Senin 28 Oct 2019 06:00 WIB

Doktor UIN Yogyakarta: Hadis Misoginis Legalkan Kekerasan

Hadis-hadis misoginis dinilai bias gender.

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Nashih Nashrullah
Penulisan hadis (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com/a
Penulisan hadis (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta kembali mengukuhkan guru besar. Kali ini, dalam bidang ilmu hadis, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) yakni Marhumah. 

Saat dikukuhkan belum lama ini, Marhumah menyampaikan orasi ilmiah berjudul Hadis Misoginis: Resepsi, Negosiasi dan Pergolakan Pemikiran Antara Tradisi dan Modernitas di Indonesia.

Baca Juga

Tema orasi ilmiah yang diangkat, sudah menjadi fokusnya sejak menempuh pendidikan pesantren pada 1970. Ia melihat, realita yang dihadapi santri perempuan kala itu yakni tidak memiliki akses keilmuan yang setara dengan santri laki-laki.

Ia pun menyinggung terkait misogini yang berarti kebencian terhadap perempuan anti feminisme. Ia menyebut, hadis-hadis misogini sendiri didefinisikan sebagai hadis yang mengandung makna kebencian, diskriminasi, dan menganggap derajat perempuan lebih rendah dari laki-laki. 

"Hadis-hadis misoginis berhasil mengkonstruksi kerangka berpikir umat Muslim dalam hegemoni budaya patriarki yang diskriminatif, marginalisasi, interpretasi yang bias gender, bahkan melegalkan kekerasan terhadap perempuan Muslim," katanya yang juga pegiat kesetaraan gender di Pusat Studi Wanita UIN Suka ini.

Namun, dalam perkembangannya, teks hadis misogini di pesantren secara epistemologi menempatkan perempuan dalam kelas sekunder. Hal ini seolah epistemologi pengetahuan dirancang untuk mengendalikan perempuan. 

Pengetahuan hadis yang diajarkan di pesantren dan disosialisasikan dalam kehidupan sehari-hari, katanya, menggabungkan hadis yang bias gender. Bahkan, meresap ke dalam semua mata pelajaran baik di pesantren, sekolah, maupun madrasah. 

"Padahal hadis-hadis misoginis ini bertentangan dengan historisitas Nabi Muhammad yang sangat menyayangi dan menghormati perempuan sebagaimana terekam dalam kitab-kitab Sirah dan beberapa hadis sahih," jelas Marhumah.

Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan epistemologi yang sensitif gender, berkeadilan gender di dalam membaca dan memaknai teks teks keagamaan. Khususnya hadis dalam kerangka pengetahuan pesantren. 

"Karena pembacaan dan pemaknaan teks hadis yang berperspektif gender dapat berkontribusi bagi pemecahan masalah dan kebutuhan era kini yang menuntut peran perempuan yang lebih optimal," tambahnya.  

Menurutnya, Islam di era saat ini dituntut lebih toleran terhadap kesetaraan gender dengan membuka kesadaran Kiai, Nyai dan para guru. Sementara, dari sisi pengembangan akademik, diperlukan strategi dan metode baru untuk menggeser pemaknaan hadis misogenik-bias gender

"Yakni  ke arah pemaknaan yang inklusif-kesetaraan gender, yakni dengan pendekatan interdisipliner seperti sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi, dan seterusnya, serta mengakomodasi prinsip-prinsip maqashid al-syari’ah," lanjutnya. 

Dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam rangka mengimplementasikan Islam yang rahmatan lil 'alamin, tidak bisa hanya sebatas wacana, diskursus dan pemaknaan. Namun, perlu dilakukan  berlanjut pada gerakan dalam rangka mengutamakan visi Islam berkeadilan gender. 

Walaupun begitu, saat ini sudah banyak perempuan yang memiliki kebebasan untuk mengenyam pendidikan. Termasuk berperan penting dalam publik dan keluarga. 

Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus terus diperjuangan banyak pihak. Sehingga, kesetaraan gender tidak membawa dampak negatif yang dapat membahayakan keharmonisan peradaban. 

Rektor UIN Suka, Yudian Wahyudi mengatakan, dalam ajaran Islam pun tidak membedakan derajat perempuan dan laki-laki. Oleh sebab itu, perlu ditumbuhkan komitmen bersama antara laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan termasuk dalam menuntut ilmu.

"Sehingga bisa semakin banyak melahirkan nama-nama keahlian di semua bidang demi kemajuan dan keharmonisan peradaban," kata Yudian.

Dikukuhkannya kembali guru besar UIN Suka kali ini, pihaknya akan terus berupaya mencetak guru besar yang berkompeten di bidangnya. Sehingga, jumlah guru besar pun terus meningkat di UIN Suka. 

 

 

 

 

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement