Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Korelasi Kuat Antara Ilmu Hadis dan Budaya Penelitian

Kamis 21 Nov 2019 19:40 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Kitab Kuning

Ilustrasi Kitab Kuning

Foto: Republika/Prayogi
Kehadiran ilmu hadis memperkuat budaya penelitian.

REPUBLIKA.CO.ID, Ada keterkaitan kuat antara dispilin ilmu hadis dan budaya penelitian. Budaya meneliti boleh dikatakan lahir dari era pengumpulan hadis dan pengklasifikasiannya.

Baca Juga

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, dalam beberapa kesempatan pernah menyampaikan bahwa ilmu hadis adalah budaya penelitian yang dilakukan secara masif pertama kali di dunia.

Bayangkan, di masa sepeninggal Nabi apabila tak ada suatu sistem yang memfilter perkataan sesesorang yang dinisbatkan pada Nabi, maka akan terjadi kekacauan di berbagai aspek. Namun melalui musthalahul-hadis, jika ada seseorang yang mengklaim hadis, akan sangat mudah ditelusuri keabsahannya.

Salah satu ahli hadis yang paling banyak mentakhrij hadis, Imam Bukhari, telah belajar kepada lebih dari 3.000 ahli hadis di berbagai negara Muslim. Sosok yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Bukhari ini dikenal memiliki metode yang sangat selektif dan ketat dalam menilai otensitas suatu hadis.

Di era digital seperti sekarang ini, informasi memang terbuka luas. Akses informasi bisa digunakan untuk kebaikan namun ada juga segelintir orang yang menyelewengkannya. Sebagai contoh, hadis di masa kini kerap disalahgunakan oleh kaum ekstremis yang memelintir hadis untuk kepentingan radikal.

Hadis-hadis seperti keutamaan pemimpin dari kalangan Quraisy, keutamaan jihad, hingga hadis 72 bidadari hingga hari ini dijadikan propaganda kaum ekstermis ISIS. Namun setelah sejumlah pakar hadis menelusuri keabsahan hadis yang digunakan kalangan ekstremis, hadis-hadis tersebut rancu dan dicurigai palsu.

Dari kehati-hatian dan penelusuran inilah, budaya teliti harus terus dikembangkan apapun eranya. Di masa para sahabat, budaya literasi dan penelitian ini dikembangkan untuk menjaga ontesitas hadis. Hal serupa ternayata masih relevan di hari ini.

Belum lagi relevansi mengenai budaya meneliti dan sikap kritis di hari ini saat menerima informasi. Umat Muslim yang kerap dibekali budaya meneliti dan kritis jangan mau menelan informasi yang bersumber dari sumber tak terpercaya. Hoaks yang merajalalela saat ini mampu ditangkal asalkan umat Muslim secara berjamaah kembali membumikan sikap teliti dan kritis terhadap hal-hal yang tengah berkembang.

 

  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA