Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Gandeng Muslim, Jerman Perangi Kampanye Anti-Semit

Jumat 22 Nov 2019 02:50 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Agung Sasongko

Muslim Jerman

Muslim Jerman

Kelompok anti-semit dinilai berlaku tak adil terhadap komunitas lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, FREIBURG -- Masyarakat Jerman menggandeng komunitas Muslim guna perangi kampanye anti-Semit. Kelompok anti-semit dinilai berlaku tak adil terhadap komunitas lainnya.

Pada November ini, di Freiburg, seorang warga yang berusia 19 tahun bernama Yarmulke Samuel diserang oleh kelompok anti-semit.  Ketika itu tiba-tiba seseorang tak dikenal menangkapnya dan melemparkan Yarmulke Samuel ke tempat sampah.

"Kau Yahudi kotor," kata Samuel menirukan suara penyerangnya.

Sebelumnya, Samuel juga menerima reaksi negatif ketika ia mengenakan Kippah (topi khas Yahudi).  Banyak yang bertanya kepada Samuel tentang kewarganegaraan penyerang. Termasuk, apakah penyerangnya seorang Muslim.

Samuel menilai bahwa pertanyaan itu tidak relevan.  "Anti-Semitisme adalah anti-Semitisme. Tidak peduli siapa yang melakukannya," kata Samuel seperti dilansir Deusche Welle, Kamis (21/11).

Seorang Muslim dari Turki Aycan Demirel, sering menjadi saksi insiden anti-Semit di distrik Kreuzberg, Berlin. Pada tahun 2000, ia bekerja sebagai pekerja sosial dan tinggal di sebelah sinagog Fraenkelufer.

"Saya telah melihat berulang kali dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pekerjaan saya dengan pemuda setempat," kata Demirel.

Dia kemudian memutuskan untuk mengambil sikap menentang anti-Semitisme di masyarakat. Gagasan untuk menciptakan Kreuzberg Initiative Against Anti-Semitism (KIgA) berasal dari apartemen yang dibagikan Demirel dengan jurnalis Doris Akrap dan Deniz Yücel.

Pada 2017, Yücel akan dipenjara di Turki selama lebih dari setahun setelah dituduh melakukan spionase. Pada saat itu, anti-Semitisme tidak hanya menjadi topik di Jerman, tetapi juga di Turki asli Demirel. Pada 15 November 2003, dua bom meledak di depan sinagog Istanbul, menewaskan 24 orang.

"Serangan ini menggerakkan kami. Kami tidak ingin diam tentang hal itu," katanya.

Lima belas tahun kemudian, KIgA telah menjadi pusat kegiatan pendidikan yang terkenal untuk memerangi anti-Semitisme dan Islamofobia di masyarakat Jerman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA