Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Jejak Islam di Tanah Oman

Sabtu 23 Nov 2019 06:43 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat, Oman

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat, Oman

Foto: Republika/Nur Hasan Murtiaji
Oman merupakan salah satu negara di Jazirah Arab

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oman merupakan salah satu negara di Jazirah Arab dengan populasi Muslim terbesar. Sebelum menjadi agama yang mendominasi di Oman, perjalanan Islam masuk ke negara tersebut tercatat panjang.

Pada 629 M Nabi Muhammad mengirim surat kepada kedua raja Oman yang ketika itu tengah berkuasa, yakni Raja Abd dan Raja Jaifar. Kedua raja tersebut kemudian diperkenalkan tentang Islam.

Dari berkirimnya surat, kedua raja Oman itu kemudian melakukan pertukaran delegasi guna mempelajari dan mempertimbangkan ajakan Rasulullah SAW. Setelah melakukan pertukaran delegasi, Raja Abd dan Raja Jaifar kemudian tertarik dan pada akhirnya meme luk agama Islam.

Dari sisi politik dan ketahanan negara, kedua raja ini juga dapat mempersatukan suku-suku Arab dan mengusir orang-orang Persia. Kekuasaan politik kala itu pun tetap berada di tangan Dinasti Al-Julanda hingga Oman dianeksasi ke Basra oleh khalifah Islam ketiga, Usman bin Affan.

Masuknya Islam ke Oman tak diwarnai dengan pertumpahan darah. Islam masuk disambut dengan tangan terbuka dan dirayakan dengan kedamaian serta persatuan di dalam Oman. Hal ini menandakan bahwa Islam memang agama yang rahmatan lil-alamin di ma napun agama yang dibawa Rasulullah SAW ini disebarkan.

Kendati demikian, perkembangan Islam di Oman diwarnai dengan sejumlah dinamika yang tak sedikit. Tercatat, konfrontasi berdarah antara pengikut Khalifah Ali dengan Muawiyah juga menimbulkan perpecahan yang dikemudian hari memunculkan sekolah hukum Sunni dan Syiah.

Dari pergerakan politik atas konflik antara Khalifah Alin bin Abi Thalib dengan Muawiyah tersebut, Kesultanan Oman memutuskan untuk tidak mengikuti salah satu aliran dari kedua aliran yang dihasilkan. Pada masa awal keputusan ini dilakukan guna menjaga agar Oman tidak tergantung pada kekuasaan Dinasti Umayyah.

Atas keputusan ini, Dinasti Al-Julanda dipaksa untuk berpindah ke Afrika akibat serangan militer yang berusaha menaklukkan mereka. Akibatnya, pusat perlawanan politik terhadap hegemoni Umayyah terbentuk di Oman. Dalam perjalanan waktu, mereka berkembang menjadi sekolah filsafat Ibadhi.

Penganut filsafat Ibadhi Oman menilai jika pemilihan imam atau khalifah berdasarkan keturunan tidaklah relevan. Kaum Ibadhi berpendapat bahwa setiap Muslim yang setia dan berpendidikan teologi adalah calon yang potensial untuk jabatan tersebut.

Untuk itu, kaum Ibadhi menilai, manusia merupakan makhluk yang samasama memiliki kapasitas. Oleh sebab itu, setiap komunitas dapat memilih seorang mukmin dari mereka yang paling memenuhi syarat untuk amanah tersebut. Dari catatan Kesultanan Oman, imam pertama dari jamaah Ibadhi berasal dari salah seorang pendiri utama Ibadhisme, yakni Jabir bin Zayd. Imam Jabir berasal dari Nizwa, Oman, dan ber mukim di Irak.

Meski domisili Imam Jabir cukup jauh dari Oman, dia kerap mempertahankan hubungan erat dengan tanah airnya. Kepemimpinan Imam Jabir ini juga didukung oleh dua suku Oman, yakni Al-Muhallab dan Al-Azd dan pada akhirnya mendirikan sekolah Ibadhi. Kiprah Jabir bin Zayd kemudian juga berkembang menjadi penasihat Ibn Ibadh pada sebagian besar karier politiknya.

Dalam perjalanannya, imam tersebut juga kerap melakukan pergerakan politik guna mempertahankan negaranya, seperti menentang kelompok- kelompok Qadariyah, Mu'tazilah, Syiah, Mujiit, hingga kaum Khawarij. Pada fase awal kaum Ibadhi merupakan kelompok Islam moderat yang jumlahnya masih terbatas. Sebelum pada akhirnya berkembang secara luas hingga saat ini. Namun, hingga kini, kota kelahiran Imam Jabir bin Zayd, Nizwa, me n jadi lokasi pusat kalangan Ibadhiyah.

Meski berbeda dari komunitas Muslim seperti Sunni dan Syiah, kalang an Ibadhiyah dikenal dengan semangat toleransi beragama. Toleransi menjadi salah satu kekuatan Oman dalam mendukung kelangsungan kehidupan ber agama di negara legenda Pelaut Sinbad tersebut.

Toleransi yang ditanamkan Kesultanan Oman bahkan tercatat menuai pujian dari Pendeta Raja James II Inggris, John Ovington, dalam kunjungannya ke Kota Muskat pada 1633. Ovington mengatakan bahwa orang-orang Oman sangat sopan dan berbudi bahasa tinggi kepada semua orang asing. Muslim Oman juga bersifat terbuka dan tak pernah memaksakan agama mereka kepada siapa pun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA