Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Ketika Peradaban Islam Hadirkan Revolusi Pertanian

Kamis 17 Okt 2019 05:05 WIB

Rep: Islam Digest Republika/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi penanaman benih pertanian

Produksi pangan di berbagai wilayah seperti Baghdad, Mesir, Damaskus hingga Andalusia

Di samping itu, ketepatan masa tanam dan panen juga diperoleh berdasarkan perhitungan kalender matahari yang di dalamnya terdapat pula beragam informasi tentang cuaca, suhu udara, tanah, dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini diungkapkan sejarawan Zohor Idrisi melalui The Stellar and Lunar Keys to Medieval Muslim Agriculture.

Ia memaparkan, sebenarnya kalender yang sejenis dengan al-anwa sudah ada sejak masa pra-Islam. Kalender ini terutama dipakai oleh suku pengelana Bedouin serta bangsa Persia. Para ilmuwan Muslim kemudian memberikan sentuhan ilmiah terhadap kalender kuno tersebut.

Kemajuan ilmu astronomi menyajikan pengukuran yang lebih tepat terhadap pergerakan matahari, planet-planet, dan kaitannya dengan ilmu-ilmu lain, misalnya botani dan agronomi.Dari sini diketahui, perubahan karekteristik bulan bukan hanya memengaruhi pasang dan surut, angin, hujan, tetapi juga kesuburan tanah.

Keistimewaan kalender ini yakni memiliki ketepatan perhitungan untuk masa tanam, pemeliharaan, hingga panen. Merujuk kalender yang sudah disempurnakan, para petani hanya tinggal mengafalkan periode pergerakan benda-benda langit untuk memprediksi cuaca sebelum memulai musim tanam.

Ketepatan perhitungan ini sangat berpengaruh pada keberhasilan panen. Menurut Idrisi, kalender ini selanjutnya menjadi sebuah karya fenomenal. Pada 961 Masehi, kalender yang pada masa itu sudah digunakan secara luas di Kordoba diperkenalkan oleh Khalifah Al Hakam II kepada tiga penguasa Eropa.

Mereka adalah Raja Romawi, Otto I, pemimpin gereja ortodoks di Konstantinopel, dan pemimpin Nasrani di Yerusalem. Setelah mengetahui manfaat praktisnya untuk pertanian masyarakat, mereka merasa kagum. Selanjutnya, kalender hasil inovasi ilmiah umat Muslim tersebar luas.

Para sarjana Barat menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin dengan judul Liber Anoe, sebelum diadposi secara luas di ladang-ladang pertanian di Eropa. Itulah salah satu torehan berharga sekaligus warisan gemilang peradaban Islam pada bidang pertanian.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA