasalah dengan pencernaannya kalau kena pedas. Sedang Sanjar memang tidak terbiasa dan tidak menyukai sensasi pedas.

Walhasil, hidangan dalam porsi generous itu akhirnya tersisa banyak. Saya tak mungkin menghabiskannya sendiri.

Gambar mungkin berisi: makanan

Di hari terakhir di Tashkent menjelang ke airport itulah saya baru mendapat tawaran sambal belacan. Rasanya seperti ketemu air di tengah gurun pasir.

Tawaran itu datang dari Pak Cik Kamaruldzi, staf Restoran Nur Malaysia. Jaringan restoran dari Malaysia ini ada di beberapa kota besar di dunia. Seperti, Inggris, Australia, Jordan, Kairo, dan yang terbaru di Tashkent yang baru dibuka sekitar dua bulan lalu.

Menu yang disediakan antara lain, nasi lemak, nasi goreng, mee goreng Mamak, mee Bandung, kari kepala ikan, sate, hingga makanan khas Uzbekistan seperti nasi pilaf dan shashlik.

“Ini belacan didatangkan dari Malaysia?” Tanya saya. Yang dijawab dengan anggukan kepala. “Tiap bulan kami mendatangkan sekitar 2 kg,” jawabnya antusias.

Pak Cik Kamaruldzi ini sangat ramah. Ia menemani kita makan sambil ngobrol. Bahkan di tengah obrolan ia panggilkan istrinya. Seorang Muslimah yang berasal dari Cocos Island, Australia.

Saya langsung merasa akrab, karena leluhur Mak Cik Kamaruldzi ini berasal dari Jawa yang dibawa pada masa kolonial ke Cocos Island. Ia adalah generasi ketiga. Dengan orangtuanya ia masih bercakap dalam bahasa Melayu.

Kalau sedang berada di kota Tashkent dan ingin merasakan pedasnya sambal beraroma belacan, bolehlah mampir ke restoran yang beralamat di 41/6, street Mirabad, Mirabad district Tashkent City ini.

Gambar mungkin berisi: makanan

Pedasnya cabai rawit yang digunakan dalam sambal sebenarnya “tak seberapa”. Ada satuan tingkat kepedasan yang digunakan sebagai acuan di dunia.

Namanya skala Scoville. Diambil dari nama Wilbur Scoville yang mengembangkan Tes Organoleptic Scoville pada 1912.

Cara mengukurnya, di dalam cabai mengandung capsaicin. Yakni, zat yang merangsang ujung saraf penerima pedas di lidah.

Jumlah satuan pedas Scoville menunjukkan jumlah capsaicin yang terdapat dalam cabai. Angkanya antara 0-15 juta. Umumnya, cabai yang sering kita konsumsi memiliki tingkat kepedasan 50-100 ribu skala Scoville.

Di atas itu, tercatat ada beberapa jenis cabai yang masuk kategori super pedas. Yakni Datil Pepper dari Florida dengan tingkat kepedasan 100-300 ribu skala Scoville.

Red Savina Habanero dari Meksiko dengan tingkat kepedasan 100-350 ribu skala Scoville. Lalu ada Naga Bhut Jolokia dari Bangladesh dengan tingkat kepedasan 330 ribu-1juta skala Scoville.

Dan rekor cabai terpedas di dunia saat ini dipegang Naga Viper dari Inggris dengan tingkat kepedasan 1,3 juta skala Scoville.

Mengonsumsi cabai dalam jumlah tertentu bermanfaat untuk kesehatan. Di antaranya, capsaicin dalam cabai efektif menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL).

Vitamin A dan C yang terkandung dalam cabai mampu memperkuat dinding otot jantung. Sensasi hangat dari capsaicin dapat meningkatkan sirkulasi darah. Capsaicin juga membantu mencegah pembekuan darah.

Menariknya, rasa pedas ini efektif untuk membakar lemak tubuh. Karena capsaicin memiliki efek termogenik, yakni membuat tubuh membakar ekstra kalori selama dua puluh menit setelah makan. Wah, cocok ya untuk yang sedang berdiet!

Bagi orang Indonesia, rasanya tidak ada yang istimewa dengan rasa pedas yang dihasilkan oleh cabai dan aneka rempah-rempah dalam masakan. Karena nyaris setiap hari kita menikmatinya.

Padahal secara tidak langsung, sengatan rasa pedas inilah yang mengantarkan para penjajah ke Nusantara.

Seperti yang ditulis Ust Salim A Fillah dalam buku terbarunya “Sang Pangeran dan Janissary Terakhir”.

Syahdan, Sultan Muhammad Al Fatih, dan nanti dikukuhkan oleh putranya Bayazid II mengambil sebuah keputusan yang berdampak bagi sebuah jazirah yang berjarak ribuan mil dari tahtanya.

Keputusan itu adalah menutup Spice Bazaar atau pasar rempah-rempah di Istanbul yang dimaksudkan untuk mematikan langkah Genoa dan Venesia.

Keduanya kerajaan itu adalah penyokong utama kaisar terakhir Byzantium, Konstantin XI Palaelogos. Genoa dan terutama Venesia adalah pembeli utama rempah-rempah dari dunia timur di Konstantinopel.

Selanjutnya, para tengkulak dunia akan berbelanja rempah-rempah di sana untuk dipasarkan di Eropa Barat dengan harga yang sama mahalnya dengan emas.

Jatuhnya Konstantinopel dan penutupan Spice Bazaar mendorong penjelajahan oleh bangsa-bangsa Eropa Barat untuk mencari negeri asal rempah-rempah.

Nama-nama seperti Bartholemeus Diaz, Vasco Da Gama, Alfonso D’Albuquerque, Christopher Columbus, hingga Ferdinand Magelhaens dan Juan Sebastian De’l Cano lalu menjadi nama baru yang menghiasi buku sejarah.

Dengan ditemukannya negeri penghasil rempah-rempah, Spice Bazaar yang tadinya berpusat di Istanbul bergeser ke Lisabon dan disusul Amsterdam.

Namun, tentu saja keputusan penutupan Spice Bazaar itu bukanlah faktor tunggal yang mendorong kolonialisme di dunia.

Masalah utamanya adalah ketamakan penjajah Barat itu melampaui tujuan awal mereka menemukan negeri penghasil rempah.

Jadi, berapa harga cabai hari ini?

Jakarta, 16 Januari 2020

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA