Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Wakaf Salman ITB Bantu Bangun Pondok Mualaf

Ahad 03 Nov 2019 16:35 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agung Sasongko

Mualaf

Mualaf

Pembangunan Pondok Mualaf merupakan yang pertama di Jabar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wakaf Salman ITB sebagai nazhir wakaf di Kota Bandung melakukan penandatangan kerja sama untuk membantu Yayasan Pondok Mualaf Indonesia di Masjid Trans Studio Bandung, akhir pekan ini. Kerja sama tersebut dijalin untuk pembangunan Masjid dan Pondok Mualaf di Kota Cimahi.

Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan langsung oleh Direktur Wakaf Salman ITB, M Khirzan Nazar Noe’man dan Ketua Umum Yayasan Pondok Mualaf Indonesia, Ustadz Ku Wie Han.

Penandatanganan kerja sama tersebut, dilakukan bersamaan dengan digelarnya kajian islami bersama Mamah Dedeh dengan mengangkat tema “Belanja di Jalan Allah".

Direktur Wakaf Salman ITB, M Khirzan Nazar Noe’man kerja sama ini merupakan sebuah bentuk komitmen Wakaf Salman ITB untuk terus membangun infrastruktur yang dapat dijadikan fasilitas penunjang kegiatan keagamaan. Khususnya, kebermanfaatannya dapat dirasakan mualaf.

"Wakaf untuk pembangunan masjid dan Pondok Mualaf ini diharapkan mampu menjadi bagian dari kesejahteraan saudara-saudara mualaf, dalam mempelajari Islam dan menjaga keistiqomahan," ujar M Khirzan kepada wartawan, Ahad (3/10).

Khirzan mengatakan, Wakaf Salman ITB sangat mendukung pembangunan pondok Mualaf karena akan membantu semua Mualaf agar bisa terus mendapatkan pendampingan. Selain itu, salah satu pengurus ponduk muallag syahadatnya pun dilakukan di Salman jadi ada ikatan emosional.

"Pondok Mulaf ini sepertinya baru pertama kali ada. Memang, ini sangat dibutuhkan kan perlu tempat khusus untuk Mualaf sharing setelah mereka bersyahadat kalau masjid umum kan msh kagok. Jadi butuh tempat khusus," paparnya.

Saat ditanya nilai kebutuhan anggaran untuk pembangunan pondok Mualaf, Khirzan mengatakan, pihaknya masih menunggu design bangunan. Namun, ia memperkirakan kebutuhan anggarannya sekitar Rp 2,4 sampai Rp 2,5 miliar.

"Ya kebutuhan anggaranya di kisaran segitu. Kan baru dapat tanah wakafnya. Jadi masih proses design. Mudah-mudahan dapat bantuan dari pemerintah juga ini kan unik dan belum ada," katanya.

Saat ini, kata dia, Wakaf Salman ITB pun bergerak untuk pembebasan ruko di sekitar Masjid Lautze 2 dalam rangka perluasan Masjid. Karena, Masjid Lautze 2 pun menjadi salah satu pusat pembelajaran dan pembinaan para mualaf di Kota Bandung.

Khirzan menjelaskan, Yayasan Pondok Mualaf Indonesia yang berdiri pada tanggal 11 Agustus 2019 ini memiliki fokus program untuk pembinaan para mualaf diberbagai tempat. Acara kajian dengan Menghadirkan Mamah Dedeh ini juga, menjadi salah satu media sosialisasi Wakaf Salman ITB untuk memperkenalkan kepada jamaah yang hadir terkait program Wakaf Pembangunan Pondok Mualaf.

"Kami berharap, jamaah yang hadir dapat teredukasi dan tergugah untuk berwakaf dan menjadi bagian dari kesejahteraan para mualaf dalam mempelajari Islam," katanya.

Sementara menurut Ketua Umum Yayasan Pondok Mualaf Indonesia, Ustadz Ku Wie Han, pihaknya mendapatkan tanah wakaf seluas 320 meter di Cibeber Cimahi. Nantinya, di atas tanah tersebut akan di didirkan kantor Yayasan Pondok Mualaf Indonesia. "Kami ingin membangun tempat pembinaan Mualaf seperti pesantren lah tapi khusus Mualaf," katanya.

Pembangunan pondok Mualaf ini, kata dia, perdana di daerah lain belum ada. Nantinya, di tanah wakaf seluas 320 akan dibangun 3 lantai. Lantai pertama masjid, pelataran parkir. Kemudian, Lantai 2 kantor. Serta lantai ke 3 untuk kelas dan pondokan. Jumlah kamar yang akan dibangun,  hanya beberapa kamar.

"Mualaf akan kami berdayakan jadi tak numpang disitu. Setelah bisa mandiri akan disalurkan ke Ponpes yang lainnya. Diganti dengan Mualaf yang baru  yang membutuhkan betul-betul tempat tinggal dalam keadaan dhuafa," katanya.

Ustadz Ku Wie Han menilai, dengan adanya pondok Mualaf ini semua Mualaf nanti tak akan kebingungan lagi mencari tempat untuk pembinaan. "Selama ini, ada yang masuk islam balik lagi ke agama semula atau terkatung-katung karena ga ada yang membimbing," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA