Jumat 22 Nov 2019 05:00 WIB

Menelusuri Manuskrip Islam

Peneliti Barat menyebut manuskrip Islam bukan hanya Alquran, hadis, dan fikih.

Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Foto: nfvf.co.za
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peradaban Islam tak hanya meninggalkan warisan berupa bangunan fisik yang megah. Namun, juga khazanah pemikiran yang tertulis dalam bentuk manuskrip.

Peneliti Barat, Stephan Roman, direktur British Council regional Asia Selatan dalam laporannya, The Development of Islamic Library Collections in Western Europe and North America, coba memberikan kategori manuskrip ini.

Dalam tulisannya, ia menyebut, yang dapat dikategorikan sebagai manuskrip Islam bukan hanya Alquran, hadis, dan fikih, melainkan juga manuskrip yang memuat ilmu-ilmu umum. Sastra, tata bahasa, sains, matematika, sejarah, geografi, kedokteran, astronomi, dan filsafat dapat digolongkan ke dalam manuskrip Islam.

Menurut Roman, semua manuskrip yang berasal dari wilayah dunia Islam ini tergolong manuskrip Islam apabila ditulis oleh Muslim dan lahir dari struktur komunitas Muslim. Artinya, naskah itu diproduksi dalam tradisi intelektual Islam yang dominan, seperti kesultanan Islam, pondok pesantren, atau komunitas Muslim.

Keragaman manuskrip Islam merentang seluas dunia Islam, yang mencakup kawasan geografi yang luas. Membentang dari Afrika Barat, jazirah Arab, hingga semenanjung Melayu-Indonesia.

Manuskrip tersebut ditulis dalam berbagai bahasa dan sistem aksara. Arab, Persia, dan Turki adalah bahasa-bahasa dominan digunakan di dunia Islam, tetapi ada juga manuskrip yang ditulis dalam bahasa Urdu, Pashtu, Jawa, Melayu, Makassar, dan Swahili.

Koleksi manuskrip Islam di Eropa Barat dan Amerika Utara berkembang pada abad 15-20 M. Untuk manuskrip-manuskrip Arab, dua aksara yang paling dominan digunakan adalah Kufi dan Naskhi. Kufi, satu tradisi khat asal Kufah, sangat populer digunakan dalam manuskrip-manuskrip Islam asal Andalus dan Maroko.

Sementara, khat naskhi tersebar luas dalam naskah-naskah produksi Persia, Turki, dan Mughal. Banyak manuskrip Islam dari periode awal ditulis di atas perkamen atau kertas kulit. Sebagian manuskrip penting atau mewah diwarnai dengan lapis lazuli. Teknologi pembuatan kertas baru ada di Baghdad pada abad ke-8 M.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement