Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Fungsi Payung pada Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Selasa 03 Dec 2019 05:25 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Agung Sasongko

Seorang warga berusaha mengembangkan payungnya di tengah hembusan angin kencang akibat topan Faxai di Tokyo, Senin (9/9).

Seorang warga berusaha mengembangkan payungnya di tengah hembusan angin kencang akibat topan Faxai di Tokyo, Senin (9/9).

Foto: Kyodo News via AP
ibuan tahun silam, payung telah menjadi simbol umum di antara para penguasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki musim hujan, payung memiliki peran penting. Kehadiran payung melindungi tubuh dari derasnya air hujan. Kini, payung bahkan sudah menjadi bagian dari fesyen masyarakat modern. Ini dilihat dari beragam motif dan bentuknya.

Apakah fungsi yang sama terjadi di abad pertengahan?

Ribuan tahun silam, payung telah menjadi simbol umum di antara para penguasa, mulai dari penguasa di Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara, Afrika sub-Sahara, Persia, Asia Selatan dan Tenggara, Cina, Jepang, hingga Korea.

Di Mesir, misalnya, ada Hieroglif (ukiran kuno) yang dibuat pada sekitar 2.400 SM menyebut, kerajaan dinasti kelima Mesir telah menggunakan payung sebagai simbol kedaulatan dan kekuasaan.

Bukan hanya Mesir, sejarah payung juga ditemukan di Cina. Sebuah teks klasik ber judul The Rites of Zhou yang ditulis pada 400 SM menjelaskan penggunaan payung sutra bundar yang digunakan warga Kerajaan Cina sebagai simbol keistimewaan mereka, termasuk simbol penghormatan kepada seorang pimpinan atau komandan.

Kala itu, penguasa terkadang memberikan payung kepada pejabat tinggi dan jenderal sebagai penghargaan atas kesetiaan mereka. Dari Cina, payung kerajaan juga berkibar di Jepang dan Korea. Di Jepang, payung menjadi hak prerogatif kerajaaan, sehingga rakyat biasa dilarang menggunakannya.

Namun, pada abad ke-18, payung sudah dapat digunakan secara luas. Keadaan yang tidak jauh berbeda terjadi di Negeri Ginseng. Di sana, payung dijadikan simbol kerajaan. Payung kerajaan juga digunakan di Kerajaan Mesopotamia, sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Republik Irak. Di sana, payung kerajaan berbentuk bundar dan runcing.

Di Yunani, payung juga digunakan secara luas. Di sana, benda itu digunakan untuk merepresentasikan keanggunan dan kecantikan kaum Hawa. Pandangan ini kemudian me nyebar ke dunia Barat, sehingga payung lama-lama dianggap terlalu feminin untuk digunakan pria.

Di Konstantinopel, pada 330 M, payung tampak menonjol dalam karya seni Kristen. Berbeda dengan karya seni Islam pada abad ke-tu juh, yang lebih banyak menampilkan geometri dan kaligrafi.

Seorang peneliti dari Rice University, Amerika Serikat, Paula Sanders menyebut adanya penggunaan payung kerajaan pada masa Dinasti Fatimiyah, abad ke-10 dan 11. Kala itu, para khalifah secara selektif menganugerahkan payung kerajaan sebagai hadiah.

Hadiah itu sebagai bentuk penghargaan atas dukungan dan komitmen si penerima terhadap khalifah. Menyebarnya Islam di wilayah sub-Sahara Afrika Barat juga mem bawa tradisi payung kerajaan ke sepanjang wilayah yang menjadi rute perdagangan ini.

Di sub-Sahara Afrika Barat, payung kerajaan sering muncul di kerajaan Islam maupun non-Islam. Di sejumlah keraja -Kerajaan di Afrika Barat, seperti Ashanti, Benin, Sokoto, dan Dahomey, payung menyimbolkan kekuasaan raja.

Penguasa di Afrika Timur juga meng adop si budaya payung kerajaan ini. Kemunculan payung kerajaan di wilayah ini kemungkinan besar sebagai dampak hubungan dagang dengan para pedagang Muslim dari Mesir dan Semenanjung Arab. Penggunaan payung ke rajaan di kawasan ini bahkan terus berlanjut hingga abad ke-20.

India juga menjadi tempat berkembangnya tradisi payung kerajaan. Beberapa literatur dan teks kuno menyebut, payung tidak hanya digunakan di lingkungan istana, tapi juga di tempat peribadatan.

Tak aneh jika banyak patung dewa dan makam yang dinaungi oleh payung-payung khusus. Di Negeri Hindustan ini, payung kerajaan adalah tradisi yang dipraktikkan oleh penguasa Muslim maupun Hindu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA