Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Kolaborasi Muslim Turki-Asia, Poros Kebangkitan Islam?

Jumat 08 Nov 2019 20:07 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Bendera Turki di jembatan Martir, Turki

Bendera Turki di jembatan Martir, Turki

Foto: AP
Turki mencoba mencari kongsi kuat negara Muslim di kawasan Asia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kontribusi Turki dan negara-negara Muslim Asia akan membuka jalan bagi dunia Islam untuk menghasilkan solusi bagi masalah mereka sendiri dan dalam menghadapi tantangan global di masa depan. 

Baca Juga

Pendapat itu disampaikan kandidat PhD pada jurusan Hubungan Internasiodnal di University of Malaya, Malaysia, Muhammet Ali Guler berpandangan bahwa kolaborasi kuat Turki dengan Muslim Asia akan membuka jalan bagi globalisasi Muslim menuju arah yang sama. 

Oleh karena itu, menurutnya, negara-negara Muslim di Asia dan termasuk individunya harus memfokuskan pada peningkatan dan penguatan hubungan dan simpati dengan masalah masing-masing.

Pandangan ini penulis tuangkan dalam artikel di situs berita Daily Sabah, yang diterbitkan pada Rabu (6/11). Muhammet Ali menilai Turki pantas dipuji karena upayanya yang luas dan tidak memihak untuk membantu warga Suriah. 

Ada lebih dari 3 juta warga Suriah di Turki, termasuk Kurdi, etnis Turkmenistan, Arab dan lainnya, telah dibantu. 

Warga negara Turki sadar bahwa itu adalah tugas agama, sejarah, dan kemanusiaan mereka untuk melakukannya. Melalui operasi di daerah tersebut, Turki bertujuan untuk menciptakan zona aman bagi warga Suriah, yang belum atau tidak bisa dicapai pemain atau negara lain. 

Karena itu, menurutnya, dunia harus mendukung operasi Turki untuk menciptakan perdamaian di zona aman di Suriah. Namun, bahkan jika tidak mendukung upaya ini, ia menekankan agar negara lain tidak menyebarkan informasi yang salah melalui outlet media global mereka.

Tujuan utama operasi terbaru Turki di Suriah, yang dijuluki Operation Peace Spring, bertujuan untuk menghilangkan kelompok-kelompok teroris, termasuk Daesh dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) yang berafiliasi dengan PKK, di wilayah tersebut. Di samping untuk memberikan kesempatan bagi warga Suriah untuk hidup damai di wilayah mereka.

PKK telah berperang melawan Turki sejak 1984 dan menewaskan lebih dari 40 ribu  orang tak bersalah dan membunuh lebih dari seribu tentara, polisi, dan penjaga Turki sejak pembentukannya. 

Namun demikian, Barat menyebut operasi Turki 'invasi' dan menuduh itu sebagai 'misi' untuk membunuh warga sipil.

Begitu Turki mengumumkan rencana tegas untuk menciptakan zona aman bagi Suriah, Barat mulai menyebarkan disinformasi di seluruh dunia tentang operasi Ankara. 

Reaksi AS dan sekutu lain terhadap operasi perdamaian Turki telah membuat banyak orang mempertanyakan kekuatan dan agenda mereka yang mengklaim aliansi dengan Ankara.

Ali merasa heran lantaran rezim Muslim seperti yang ada di Liga Arab mengutuk langkah Turki tersebut. Bahkan, beberapa negara Muslim di kawasan itu mendukung organisasi yang berperang melawan Turki. Meskipun, beberapa negara ada juga yang bersikap netral.

Di sini, ia justru berharap agar negara-negara di Timur Tengah berkolaborasi agar kawasan ini lebih aman dan sejahtera. 

Sebab, faktanya, Liga Arab tetap diam dan pasif sementara negara-negara anggotanya telah dihancurkan satu per satu selama beberapa dekade terakhir.

"Karena itu, sebagai seorang Muslim Turki, yang saya mengerti dari pernyataan mereka adalah bahwa negara-negara yang ingin mengutuk Turki hanya menunjukkan betapa kuatnya kesukuan mereka dalam hubungannya dengan negara-negara Muslim lainnya," kata Ali. 

Namun begitu, Turki tampaknya tidak akan sendirian. Ali percaya bahwa Turki dapat menemukan sekutu yang dapat diandalkan di luar Timur Tengah. 

Ia juga meyakini jika kontribusi Muslim Asia untuk kemanusiaan dan dunia Muslim di masa depan akan lebih kuat daripada mereka yang memiliki mentalitas kesukuan di Timur Tengah. 

Karena itu, menurutnya, Turki harus mempertimbangkan Asia sebagai tambahan pelengkap bagi arena regional dan globalnya.

Ia mengatakan, Asia Tengah adalah rumah bagi negara-negara Turki, yang merupakan tempat tinggal dari etnis Turki juga. 

Negara seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan dan Turkmenistan di Asia Tengah, dan Azerbaijan di Kaukasus selatan adalah anggota Dewan Turki. Hongaria juga merupakan anggota pengamatd dari kelompok ini. 

Turki sangat mementingkan dunia Turki, yang merupakan keharusan bagi tujuan bersama mereka 'Kızıl Elma', pembentukan kemitraan yang kuat antara Dunia Turki dan negara-negara Muslim. 

Dalam hal ini, Asia Tengah dapat berfungsi sebagai jembatan yang indah bagi umat Islam di Asia, Eropa, Balkan, dan Kaukasus. 

Menurutnya, anggota Dewan Turki dapat memainkan peran penting dalam masalah regional dan global. Di sini, Turki bisa mendekati dunia Turki bersama Muslim di seluruh Eurasia. Akan tetapi, ia memandang hal ini tampaknya sangat sulit, walaupun itu mungkin. 

Oleh karena itu, Turki dapat mengarahkan kebijakannya kepada Muslim Asia untuk masa depan yang lebih baik. Dengan kata lain, Ankara mungkin mengabaikan atau menjauhkan rezim kesukuan dari rencana barunya. Sebab, menurutnya, tanggapan terbaik untuk orang-orang kesukuan pasti akan datang dari Muslim yang tulus.

"Saya pribadi percaya bahwa kebangkitan kembali Muslim di masa depan akan datang dengan Muslim Asia, bukan dari rezim kesukuan Timur Tengah," tambahnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA