Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Journey to Silk Road: Hadiah Tasbih Usai Komunis Pergi

Sabtu 11 Jan 2020 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana kota Tashkent

Suasana kota Tashkent

Foto: Uttiek M Panji Astuti
Kebaikan Tersembunyi di Tashkent

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

Wanita itu berkali-kali memeluk saya erat. Hangat. Saya merasakan getar ketulusannya. Banyak kata yang diucapkannya, yang saya tak paham maksudnya. Ia adalah Turdieva Dilfuza Erkinovna (59). Mamanya Sanjar.

Ini untuk ketiga kalinya saya mampir ke rumah Sanjar. Yang pertama sewaktu baru datang ke Tashkent. Saya dan Lambang dijamu makan malam sekeluarga sebagai ucapan selamat datang yang kebetulan juga bertepatan dengan malam tahun baru.

Semenjak penjajahan komunis Soviet, perayaan tahun baru adalah satu-satunya hari yang dirayakan untuk berkumpul seluruh anggota keluarga. Anak-anak dan cucu berkumpul di rumah orangtua. Karena perayaan keagamaan, seperti Lebaran tidak diperbolehkan sama sekali.

Aneka jamuan istimewa disiapkan. Salad. Sup. Norin. Kudapan manis. Cokelat. Jus. Teh. Satu meja penuh dengan segala rupa makanan.

Kali kedua saya datang karena Mrs Turdieva ingin menyerahkan kenang-kenangan berupa buku yang ditulis oleh ayahnya. Kakek Sanjar ini seorang professor yang luar biasa. Di usianya yang ke-80, sudah 200 judul buku yang ditulisnya.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk, buah dan makanan

Bukan sembarang buku yang diberikan, tapi itu buku yang ada tanda-tangan Sang Kakek. Juga ungkapan cinta dari Mrs Turdieva untuk saya dan Lambang. Selain itu, ada satu buku lagi yang diberikan. Yakni buku yang ditulis oleh Bibi Sanjar dari ayahnya.

Keluarga Sanjar adalah keluarga akademisi. Banyak yang menjadi professor. Mamanya dokter anak. Ia sendiri kandidat doktor bahasa Indonesia.

Selain Alqur'an dengan terjemahan bahasa-bahasa di dunia, saya paling senang mendapat hadiah buku. Apalagi kalau bertanda-tangan penulisnya. Sekalipun buku itu ditulis dalam bahasa yang saya (belum) paham. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada buah karya seseorang.

Kali ketiga saya datang lagi ke rumah keluarga Turdiev, karena ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk Yashina. Buah cinta Sanjar dan Linara yang sudah saya kenal sejak masih dalam kandungan. Hari ini gadis kecil yang lucunya seperti boneka itu berulang tahun yang kedua.

Saat pulang, lagi-lagi Mrs Turdieva memberi saya oleh-oleh dan sekotak kacang-kacangan untuk Lambang. Ia tahu kalau Lambang suka kacang almond dan pistachio yang selalu terhidang di meja tamu rumahnya.

Bukan hanya mamanya, papa Sanjar, Mr Turdiev Komil Sheralievich (59) tak kalah hangatnya. Tiap kali kita datang, ia akan ikut menemui. Ngobrol seru. Sekalipun harus diterjemahkan. Saat pamit pulang, ia akan mengambil coat dan mengantarkan sampai keluar rumah. Menunggu sampai mobil kita berlalu sambil melambaikan tangan. Lambang berkali-kali mengatakan keharuannya.

Keterangan foto tidak tersedia.

Dalam perbincangan yang hangat di KBRI, Pak Andri Haekal Karnadibrata, Sekretaris Ketiga/Penerangan dan Sosial Budaya dan Protokol Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent, Republik Uzbekistan, yang sudah tiga tahun bertugas di sana menceritakan kebaikan hati penduduk Asia Tengah ini.

Selama ini tak banyak yang tahu, karena di era komunis Soviet semua informasi tentang mereka tertutup rapat. Mereka juga tak diizinkan membuka diri dengan orang asing. Jadilah seperti orang desa yang sangat polos dan bebas dari kontaminasi gaya hidup hedonisme.

Mereka dengan ringan hati akan membantu. Memberikan informasi apa saja kalau ditanya. Suka ngobrol sekalipun tak paham bahasanya. Juga penasaran dengan apa yang ada di belahan bumi yang berbeda.

Dampak positif lainnya, angka kriminalitas di sini sangat rendah. Menurut Sanjar, selain memang orang-orangnya baik, ini juga ada kaitannya dengan kerasnya hukuman yang diberlakukan di masa lalu.

Di salah satu museum di Ichan Kala, Khiva, saya sempat melihat diorama penjara dan hukuman bagi yang bersalah.

Pada masa itu hukumannya sangat mengerikan. Salah satunya yang diberlakukan di Bukhara. Para penjahat dijatuhkan dari Kalyan Minaret. Ada juga hukuman penggal kepala dan hukum rajam.

"Ini untuk Ibuku," kata Sanjar menyerahkan beberapa magnet kulkas bersama dengan oleh-oleh yang diberikan mamanya. "Ini adalah rute perjalanan kita selanjutnya."

Waaa... saya terpekik senang. Terbaca Azerbaijan dan beberapa negara lainnya. Saya langsung membayangkan serunya melakukan perjalanan seperti ini lagi. Menyusuri jejak Daulah Utsmani yang berserak di sepanjang laut Kaspia.

Keterangan foto tidak tersedia.

Tak hanya hadiah dari keluarga Turdiev, hadiah lain yang juga berkesan yang saya terima adalah sebuah untaian tasbih berbungkus kotak kayu berukir yang diberikan Imam Eshonqulov Zayniddin Sadriddin Ugli.

Bukan sekadar indah, tapi hadiah ini akan mengingatkan saya untuk selalu menderaskan takbir, tahmid dan tasbih.

Orang baik akan dipertemukan dengan orang baik, kata pepatah. Tapi saya tidak merasa sebaik itu, hingga dipertemukan dengan orang-orang sebaik ini.

Bila ada kesempatan, datanglah ke Asia Tengah. Rasakan ketulusan dan kebaikan hati mereka yang tersembunyi.

Tashkent, 9 Januari 2020

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA