Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Piter, Mantan Preman Masuk Islam: Bersyukur Jadi Muslim

Selasa 14 Jan 2020 09:58 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Piter Yosias Gerrits bersyukur memeluk Islam.

Piter Yosias Gerrits bersyukur memeluk Islam.

Foto: Ratna Ajeng Tejomukti/Republika
Piter Yosias Gerrits bersyukur mengenal Islam dan menjalani agama ini.

REPUBLIKA.CO.ID, Pria paruh baya ini memiliki perawakan tinggi tegap. Dengan tato yang terlukis di sekujur tubuhnya, tidak ada yang menyangka dia bertugas sebagai marbot dan muadzin masjid.

Baca Juga

Tidak heran, karena dia pernah menjadi preman yang keluar masuk penjara di masa lalunya. Pria berdarah Ambon ini menjadi marbot di Masjid Al Hidayah, Jl Tanjung Lengkong, Bidara Cina dua tahun terakhir.

Seperti anak kecil lainnya, masa kecil pria bernama lengkap Piter Yosias Gerrits ini dilalui dengan kebahagian. Piter memiliki banyak teman semasa kanak -kanak hingga sekolah. Meski saat itu dia beragama Kristen, justru dia bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam.

Piter tidak asing dengan masjid dan kegiatan di masjid, karena memang sejak kecil dia bermain di lingkungan masjid. Sehingga dia tidak heran cukup akrab dengan kegiatan di masjid meski tidak menjalaninya. 

Berbeda dengan agama yang dianutnya, pria kelahiran  31 Januari 1964 ini mengaku tidak pernah sekalipun pergi beribadah. Dia beralasan karena perlakukan orang-orang di sekitarnya yang membuatnya enggan beribadah.

Berasal dari keluarga yang kurang mampu, membuatnya dipandang sebelah mata. Begitu juga saat dia bergaul dan beribadah, sehingga dia lebih nyaman bergaul dengan orang-orang Islam.  

"Muslim tidak pernah menghina saya, malah saya dirangkul mereka. Mereka menganggap saya anak seperti pada umumnya, tidak pernah ada yang membeda-bedakan," jelas dia. 

Menjadi anak dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, membuatnya tidak dapat melanjutkan sekolah. Dia pun merantau ke Jakarta sekitar 1980-an. Karena tidak memiliki keahlian lain, dia mengikuti kerabatnya di Jakarta. Namun pergaulannya tidak sebaik semasa kecilnya, dia bergaul dengan teman-teman dari dunia hitam.

Segala hal kejahatan pernah dia lakukan kecuali membunuh. Dia sering bermabuk-mabukkan, memeras setiap orang yang berpapasan dengannya, bahkan dia sempat menjadi pecandu narkoba.  "Tato yang ada di badan saya ini sebenarnya untuk menutupi bekas suntikan morphine yang saat itu digunakan,"kisahnya pada Republika.co.id, Rabu (8/1).

Berbagai kejahatan yang dia lakukan ini membawanya menjadi seorang pesakitan. Kadang setahun, kadang hanya beberapa bulan dia mendekam di LP Cipinang. 

Dia juga sempat ditahan karena dianggap menghina bendera merah putih saat Hari Raya Kemerdekaan. 

"Saya pernah ditantang untuk menurunkan bendera merah putih saat hari raya kemerdekaan, kemudian saya diamankan," ujar dia. 

Namun ketika dia melakukan kejahatan, dia tidak pernah mengajak orang lain. Dia hanya melakukannya seorang diri.

Dia pernah melakukan pemerasan di daerah Pasar Baru, Jatinegara, hingga Bekasi. Pada 1994, ketika dia berada di Bekasi, dia bertemu seorang tukang jahit. 

Saat inilah hidayah dari Allah datang, dari perbincangan Piter dengan tukang jahit, mereka membahas soal Islam. Piter pun tertarik dan tukang jahit itu mengajaknya untuk memeluk Islam.  

Saat itu Piter bersyahadat di Bekasi. Namun syahadat pertamanya ini sekadar memeluk Islam. Dia sempat diajari shalat namun hanya menghafal surah al-Fatihah. 

Minimnya pengetahuan tentang Islam, dia pun kembali ke dunia gelapnya, meski kini memiliki status Muslim. Dia kembali ke keluarga dan lingkungan pergaulan yang tidak sehat.

 
photo
Piter Yosias Gerrits kini telah berupaya konsisten menjalankan tuntunan Islam. Foto Ratna Ajeng Tejomukti/ Republika

 

Banyak ujian yang dihadapinya setelah dia memeluk Islam. Dia sempat beberapa meregang nyawa, dua kali mengalami kecelakaan. "Saya memasrahkan diri kepada Allah, jika memang hidup saya akan diambil saya ikhlas, Alhamdulillah Allah belum mengizinkan mengambil nyawa saya," ujar dia. 

Dia juga pernah tersengat listrik, kembali dia pasrah dan berdoa kepada Allah. Hidupnya kembali selamat, saat tiba-tiba tangannya terlepas begitu saja dari sengatan listrik di gardu yang sedang bermasalah ketika itu.

Ketika tubuh lemah akibat sengatan listrik, dia hanya berharap Allah dapat menyembuhkannya. Sembari dia mengkonsumsi obat yang diberikan dokter.

Setelah memeluk Islam, Piter mengakui tidak ada yang membimbingnya untuk belajar dan mendalami Islam. "Saya kemudian kembali ke Jakarta dan kembali terjun ke dunia gelap, kemudian saya berkenalan dengan seorang tokoh Betawi yang juga seorang Jenderal Angkatan Darat,"ujar dia.

Brigjen (Purn) Abdul Syukur bersedia menjadi ayah angkat dan membimbingnya secara perlahan untuk mendalami Islam. Dia diberikan nama Islam Ilham Maulana Firdaus. Kemudian dia dikirim menjadi santri di Cirebon, tetapi hanya beberapa bulan saja. Kemudian Ilham kembali ke Jakarta tetapi dia diajak keluarganya berharap dia dapat memeluk agama lamanya.

Justru dia kembali terjun dalam dunia kelam. Ayah angkatnya mengetahui perilakunya, dengan sabar dia kembali mengajaknya kembali ke jalan yang benar dan dibimbing langsung oleh Abdul Syukur.

Dia yang memerintahkan Ilham untuk dikhitan dan mengajarkan membaca Alquran. Dua tahun ini, dia telah lancar membaca Alquran dan telah empat kali khatam Alquran.

Sejak dibimbing Abdul Syukur, dia juga belajar puasa Ramadhan. Dia mengaku tak ada kendala selama berpuasa, bahkan dia sanggup berpuasa selama satu bulan penuh. "Sahur dan berbuka saya tidak mengalami kesulitan, karena banyak dermawan yang memberikan takjil dan makanan sahur, selama Ramadhan pun saya beri'tikaf di masjid,"jelas dia. 

Dia juga kini menjalani ibadah sunah lainnya. Sejak menjalani Islam dengan istikamah, dia kini menjalani puasa Senin-Kamis. 

Meski dia menjadi anak angkat, namun dia tidak ingin menyusahkannya. Dia bekerja serabutan meski dengan upah yang tidak seberapa. Menjadi marbut pun dia kerjakan dengan ikhlas tanpa balasan. Dia hanya berharap setelah memeluk Islam dan menjalani Islam dengan benar, kehidupannya menjadi lebih baik.  

"Saya bersyukur mengenal Islam dan menjadi Muslim, karena apa yang diinginkan, Allah selalu mengabulkannya,"jelas dia. Hidup sederhana kini membuatnya selalu merasa bersyukur. Dia telah memiliki tambatan hati, dan bersiap untuk menikah.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA