Senin 30 Dec 2019 14:20 WIB

Hidup Sederhana Menurut Tabib Yunani dan Cendekiawan Muslim

Hidup sederhana merupakan ajaran kuno Yunani dan tuntunan Islam.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah
Kesederhanaan sangat ditekankan dalam semua peradaban dari Yunani hingga Islam.
Foto: photo-dictionary.com
Kesederhanaan sangat ditekankan dalam semua peradaban dari Yunani hingga Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, Orang yang merasa puas adalah orang terkaya, karena kekayaan tidak membutuhkan manusia. Orang yang merasa puas adalah orang yang yakin Allah SWT memberikan yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga tidak perlu bergantung kepada manusia.

Mengutip buku Mengobati Penyakit hati; Meningkatkan Kualitas Diri, karya Sayyid Mahdi as Sadr, dikisahkan seorang tabib terkenal Yunani, Galen (129-199 M) ketika wafat menyimpan selembar kertas dalam sakunya. Kertas tersebut sebuah nasihat yang isinya, “Segala sesuatu yang engkau peroleh secara cukup adalah untuk kebaikan tubuhmu. Segala sesuatu yang engkau berikan sebagai sedekah adalah untuk kebaikan rohanimu. 

Baca Juga

Segala sesuatu yang engkau tinggalkan di belakangmu adalah untuk kebaikan orang-orang lain. Orang yang bermurah hati tetap hidup walaupun jasadnya telah berpindah ke alam lain. Orang yang berbuat jahat adalah bangkai walaupun dia masih berada di dunia ini.

Perasaan puas apa adanya mampu menutupi perbuatan buruk. Sikap moderat justru mampu memperbanyak rezeki. Orang yang merassa puas lebih merasa bahagia, tenang dan lembut dibandingkan orang yang tamak.”

Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang sastrawan dan penyusun kamus terbaik bahasa arab, Kitabul Ayn, pernah menderita kelaparan diantara orang-orang miskin Basrah, di tengah banyak orang yang mendapatkan keuntungan dari karya yang dihasislkannya. Suatu hari Sulaiman bin Ali al Abbasi memintanya datang ke al-Ahwaz untuk mengajar anaknya. 

Al-Khalil kemudian menjamu utusan Sulaiman dengan beberapa potong roti kering. Dia juga memberikan jawaban atas undangan Sulaiman. Perkataannya kepada utusan Sulaiman itupun, dia abadikan dalam sebuah syair.

"Silakan makan roti ini, saya tidak memiliki makanan lain. Selama saya dapat menemukan potongan-potongan roti, saya tidak butuh Sulaiman," ujar dia.  

 

 

 

 

 

 

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi