Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Kiprah Prof Haedar Nasir Banjir Pujian dari Tokoh Nasional

Kamis 12 Dec 2019 18:35 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Nashih Nashrullah

Pengukuhan Guru Besar Haedar Nashir. Prof Haedar Nashir menerima ucapan selamat usai upacara Pengukuhan Guru Besar  di Sportorium UMY, Yogyakarta, Kamis (12/12).

Pengukuhan Guru Besar Haedar Nashir. Prof Haedar Nashir menerima ucapan selamat usai upacara Pengukuhan Guru Besar di Sportorium UMY, Yogyakarta, Kamis (12/12).

Foto: Republika/ Wihdan
Tokoh Nasional memuji komitmen Haedar Nasir mengabdi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL – Haedar Nashir resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pengabdian Haedar sendiri menuai pujian dari tokoh-tokoh nasional yang menghadiri pengukuhan.

Baca Juga

Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusut Kalla, memuji pidato pengukuhan yang dibawakan Haedar Nashir. Pidato sendiri berjudul Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan Perspektif Sosiologi.

Dia menilai, pidato itu mengangkat bahasan yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini dan sangat penting dipahami masyarakat Indonesia. Kalla berpendapat, tingkat pengetahuan Haedar memang telah teruji.

"Harapannya, pengabdian akan lebih baik dan besar kepada kita semua bangsa Indonesia," kata Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 tersebut di Sportorium UMY, Kamis (12/12).

Menteri Agama, Fachrul Razi, melihat Haedar memiliki semangat besar untuk meningkatkan identitas keislaman dan nasionalisme. Yang mana, dia merasa, Haedar menekankan betul kalau keduanya satu kesatuan.

Fachrul berpendapat, pidato pengukuhannya menegaskan jika kita tidak bisa melihat kebangsaan tanpa melihat keislaman. Begitu sebaliknya, tidak bisa kita melihat Keislaman tanpa melihat kebangsaan. "Jadi, meningkatkan identitas keislaman dan nasional atau bangsa yang merupakan satu keutuhan," ujar Fachrul.

Senada, Buya Syafii Maarif, merasa pendekatan yang digunakan Haedar Nashir sangat berimbang. Khususnya, ketika melihat radikalisme yang istilahnya sendiri banyak disalahpahami masyarakat.  

"Jadi, radikalisme itu bukan dalam arti yang sempit, di mana-mana itu ada, tapi segala bentuk radikalisme yang negatif itu harus ditiadakan, dari manapun datangnya," kata Buya. 

Rektor UMY, Gunawan Budiyanto menambahkan, sosok Haedar Nashir selama ini telah memberikan contoh yang baik dan teladan yang tepat. Tidak cuma untuk penerus-penerusnya, tapi bagi rekan-rekan sesama dosen. "Dan ini merupakan sebuah contoh konkrit bagaimana berjuang di Muhammadiyah, dan tidak mencari kehidupan dari Muhammadiyah," ujar Gunawan.  

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA