Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Muhammadiyah Tepis Tuduhan Disuap Cina Terkait Uighur

Jumat 13 Dec 2019 11:07 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan sikap organisasinya soal Uighur sudah jelas.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan sikap organisasinya soal Uighur sudah jelas.

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Muhammadiyah menegaskan sikapnya soal Uighur sudah jelas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menolak tuduhan pemberitaan asing soal ormas Islam yang disuap Cina agar bungkam soal isu hak asasi manusia etnis Uighur. Artikel yang dimaksud terbit pada Rabu (11/12) di laman daring WSJ dengan judul "How China Persuaded On Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps".

"Apakah dengan mengundang tokoh-tokoh dari ketiga ormas ke Uighur Cina lalu ketiga ormas itu akan melemah kepada Pemerintah Cina? Tidak," kata Anwar kepada wartawan di Jakarta, Jumat.

Anwar memerinci, tiga ormas dimaksud adalah Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. "Cina menyuap MUI, NU, dan Muhammadiyah? Bagaimana caranya mereka menyuap ketiga organisasi tersebut," katanya.

Anwar yang juga sekretaris jenderal MUI mengatakan, sikap ormas-ormas islam itu sudah jelas, yaitu amar makruf nahi mungkar atau mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika tindakan Pemerintah Cina itu baik, menurut dia, tentu didukung. Tapi, jika zalim kepada rakyat Uighur maka sikap dari ormas Islam sudah jelas.

"Kami tidak akan membiarkan praktik kezaliman itu ada," kata dia

Anwar menjelaskan, pihaknya mengutuk sikap dan tindakan Pemerintah Cina terhadap umat Islam Uighur. Hal itu juga berlaku bagi Amerika Serikat yang zalim terhadap rakyat Afghanistan dan Palestina.

MUI dan Muhammadiyah, menurut Anwar, cinta damai dan keadilan. Ia menegaskan bahwa meskipun seribu kali Pemerintah Cina mengundang MUI dan Muhammadiyah untuk datang ke Cina, sikap terhadap Uighur tidak akan berubah.

"Maka selama Pemerintah Cina tidak bisa menghormati hak-hak beragama dari rakyat Uighur, MUI dan Muhammadiyah akan tetap bersuara dengan lantang melawannya," katanya.

Demikian juga, menurut Anwar, untuk kasus di Afghanistan dan Palestina. Selama Amerika tidak menghormati hak-hak rakyat Afghanistan dan Palestina, MUI dan Muhammadiyah jelas tidak akan tinggal diam.

MUI dan Muhammadiyah, menurut Anwar, tidak memusuhi Cina dan Amerika. "Yang kami musuhi adalah perbuatannya yang tidak benar dan tidak manusiawi tersebut," kata dia.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA