Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Mengenal Musa Bin Nushair, Panglima yang Saleh

Kamis 07 Nov 2019 08:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Oase (ilustrasi)

Oase (ilustrasi)

Foto: Wordpress.com
Musa bin Nushair dikenal dai ulung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musa bin Nushair tak hanya seorang panglima perang yang gagah berani. Ia juga dikenal sebagai seorang dai ulung. Berkat dakwahnya yang memukau, penduduk di Afrika Utara berbondong-bondong memeluk Islam. Musa mengajari mereka tentang Alquran.

Ia memang dikenal sebagai pribadi yang saleh dan tawakal. Musa juga turut meriwayatkan hadis dari Tamim bin Aus ad-Dari. Ketika Afrika mengalami panceklik, ia memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan shalat Istisqa, sekitar 93 H.

Setelah shalat, ia keluar menemui orang-orang dan memisahkan antara yang Muslim dan non-Muslim, demikian pula antara induk binatang dan anaknya. Kemudian, ia memerintahkan orang-orang meratap dan menangis, sementara ia berdoa kepada Allah hingga menjelang siang.

Ketika ia turun dari mimbar, seseorang bertanya, “Tidakkah engkau berdoa untuk Amirul Mukminin?” Ia menjawab, “Di tempat seperti ini yang layak disebut hanyalah Allah.” Maka, Allah pun menurunkan hujan setelah ia mengucapkan kalimat tersebut.

Musa memberikan kebebasan yang sangat luas terhadap penduduk di daerah yang ia taklukkan untuk mengamalkan ajaran agamanya masing-masing. Ia juga memberikan kemerdekaan individu, dengan syarat mereka tetap membayar upeti. Batas minimal upeti yang harus mereka bayarkan adalah makanan pokok. Musa juga membiarkan harta-harta tetap menjadi milik penduduk tersebut.

Selain dikenal sebagai panglima, ia juga masyhur sebagai ahli di bidang bangunan. Di sebuah bukit di Pegunungan Bani Hassan yang terletak di lokasi Tatwan, ia membangun sebuah masjid. Penduduk kota tersebut sepakat menamakan masjid tersebut Masjid Musa bin Nushair.

Musa merupakan orang yang sangat pemberani, cerdas, dermawan, bertakwa, dan berpendirian kuat. Belum pernah sekali pun pasukan di bawah pimpinannya kalah dalam berperang. Ia sangat menjunjung tinggi agamanya. Sebagai Muslim yang taat, ia sangat menghargai kesetaraan hak setiap manusia, latar belakang, dan ras.

Hal tu diperlihatkannya ketika memilih Tariq bin Ziyad yang merupakan penduduk Barbar sebagai gubernur Tangier.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA