Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Karavanserai tak Sekadar Hotel Pinggir Jalan

Rabu 13 Nov 2019 00:14 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Foto: saharamet.org
Karavanserai mengakomodasi seluruh karavan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebuah artikel di laman aramcoworld menjelaskan, desain karavanserai dan khan mengadopsi unsur-unsur masjid, vila, benteng dan istana, untuk menciptakan tema desain yang pragmatis dan hampir universal.

Karavanserai dan khan lebih dari sekadar hotel pinggir jalan. Seperti namanya, karavanserai mengakomodasi seluruh karavan (rombongan orang yang melakukan perjalanan) yang datang. Sementara itu, khan berlokasi di kota dan biasanya berlokasi di samping pasar. Sedangkan, funduq lebih seperti rumah kos dan biasanya juga dibangun di dekat pasar.

Ketiganya, pada tingkat yang berbedabeda, merupakan tempat di mana orang dari ber bagai latar belakang agama dan etnis ber baur. Ia mungkin lebih mirip bandara hari ini. Ada tempat untuk tidur, makan, berbe lanja, beribadah, bergaul, dan menunggu un tuk perjalanan selanjutnya.

Selama lebih dari satu milenium, karavanserai, khan dan funduq menempati posisi penting dan menjadi simbol semangat, ke mak muran, dan karakter kosmopolitan di abad pertengahan. Ketiganya adalah tulang punggung yang memberi kekuatan pada Jalur Sutra.

Ibnu Batutah dalam catatannya menulis, "Di setiap tempat antara Kairo dan Gaza, para pelancong turun. Di luar khan, ada keran air untuk umum dan toko tempat orang dapat mem beli apa yang ia butuhkan untuk dirinya dan hewan tunggangannya."

Bangunan karavanserai tampil dengan ciri khas, sehingga penghuninya merasa seperti sedang berada di Maroko atau India. Mendekati penginapan ini, pengunjung akan me lihat tembok tinggi dengan gerbang tunggal, tinggi dan cukup lebar sehingga memungkinkan unta melewatinya. Setelah melewati gerbang, terhampar halaman luas berbentuk persegi panjang.

Sebelum masuk penginapan, tepatnya di gerbang, ada seseorang yang akan mencatat nama pengunjung, kota asal, sifat barang-ba rang dan jumlah hewan yang dibawa. Umum nya, karavanserai terdiri atas dua lantai. Lantai pertama untuk menginap, sedangkan lantai dasar untuk menampung barang-barang dan hewan.

Secara arsitektur, karavanserai pada abad pertengahan menerapkan desain benteng Romawi, istana Persia, dan rumah keluarga di Asia Tengah untuk menghasilkan tema de sain yang universal. Adapun bahan bangunan adalah bahan-bahan lokal, seperti batu bata lumpur.

Ventilasi yang baik, air yang melimpah, jamban yang bersih, dan kamar pribadi adalah fasilitas yang dapat dinikmati di karavanserai atau khan. Desain bangunan yang sederhana dan efisien ini terbukti dapat bertahan lama dan mudah beradaptasi selama berabad-abad. Hal ini merupakan perpaduan luar biasa antara Timur dan Barat.

Sementara itu, khan didesain untuk memberi perlindungan dan privasi. Beberapa khan didesain dengan struktur bangunan yang rumit, cukup megah dengan pilar berukir dan berlantai marmer. "Pedagang bisa menginap dalam waktu singkat atau lama, juga menyewa toko ter dekat," kata Arkeolog Katia Cytryn-Silverman yang cukup lama mempelajari seluk-beluk khan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA