Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Journey to Silk Road: Rintik Hujan di Khujand Tajikistan

Rabu 08 Jan 2020 10:18 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana kota Khujand di Tajikistan

Suasana kota Khujand di Tajikistan

Foto: Uttiek M Panji Astuti
Meski Sempat dikuasai Soviet Komunis, Di Tajikistan suara adzan terdengar membana.

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveller dan Penulis Buku

Langit pekat sempurna. Cahaya rembulan yang biasanya menyembul malu, tak menampakkan wujudnya.

Sosok tegap itu mengendap dalam kegelapan. Gerakannya lincah dan gesit. Kelebat tubuhnya seringan angin. Tak ada yang menyadarinya hingga ia berhasil menyelinap ke tenda utama.

Dengan gerakan yang sangat cepat, ia tikamkan sebilah khanjar (pisau kecil yang didesain khusus untuk membunuh yang telah dilumuri racun) ke tubuh yang tengah terbaring lelap.

Innalillahi wa innailaihi rojiun...

Hari itu 6 Rabiul Awal 541 H bertepatan dengan 12 November 1146 M, Sang Syuhada dijemput malaikat maut. Imaduddin Zanki, pembuka jalan bagi pembebasan Baitul Maqdis yang kemudian dituntaskan oleh Shalahuddin Al Ayyubi, syahid dalam pengepungan benteng Ja’bar di Kota Raqqah, Suriah sekarang.

Pembunuhnya bukan sembarang prajurit. Ia seorang assassin. Assassin atau pembunuh bayaran dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Hasyasyun atau Hasyasyin yang kemudian dilafalkan sebagai assassin.

Hasyasyin sendiri berasal dari kata al-Hasyisy (semacam ganja) yang dicekokkan pada anggota kelompok itu hingga separuh kesadaran hilang karena pengaruh obat bius.
Saat itulah mereka dicuci otak hingga bisa melakukan apa saja yang diperintahkan oleh pemimpinannya tanpa penolakan sama sekali. Termasuk melakukan misi-misi pembunuhan para sultan dan keluarga kerajaan.

Kelompok ini berideologi Syiah Ismailiyah an-Nizariyah yang dipimpin oleh al-Hasan ash-Shabah. Mereka terlatih melakukan pembunuhan dengan militansi yang mengerikan.

photo
Keterangan foto: Lukisan suasana rumah di Tajikistan

Pelatihan khusus itu dilakukan di tempat yang sangat ekstrem. Gunung cadas dengan kemiringan curam dan beratap salju. Medan dan cuaca ganas pegunungan itu menjadi benteng alami yang sulit ditembus musuh.

Pegunungan itu bernama pegunungan Pamir.

"Yang mana pegunungan Pamir? Yang di sebelah sana?" Tanya saya ribut sambil menunjuk ke sisi kanan.

Sejak memasuki border, berulang-ulang saya menanyakan, "Di mana pegunungan Pamir?" pada Sanjar.

Hari ini kami berempat: Saya, Lambang, Sanjar dan Doni melanjutkan perjalanan ke Tajikistan. Salah satu negara Stan yang berbatasan dengan Afghanistan di selatan, China di timur, Kyrgizstan di utara dan Uzbekistan di barat. Kita masuk dari border Uzbekistan.

Negara ini mempunyai batas geografis alami sungai Amu Daya yang membelahnya dengan wilayah Afghanistan dan pegunungan Pamir yang legendaris itu!

Border Tajikistan sekitar 100 km dari kota Tashkent. Ruang imigrasinya nyaris serupa dengan border Kazahstan. Ada dua loket yang dibuka.

Agak lama paspor saya dan Lambang diperiksa. Petugas imigrasi di loket menelepon seseorang yang sepertinya atasannya. Sekali lagi paspor kita dicek. Lalu datang petugas yang lebih senior lagi.

"Ada apa?" Tanya saya ke Sanjar.

"Paspor ibuku banyak sekali stempel. Jadi mereka harus cek lagi. Tidak lama," katanya meyakinkan.

Setelah tiga orang berada di dalam bilik loket yang sempit itu, akhirnya paspor saya dan Lambang mendapat stempel exit.

Dari imigrasi part Uzbekistan jarak dengan imigrasi part Tajikistan sekitar 300 meter. Ada jalan khusus untuk pejalan kaki, selain jalan untuk mobil.

Di part Tajikistan hanya satu loket yang dibuka. Antrean pun tak banyak. Hanya sekitar 5 orang. Seorang perempuan bersama bayinya didahulukan karena bayinya merengek. Petugas bersuara keras memanggilnya dari balik loket.

Di belakang Lambang seorang pria tua memakai joppa. Joppa adalah jubah panjang tradisional khas Asia Tengah yang umumnya dikenakan para pria. Untuk perempuan namanya khalaq. Saat ini hanya dikenakan mereka yang sudah berusia di atas 60 tahun atau untuk acara tertentu seperti shalat Jumat atau melayat.

Petugas imigrasi part Tajikistan lebih ramah. Mereka mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa Inggris. Pemegang paspor Indonesia masih membutuhkan Visa On Arrival yang bisa diurus secara online. Harganya 70 USD untuk yang reguler dan 170 USD untuk expres 24 jam selesai.

Bayangan saya sebelumnya, Tajikistan adalah negara bekas pecahan Uni Soviet yang miskin. Lepas dari Soviet didera perang saudara yang berkepanjangan. Dengan kondisi kota seperti Jakarta tahun 70-an.

Tapi ternyata dugaan saya salah. Sejak di border saya dikejutkan dengan banyaknya mobil Mercedez yang lalu-lalang. Sekalipun bukan tipe yang terbaru, tapi jumlahnya sangat banyak.

"Ini banyak sekali yang memakai Mercy di sini?" Tanya saya.

"Itu mobil second, Bu. Didatangkan dari Ukraina dan sekitarnya," jawab Doni. Mobil-mobil bekas Eropa itu di sini murah karena tidak kena pajak.

Tajikistan memang telah berubah. Tak sama lagi dengan tulisan Agustinus Wibowo di bukunya "Garis Batas". Cina secara jor-joran berinvestasi melalui One Belt One Road Project di negara ini.

Saat menunggu antrean, dari kejauhan terdengar kumandang adzan. Dengan mantap saya ayunkan langkah memasuki negeri ini. Karena saya yakin, di manapun adzan berkumandang, di situ tempat yang aman.

Assalamualaykum Tajikistan.

photo
Keterangan foto: Masjid di Khujand, Tazikistan

Tujuan pertama kita adalah kota Khudjand. Di kota ini banyak jejak sejarah peradaban Islam, sekaligus rute penting perlintasan Jalur Sutra.

Makan siang di sebuah restoran tradisional dengan dekorasi atap ruangan menyerupai bola dunia, membuat saya terlempar ke masa silam. Mungkin seperti ini suasana chayxana yang disinggahi para kabilah dagang.

Menjelang senja sampailah kita di Mausoleum of Sheikh Musluhiddin, Khujand. Selain bangunan mausoleum juga terdapat masjid, minaret, dan pasar tua di seberangnya.
Di tengahnya ada pelataran besar dengan kerumunan burung merpati yang bersuka cita. Banyak orang yang menabur pakan untuk mereka. Pakan burung ini dijual seharga 1 Simoni (setara dengan Rp1.600).

Kerumunan merpati ini mengingatkan saya pada pemandangan serupa di depan Masjid Nabawi. Juga di depan Id Kah Mosque di Kashgar. Bedanya, yang di sini dan di Madinah terlihat anak-anak bermain gembira, sementara yang di Kahsgar, anak-anak Uighur berbalut duka.

Saya tak melewatkan kesempatan untuk menikmati pasar Panjshanbe. Di setiap negara yang saya singgahi, saya selalu menyempatkan mampir ke salah satu pasar tradisionalnya. Ada kejujuran yang bisa dilihat di pasar. Bukan obyek wisata yang dipoles untuk kemasan turis.

Para pedagangnya ramah. Mereka membalas senyum dan menyapa. Di sore hari banyak yang berbelanja patir (roti sebagai makanan pokok) untuk sarapan esok hari.
Di pasar ini juga banyak yang menjual aneka kacang-kacangan. Almond, pistachio, kacang tanah, mede, dan banyak lagi. Juga dried fruit, kismis, aprikot.

"Kacang harus selalu tersedia di tiap rumah di sini, ibuku," jelas Sanjar.

photo
Suasana pasar di Khujand Tazikistan

Di selasar berikutnya, aneka buah segar terhampar menggoda. Juga los salad yang menyediakan beragam salad buah dan sayur. Di pasar kita bisa menyaksikan warna-warni kehidupan yang sesungguhnya.

Keluar dari pasar, rintik hujan menyambut langkah. Ah, saya nikmati rintik hujan di kota Khujand.

Tajikistan, 6 Januari 2020

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA