Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Beribadah Tapi tak Ubahnya Seorang Budak, Siapakah Mereka?

Rabu 13 Nov 2019 07:48 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Mengaji bersama/Ilustrasi

Mengaji bersama/Ilustrasi

Foto: Republika/ Wihdan
Beribadah harus dilandasi dengan ikhlas dan cinta.

REPUBLIKA.CO.ID, Di antara limpahan nikmat, ada satu nikmat yang hanya Allah berikan pada hamba-hamba terpilih saja, yaitu nikmat hidayah. “Barangsiapa yang diberi petunjuk (hidayah) oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi (QS al-A'raaf: 178).

Baca Juga

Hakikatnya, syukur lahir dari rasa cinta kepada Allah (mahabatullah). Makin tinggi rasa cinta pada Allah, makin besar pula rasa syukur yang dilahirkan. 

Rasulullah SAW adalah pribadi yang amat mencintai Allah, tak heran bila beliau menjadi hamba yang paling bersyukur kepada Allah. Inilah tingkat tertinggi dari bakti seorang hamba pada Tuhannya.

Sebenarnya, selain ibadah karena motivasi cinta yang berbuah kesyukuran, ada dua hal lain yang memotivasi seseorang beribadah, yaitu karena takut dan karena ingin mendapat pahala. 

Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin, menyebut orang yang beribadah karena rasa takut sebagai "kategori budak". Seperti halnya budak, ia akan mengerjakan sebuah pekerjaan sebaik mungkin, walau sebenarnya ia tidak suka dengan pekerjaan tersebut. 

Ia beramal karena rasa takut mendapatkan siksa Tuhannya. Tidak salah memang, karena Allah telah menyediakan surga bagi hamba-hamba pilihan dan menyediakan neraka bagi hamba durhaka. 

Dan setiap manusia wajib takut dengan neraka. Namun, ibadah yang dilandasi rasa takut semata akan terlihat sebagai beban yang melahirkan rasa tertekan. Orang pun akan sulit menjalin "keakraban" dengan Allah. 

Padahal, sifat rahmaan dan rahiim Allah mengatasi kemurkaan-Nya. Sifat jamaliyah (feminin) Allah lebih banyak daripada sifat jalaliyah (maskulin)-Nya. Allah pun lebih sering berbicara dalam bahasa cinta dibanding bahasa ancaman.

Orang yang beribadah hanya karena mengharap pahala, oleh Imam al-Ghazali disebut "kategori pedagang". Seperti pedagang yang menjual barang apa saja, fokus mereka hanya keuntungan belaka. 

Amal mereka bukan berdasar pada pilihan hatinya, tapi karena ia suka dengan keuntungan yang telah dijanjikan. Tidak salah pula orang beribadah karena mengharap pahala, karena Allah sendiri sudah menjanjikan. 

Namun, terlalu perhitungan dengan pahala bisa menyebabkan seseorang memilih-milih pahala. Memilih hanya yang benar-benar menguntungkan saja. Padahal, tidak ada amal yang kecil di sisi Allah. Yang kecil adalah amal yang tak ikhlas.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA