Kamis 19 Dec 2019 15:49 WIB

Erdogan Sebut DK PBB tak Lindungi Negara Muslim

Negara Muslim terganggu oleh pandangan agama yang berbeda.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah
Erdogan Sebut DK PBB tak Lindungi Negara Muslim. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (ilustrasi).
Foto: PA-EFE/KAYHAN OZER
Erdogan Sebut DK PBB tak Lindungi Negara Muslim. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sudah ketinggalan zaman dan tidak melindungi kepentingan negara-negara Muslim. Hal tersebut ia sampaikan dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kuala Lumpur 2019 (KL Summit), Kamis (19/12).

DK PBB telah didirikan oleh para pemenang perang dunia kedua. Erdogan mengatakan, sistem saat ini hanya mendukung anggota tetap, yang terdiri dari lima negara dengan kekuatan veto diantaranya China, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga

"Sistem yang didirikan para pemenang Perang Dunia II dengan tujuan melindungi kepentingan mereka sendiri, dan yang membuat nasib 1,7 miliar orang di dunia Islam dinikmati oleh lima anggota tetap DK telah berakhir masanya," kata Erdogan dilansir di Malay Mail, Kamis (19/12).

Erdogan menambahkan merupakan keharusan untuk memperbarui platform seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)  yang menyatukan negara-negara Islam dan meningkatkan efektivitasnya. Erdogan mengungkapkan, sistem dunia membutuhkan struktur baru berdasarkan keadilan dan kesetaraan. Menurutnya, solusi untuk masalah global harus ditemukan dengan perspektif yang fokus kepada orang dan hati nurani, dan bukan pada minat.

"Di semua platform yang kami ikuti atau tanggung jawab dalam beberapa tahun terakhir, kami telah mengangkat masalah yang dihadapi oleh umat manusia dan Muslim," kata dia.

Akan tetapi, ia juga mengakui beberapa masalah yang dihadapi dunia Muslim, disebabkan kelemahannya sendiri, dan tidak ada hubungannya dengan faktor-faktor eksternal. Dia mengamati masalah terbesar yang dihadapi umat Islam dalam skala global karena kurangnya implementasi kebijakan bersama. Negara-negara Muslim dianggap tetap terpecah dan terganggu oleh pandangan agama yang berbeda.

Pada saat yang sama, Erdogan menunjukkan dunia Islam tidak lemah, tidak berdaya atau putus asa karena memiliki jumlah sumber daya ekonomi, bahan baku, jumlah populasi, dan lokasi geografis yang sama jika dibandingkan dengan negara-negara non-Muslim. "Jika mayoritas Muslim masih berjuang dengan kelaparan, kelaparan, kemiskinan dan ketidaktahuan terlepas dari semua fasilitas, minyak, populasi dan sumber daya alam yang telah Allah berikan kepada kita, pertama-tama kita harus mencari kesalahan dalam diri kita sendiri," ujar Erdogan.

"Dalam Alquran, kita diperintahkan, puluhan kali, untuk menggunakan pikiran kita. Menyalahkan orang lain atas kesalahan kita sendiri akan menjadi jalan keluar yang mudah," kata dia.

Erdogan mengatakan, pangsa negara-negara Islam dalam ekonomi dunia bahkan tidak mencapai 10 persen. Sementara kesenjangan pendapatan antara negara Islam terkaya, dan termiskin lebih dari 200 kali lipat.

"Negara-negara Islam memiliki 59 persen cadangan minyak global dan 58 persen cadangan gas alam," katanya.

Sebanyak 350 juta Muslim berjuang bertahan hidup dalam kondisi kemiskinan yang cukup parah. Muslim yang membentuk seperempat dari populasi dunia hanya menyumbang empat persen dari pengeluaran kesehatan global.

"Demikian juga, sementara tingkat melek huruf di dunia adalah 82,5 persen, itu adalah sekitar 70 persen di dunia Islam. Sementara negara-negara Islam hanya mengalokasikan 3,7 persen dari pendapatan nasional mereka untuk pendidikan, negara-negara lain rata-rata mengalokasikan 4,8 persen," kata Erdogan.

Ia melanjutkan, 94 persen konflik di seluruh dunia melibatkan umat Islam. Satu dari tiga senjata api yang dijual ditemukan di Timur Tengah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement