Ahad 10 Nov 2019 19:21 WIB

Infak Terbaik Para Sahabat

sahabat Rasulullah SAW kerap bersedekah dan menginfakkan harta terbaik yang mereka.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Agung Sasongko
Sedekah/Ilustrasi
Sedekah/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Sejumlah sahabat Rasulullah SAW kerap bersedekah dan menginfakkan harta terbaik yang mereka miliki di jalan Allah. Hal ini sebagaimana yang diajarkan Nabi.

Dalam kitab Sirah Sahabat karya Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawy diceritakan, ketika para sahabat tengah berada di sisi Rasul dan hendak melakukan shalat berjamaah, muncul sekumpulan orang yang berpakaian compang-camping. Melihat hal tersebut, wajah Rasulullah nampak muram dan kemudian segera memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan.

Usai melaksanakan shalat berjamaah, Rasulullah kemudian berpidato sebagaimana yang diabadikan dalam al-Qur'an surat al-Hasyr ayat 18 berbunyi: “Ya ayyuha-ladzina amanu-taqu-Allaha wal-tanzur nafsun ma qadamat lighadin. Wattaqu-Allaha inna Allaha khabirun bima ta’lamun,”.

Yang artinya: “Wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan,”.

Usai berpidato, Rasulullah juga menganjurkan kepada para sahabatnya untuk mengeluarkan sedekah dan infak. Sehingga beberapa sahabat ada yang bersedekah dengan sebagian dinarnya, sebagian dirham, kain, gandung, hingga separuh buah kurma yang dimiliki.

Melihat maraknya sedekah dan infak yang terkumpul dari rezeki-rezeki para sahabat, wajah Rasulullah pun berbinar. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah disebutkan bagaimana Rasulullah menganjurkan kepada umatnya agar bersedekah dan berinfak suatu hal yang disukai.

Dalam kitab Nashbur Rayah dijabarkan bagaimana ketika Sayyidina Umar bin Khattab mendapat pembagian tanah di Khaibar. Beliau kemudian menemui Nabi untuk berkonsultasi dan seraya berkata: “Ya Rasulullah, aku mendapatkan sebidang tanah. Yang mana tak pernah kudapatkan pembagian harta yang lebih berharga daripada sebidang tanah ini. Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku terkait sebidang tanah ini?”.

Rasulullah pun menjawab: “Jika engkau mau, engkau boleh mempertahankan tanahnya dan kau boleh mensedekahkan hasilnya (dari pengolahan tanah itu),”.

Maka dengan nasihat tersebut, Umar tidak mensedekahkan hasil tanahnya. Beliau juga tidak menjual, menghibahkan, atau membagi-bagikan tanahnya kepada fakir miskin. Kendati demikian Sayyidina Umar mengizinkan bagi siapapun yang hendak mengolah dan mengambil hasil dari tanahnya dengan cara layak.

Sayyidina Umar juga dikenal sebagai sahabat Nabi yang gemar membagi-bagikan hartanya di jalan Allah. Tak hanya itu, beliau juga kerap melebihkan orang-orang yang terlebih dahulu memeluk Islam dengan kelebihan harta yang dimiliki. Sayyidina Umar dikenal sangat menyayangi para mualaf dan orang-orang dengan keteguhan iman dan Islam yang kuat.

Kisah sahabat Rasul lainnya yang gemar bersedekah hal yang disukainya datang dari Abdurrahman bin Auf. Dalam berbagai catatan literatur dan khazanah Islam, Abdurrahman bin Auf pernah menginfakkan separuh harta yang dimiliki. Ditambah dengan 40 ribu dinar, 500 ekor kuda, dan 500 ekor unta hasil perniagaannya.

Sahabat nabi lainnya yakni Sayyidina Utsman bin Affan. Utsman pernah menemui Nabi Muhammad SAW untuk menyerahkan uang sebesar 1.000 dinar. Penyerahan uang ini dilakukan di saat Utsman tengah mempersiapkan pasukan perang yang sedang mengalami masa paceklik.

Dari keseluruhan kisah ini, terdapat hikmah yang bisa dipetik. Tentang bagaimana kesetiaan dan juga kepercayaan hati para sahabat bahwa harta dan rezeki yang melekat pada manusia hanyalah titipan. Di samping harta tersebut sesungguhnya ada hak-hak milik orang lain yang dititipkan Allah kepada umatnya yang berlebih.

Rasulullah bahkan pernah menolak harta dan jabatan yang ditawarkan malaikat yang disertai juga malaikat Jibril. Seperti diriwatkan Ibnu Abbas, malaikat tersebut berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan engkau untuk memilih. Apakah engkau (ya Muhammad) menjadi hamba dan nabi atau menjadi raja sekaligus nabi?”.

Rasulullah kemudian menoleh ke arah malaikat Jibril layaknya seseorang yang meminta saran. Kemudian Jibril memberi isyarat agar Rasul merunduk dan mematuhi untuk memilih tawaran tersebut. 

Maka, Rasululullah pun menjawab: “Aku memilih menjadi hamba dan nabi,”.

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah diriwayatkan tidak pernah makan sambil terlentang hingga akhir hayatnya. Hadis-hadis berkitan dengan dengan pasca-peristiwa tersebut banyak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan an-Nasa’i sebagaimana yang disajikan dalam kitab al-Bidayah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement