Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

kiamat

Rebu Wekasan, Kiamat: Kultus Hari Sial Dalam Ajaran Islam

Kamis 16 Jan 2020 11:13 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Hari Kiamat (Ilustrasi)

Hari Kiamat (Ilustrasi)

Adakah ada ajaran Islam soal hari-hari sial?

Oleh: KH Didin Sirojuddin AR, Pengasuh Pondok Pesantren Lembaga Kaligrafi (Lemka)

Kita lebih mengenal hari Jum'at sebagai سيدالأيام / sayyidul ayyam atau "penghulu hari" dengan  keutamaan-keutamaannya. Begitu kata Baginda Nabi SAW. Tidak ada "hari sial" seperti Rabu malapetaka atau Selasa & Sabtu sial.

Jika Kiamat disebut  "malapetaka", kejadiannya justeru di hari Jum'at yg mulia. Waktu kuliah jaman dulu, kalau saya PP Jakarta-Kuningan, malah sengaja pilih-pilih hari Selasa/Sabtu, karena bus kosong dari pedagang Jakartaan. Mereka takut terkena sial.

Tapi, memang, disebutkan dalam kitab السّبعِيّات فى مواعيظِ البرّيّات / Assab'iyyat fi Mawa'izhil Barriyyat,  bahwa tenggelamnya Firaun dan terkuburnya Qarun terjadi hari Rabu. Ini juga tidak berarti hari Rabu itu buruk, meskipun beberapa peristiwa buruk terjadi hari Rabu.  Sebab,  banyak Pengajian Reboan yang memilih Rabu sebagai hari baik untuk pangaosan ilmu. Duuuh, berarti, Rabu dan hari-hari lainnya sama-sama  baik dengan Jum'at sebagai hari terbaiknya.

Kalangan kejawen ada yang suka bikin-bikin kultus yang mendiskreditkan. Selain hari Rabu penuh celaka,  Malam Jum'at yang jelas-jelas mulia, kalau kliwonan sering  dibayangkan seram penuh setan, jurig, gendruwo, memedi, tuyul,  kuntil anak, kuntil bapak, dan makhluk-makhluk  lelembut lainnya.

Dari sini dikenallah Shalat  Rebo Wekasan, sebuah tradisi ritual yang dilaksanakan hari Rabu terakhir (Rebo wekasan) di bulan Safar terutama di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura, untuk meminta perlindungan Allah dari berbagai malapetaka (ada yang menyebutkan 320.000 jenis malapetaka) yang terjadi hari Rabu.

Bahkan beberapa ulama mengaitkan dengn ayat ini:

يَــوْمَ نَحْـــسٍ مُسْـــتَمِرٍ
 ("Hari berlanjutnya pertanda buruk") untuk merujuk ke hari Rabu.

Tradisi Shalat Rabu Wekasan ini berasal dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi (1151 H) dalam kitabnya فتح الملك المجيد المؤلف لنافع العبيد وقمع كل جبارعنيد yang sering disebut مجربات الديربى / Mujarrobat Ad-Dairobi. Anjuran serupa termaktub dalam kitab الجواهرالخمس / Al-Jawahirul Khamsu karangan Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-Attar (w 970 H).

Tapi, shalat Rebo Wekasan tak punya  dasar hukum dan karenanya  dinyatakan haram, kecuali diisi shalat muthlaq atau shalat hajat. Fatwa haram juga tertuang dalam Muktamar NU ke-25/1971 di Surabaya dan Muktamar NU th. 1978 di Magelang. Hadratusy Syeikh K.H.M. Hasyim Asy'ari, menjawab pertanyaan seputar masalah itu, menyatakan Shalat Rebo Wekasan tak ada dasarnya.

Yang paling tepat tentulah mengikuti sunnah Nabi, para sahabat, dan pejuang Islam selama hidup mereka yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah, tidak pernah kenal "ririwa", rintangan   atau hal-hal menakutkan pengganggu seperti itu. Mana pula mereka membawa-bawa jimat (tuch seperti calon-calon PNS yang terrazia saat test beberapa waktu lalu.

Alkisah, ketika Imam Ali ra diberi laporan banyak  kuntilanak di sebuah sumur tua, dia malah nantang:  "Mana memedinya? Akan aku cincang-cincang!!!" -- Menurut cerita tersebut, Ali membabat iblis-iblis itu di tempat yang akhirnya dikenal dengan بئرعلى / Bir Ali atau Sumur Ali sekarang.

RABU atau REBO, orang Arab menyebutnya الأربعاء / Arbi'a yang berarti EMPAT, karena merupakan hari ke-4 bila dihitung dari hari pertama:  الأحد / Ahad (satu), hari kedua:  الإثنين / Isnain (dua), hari ketiga:   الثلاثاء / Sulasa (tiga), lalu hari keempat: الأربعاء / Arbi'a/Rabu' (empat), hari kelima:  الخميس / Khamis (lima), hari keenam:   الجمعة / Jumu'ah (kumpul-kumpul), dan hari ketujuh:  السبت / Sabtu (istirahat).

Bagi pelajar KALIGRAFI, kata Rabu dan Rebo  menguntungkan, karena sesuai  dengan kata رُبْع / Rub'u (yang berarti seperempat), sebagai "angka pembagi" dari unit tulisan indah. Coba kita dengarkan senandung ربع الكتابة / Rub'ul Kitabah (Seperempat Tulisan) seorang penyair berikut:

رُبْعُ الكتابةِ فى سوادِمِدادِها #
والرّبعُ حُسْنُ صِناعةِ الكتَّابِ
والربع فى قلمٍ تُسَوّى بريَه #
وعلى الكواغِدرابعُ الأسبابِ

"SEPEREMPAT tulisan ada pada hitam tintanya #
SEPEREMPAT: indahnya ciptaan sang penulis.
SEPEREMPAT terletak pada pena yang engkau serasikan potongannya #
Dan pada kertas-kertas ada faktor KEEMPAT.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA