Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Kemenag Banjarmasin Data Majelis Taklim dan Pengajian

Sabtu 14 Dec 2019 00:03 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kemenag Banjarmasin Data Majelis Taklim dan Pengajian. Foto ilustrasi kegiatan majelis taklim.

Kemenag Banjarmasin Data Majelis Taklim dan Pengajian. Foto ilustrasi kegiatan majelis taklim.

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Pendataan majelis taklim mencegah agar jangan sampai ada yang menganut ajaran sesat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Kementerian Agama (Kemenag)  Kota Banjarmasin menyampaikan terdapat 1.000 majelis taklim di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.  Menurut Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kemenag Kota Banjarmasin Ahmad Syahrani, jumlah jamaah majelis taklim bervariasi, dari yang beranggotakan ribuan orang hingga 20 dan lima orang.

"Kalau majelis taklim itu biasanya jamaahnya di atas 20 orang, sedangkan pengajian tradisional, kita menyebutnya 10 sampai lima orang," katanya, Jumat (13/12).

Syahrani mengatakan, Kemenag sudah melakukan pendataan terhadap keberadaan majelis taklim dan pengajian di lima kecamatan dan 52 kelurahan agar dapat diawasi. "Tujuannya mencegah agar jangan sampai ada yang menganut ajaran sesat," ujarnya.

Karena bercermin pada 2018, sempat ditemukan pengajian aliran sesat di Kecamatan Banjarmasin Selatan dan terbukti menganut ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam. "Dulu 2018, pengajian semacam ini sempat ditemukan. Mereka nggak shalat lagi. Terus orang shalat Jumat, mereka malah pengajian. Ini kan jelas sekali nggak sesuai syariat," katanya.

Pengajian itu akhirnya dibubarkan setelah dilakukan penindakan, sedang pemimpinnya sudah bertobat dan berjanji tak lagi mengajarkannya. "Saat ini tak ada lagi. Ketika disurvei, sudah tak ada lagi. Orangnya sudah pindah domisili ke luar daerah," ujarnya.

Syahrani mengungkapkan, aliran sesat tersebut diajarkan melalui pengajian tradisional. Dia menilai pengajian tradisional memang rawan menyimpang sebab pengajian itu cenderung tak memiliki kitab sebagai pegangan.

“Yang rawan itu pengajian tradisional. Karena mereka kebanyakan tak memakai kitab. Duduk sambil berbincang-bincang saja. Beda halnya dengan majelis taklim,” katanya.

Untuk menghindari munculnya ajaran sesat, ia juga selalu melakukan pengawasan serta penyuluhan kepada masyarakat. Tercatat hingga saat ini petugas penyuluh yang ada di Kemenag Kota Banjarmasin berjumlah 28 orang.

“Kemudian kita baru saja merekrut 122 orang non-PNS. Merekalah yang bertugas mengawasi,” ujarnya.

Dia menyebutkan di Banjarmasin terdapat 208 masjid dan sekitar 800 mushala, sebagian besar aktif menggelar majelis taklim dan pengajian. "Untungnya di daerah kita ini banyak ulama sehingga paham radikal sulit menyebar," ujarnya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA