Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Menelusuri Pesona Masjid Penzberg

Senin 14 Oct 2019 16:46 WIB

Rep: Islam Digest Republika/ Red: Agung Sasongko

Masjid Penzberg

Masjid Penzberg

Foto: www.islam-penzberg.de
Masjid Penzberg adalah masjid gaya kontemporer dengan sentuhan Islami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Penzberg adalah bangunan masjid dengan gaya kontemporer yang sarat dengan dengan sentuhan seni Islami. Bangunan yang dinding eksteriornya didominasi oleh corak batu bata berwarna pasir pantai ini memiliki denah berbentuk huruf L. Masjid Penzberg memiliki sebuah menara yang unik berupa susunan tiga buah kubus setinggi 13 meter.

Baca Juga

Menara ini tidak terbuat dari batu bata atau semen seperti pada umunya, tetapi rangkaian kaligrafi yang membentuk tiga buah kubus baja antikarat. Kaligrafi bahasa Arab yang membentuk menara ini adalah teks ajakan untuk mendirikan shalat, yaitu azan.

Lantunan ayat Alquran senantiasa bergema selama 24 jam sehari tanpa mengganggu para tetangga. Berdiri dengan sederhana dan elegan di dekat pusat kota, gaya arsitektur Masjid Penzberg berbaur dengan gaya arsitektur bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya yang memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan kayu berukir, Masjid Penzberg memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan metal polos. Di atas pintu terdapat sebuah jendela besar yang memantulkan warna langit dan awan Kota Penzberg. Pintu masjid diapit oleh gerbang berupa dua lembar balok beton yang tingginya hampir setara dengan tinggi bangunan.

Pada balok beton sebelah kiri tertulis terjemahan bahasa Jerman dari surah Al-Fatihah dan surah Al-Hujurat ayat 13, sedangkan pada lembar balok beton sebelah kanan tertulis ayat-ayat Alquran tersebut dalam bentuk kaligrafi bahasa Arab.

Dengan demikian, kedua lembar balok beton ini terlihat seperti sebuah Alquran terjemahan bahasa Jerman berukuran besar yang sedang terbuka, menyambut siapa pun yang hendak datang ke masjid ini untuk beribadah atau sekadar berkunjung dan mempelajari ajaran Islam.

Bila biasanya pintu utama masjid langsung mengantarkan jamaah dan pengunjung ke ruang shalat utama, di Masjid Penzberg, seorang jamaah akan langsung memasuki koridor (flur) yang mirip dengan rumah-rumah di Jerman, dan sekaligus menghubungkannya dengan pintu-pintu lainnya. Di sebelah kiri koridor terdapat pintu perpustakaan dan tangga menuju ruang shalat wanita di lantai kedua, sedangkan di sebelah kanan terdapat pintu ruang shalat utama untuk laki-laki. Ujung koridor ini terhubung dengan lapangan parkir dan taman.

Di dalam bangunan yang memiliki tiga lantai dan sebuah basement ini, selain terdapat ruang shalat, juga terdapat sebuah perpustakaan multimedia dengan koleksi berjumlah lebih dari 6000 buah. Bangunan masjid ini juga memiliki aula, ruang administrasi, dan beberapa ruang kelas. Di bagian luar masjid terdapat taman, teras, dan tempat parkir. Keseluruhan bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi.

Walaupun memilih gaya kontemporer untuk seluruh struktur bangunannya, Jasarevic tidak serta-merta meninggalkan unsur-unsur seni Islami sebagai penghias sekaligus jiwa dari masjid ini. Hiasan arabes berupa permainan garis-garis geometri sederhana dan kaligrafi bahasa Arab tetap menghiasi seluruh interior ruang shalat. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari beberapa corak hiasan yang tedapat di Masjid Kordoba, Spanyol.

Sementara itu, langit-langit, panel, dan beberapa buah tiang artistik di ruang shalat utama dihiasi oleh kaligafi 99 nama Allah (Asmaul Husna) dan rangkaian garis geometri yang membentuk bintang-bintang. Keseluruhan mihrab masjid dibentuk oleh rangkaian kaligrafi yang terbuat dari bahan metal berwarna emas. Untuk tempat berkhutbah, sebuah mimbar tinggi berukir corak geometri berdiri di sebelah depan kanan ruangan shalat.

Sebagai tambahan sumber energi, di atap masjid yang berbentuk datar ini dipasang 22 panel tenaga matahari seharga 40 ribu Euro. Panel-panel ini merupakan sumber energi untuk sistem penghangat ruangan dan pemanas air.

Pencahayaan interior ruang shalat mengandalkan beberapa buah lampu kecil khas gaya minimalis yang ditempatkan di langit-langit dan lantai dekat jendela. Selain itu, pada siang hari pencahayaan interior didukung oleh jendela-jendela besar di sebelah kanan dan kiri ruang shalat.

Bagian terdepan ruang shalat ini bukanlah sebuah dinding beton, melainkan rangkaian 24 jendela daur ulang berwarna biru yang menghadap ke arah kiblat. Pada waktu siang, cahaya matahari akan dibiaskan oleh rangkaian jendela ini dan menghasilkan cahaya berwarna kebiruan.

Pada malam hari pemandangan masjid akan menjadi lebih indah, khususnya pada bagian eksterior. Seluruh dinding luar masjid disinari oleh lampu sorot, memperjelas efek visual dari corak batu bata pada permukaan dindingnya. Jendela-jendela masjid yang berukuran besar memancarkan cahaya yang berasal dari dalam ruangan, menegaskan corak geometri berbentuk bintang dan motif bintik-bintik biru pada setiap jendelanya.

Tidak ketinggalan, menara masjid ikut menghiasi pemandangan malam kota yang berada di kaki Pegunungan Alpen ini. Cahaya dari dalam menara memancar dan menembus celah-celah ukiran kaligrafinya. Karya besar Jasarevic ini sekarang menjadi salah satu ikon Kota Penzberg.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA