Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Ciri Pejabat yang Zuhud

Kamis 21 Nov 2019 05:30 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

Pejabat yang zuhud (ilustrasi).

Pejabat yang zuhud (ilustrasi).

Foto: Wordpress.com
Orang zuhud tidak terikat pada hartanya.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Seorang Muslim tentu harus bersikap zuhud (meninggalkan hal yang bersifat duniawi) termasuk para pejabat maupun politikus. Namun bagaimana cara pejabat bersikap zuhud dan apa yang menjadi cirinya?

Baca Juga

Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr Hasanuddin AF menjelaskan, pejabat yang zuhud itu merasa cukup dengan jabatan yang diemban, berjuang dengan cara yang dibenarkan syariat dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya.

"Zuhudnya mereka itu berjuang sesuai dengan syariat, tidak membabi buta, tidak sikut sana sikut sini. Itu namanya tidak zuhud lagi," tutur ketua komisi fatwa MUI itu kepada Republika.co.id, Rabu (20/11).

Hasanuddin melanjutkan, pejabat yang zuhud melaksanakan perannya dengan baik sampai berdampak positif pada masyarakat. Tiap pejabat menurutnya harus memahami betul-betul untuk apa jabatan itu dipegangnya.

"Untuk apa dia menjadi anggota DPR, untuk apa dia menjadi menteri, jabatannya itu diabdikan untuk kepentingan masyarakat, kesejahteraan masyarakat, bukan untuk pribadi dan golongannya," ujarnya.

Ciri pejabat yang tidak zuhud, papar Hasanuddin, tentu akan cenderung bersikap rakus atau tamak pada kekuasaan, dan selalu merasa kurang dengan jabatan yang dimilikinya.

"Tidak merasa cukup dengan jabatan yang ada, berjuang dengan segala cara yang melanggar syariat, berpikir bahwa yang penting tujuannya gol, tidak seperti itu," ungkapnya.

Lebih lanjut, Hasanuddin menjelaskan, zuhud itu tidak merasa terikat dengan hal yang bersifat duniawi. Namun zuhud bukan berarti tidak punya harta atau kekayaan. "Tapi tidak ada keterikatan secara membabi buta dari hati seseorang kepada hartanya itu," ucapnya.

Sementara, tutur Hasanuddin, ciri zuhud bagi seorang Muslim yang miskin harta yaitu sikap sabar. "Bagi yang miskin, zuhudnya itu dengan sabar, apa adanya, sambil terus berikhtiar. Jangan memaknai sabar ini dengan berdiam diri atau menunggu rezeki dari langit," ujarnya.

Karena itu, Hasanuddin berpandangan, sikap zuhud itu bisa dimiliki oleh orang kaya dan miskin. Untuk memiliki sikap tersebut, seorang Muslim harus menanamkan pada dirinya bahwa semua hanyalah milik Allah SWT. Artinya, orang yang zuhud adalah orang yang tidak terikat pada dunia.

"Orang yang zuhud, hatinya tidak terikat pada hartanya. Dia tidak merasa memiliki secara sempurna, bahkan merasa hartanya hanya titipan Allah. Sehingga dia menjadi dermawan," tutur dia.

Orang kaya yang zuhud selalu menyalurkan hartanya di jalan Allah sesuai dengan syariat, seperti zakat, infak dan sedekah. "Jadi dia punya harta tapi tidak dimilikinya sendiri, tidak hanya dimanfaatkan dirinya dan keluarganya. Tapi juga digunakan kepada orang lain di jalan Allah," imbuhnya.

Hasanuddin melanjutkan, orang miskin dan kaya yang bersikap zuhud memiliki derajat yang sama. Orang miskin zuhud dengan sabarnya, sambil tidak henti-hentinya berjuang atau berjihad mencari nafkah di jalan yang benar dan diridhai oleh Allah SWT.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA