Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Manfaat Siwak Tradisional yang KIan Diabaikan, Apa Saja?

Jumat 25 Oct 2019 06:00 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Siwak (ilustrasi)

Siwak (ilustrasi)

Foto: Antara/Prasetyo Utomo
Siwak tradisional termasuk sunah Rasulullah SAW yang kian ditinggalkan.

REPUBLIKA.CO.ID, Sejumlah manuskrip Muslim membahas kedokteran dan fikih. Salah satu pembahasannya adalah penggunaan siwak atau miswak, ranting pembersih gigi yang biasanya dibuat dari pohon arak (Salvadora persica). 

Baca Juga

Saat ini, siwak dapat dibeli di hampir setiap pasar, mudah ditemukan. Teks-teks yang memberikan aturan untuk perawatan gigi umum sudah ada dari ahli medis Islam. Mereka membuat beberapa risalah yang didedikasikan khusus untuk masalah siwak.

Di antara teks tertua, yang membahas masalah ini dikarang oleh Yuhanna bin Masawayh (wafat 854 M) dan Hunayn bin Ishaq (wafat 873 M). 

Hukum siwak adalah sunah, yang berarti tindakan yang sangat dianjurkan untuk mengikuti apa yang dilakukan Nabi Muhammad. Cendekiawan Mazhab Hanafi Yusuf al-Qaduri juga membahas hukum bersiwak.

Bersiwak hendaknya dilakukan setiap saat, tidak hanya sebelum shalat sehingga rongga mulut, terutama gigi, selalu dalam keadaan bersih. Dengan begitu, tak ada sisa makanan yang menyelip di antara gigi. Mulut menjadi sehat. Nyaman dan percaya diri ketika berbicara dengan orang lain.

Sejumlah penelitian kontemporer menjelaskan bahwa tanaman Salvadora persica dan ekstraknya memberikan manfaat pada jaringan mulut dan membantu menjaga kebersihan mulut yang baik.

Sebagian besar risalah Muslim tertua tentang siwak berbentuk naskah. Namun, karya serupa tentang masalah ini juga muncul pada periode selanjutnya.  

Siwak sangat bermanfaat karena dibuat dari beberapa pohon yang bisa menghilangkan bau mulut. Bersiwak biasa dilakukan sebelum berwudhu dan juga setelah makan. Sehingga tak ada sisa makanan di mulut. 

Namun, dilarang bersiwak dengan buah delima dan tebu. Ulama lain dari Mazhab Hanafi seperti Ibnu 'Abidin menjelaskan bahwa pohon tersebut berbahaya bagi mulut. 

Muhammad al-Aqkirmani mengatakan, bersiwak lebih istimewa jika menggunakan pohon ara. Karena bagian dari pengobatan nabawi, menurut Abu Hanifa, kata Al-Aqkirmani, pohon arak membuat ucapannya fasih, nafsu makan terstimulasi, dan otak jernih. 

Siwak menjauhkan setan dan mendekatkan para malaikat, membuat tubuh lebih kuat dan penglihatan lebih tajam. Al- Aqkirmani membahas pengaruh siwak pada otak. Dengan demikian, siwak merangsang pemikiran yang tepat, berbeda dengan opium, hyoscyamus, dan hashish. Semua dari mereka (dan pertama-tama, ganja) dilarang karena mereka mengalihkan orang dari ingatan Allah SWT.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA