Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Mengenal Kemajuan Teknologi Pertanian di Dunia Islam

Kamis 17 Okt 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Noria (kincir air) Albolafia di Sungai Guadalquivir, Cordoba, Spanyol, merupakan salah satu warisan prestise umat Islam.

Noria (kincir air) Albolafia di Sungai Guadalquivir, Cordoba, Spanyol, merupakan salah satu warisan prestise umat Islam.

Foto: http://cliophoto.clionautes.org
Sektor pertanian yang berkembang masa peradaban Islam tak sekadar mengolah lahan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor pertanian yang berkembang pada masa kekuasaan Islam tak sekadar mengolah lahan. Para petani dan ilmuwan Muslim berhasil menghadirkan berbagai inovasi yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman pangan. Kemajuan sains terbukti sangat mendukung bidang pertanian di negara-negara Islam.

Para ilmuwan Muslim mengenalkan sistem pengolahan lahan yang lebih modern. Beberapa di antaranya adalah penggunaan saluran irigasi, kincir air, ataupun cara tanam. Terdapat beberapa disiplin ilmu yang memberikan kontribusi, antara lain astronomi, botani, agronomi, klimatologi, hidrologi, ekologi, ataupun ekonomi.

Singkat kata, hampir tidak ada satu aspek pun dalam pertanian yang tidak dirambah oleh ilmu pengetahuan. Praktik pertanian pun menjadi industri besar serta menopang kemakmuran. Masa itu lantas dikenal sebagai periode revolusi hijau atau revolusi pertanian.

Umat Muslim mewujudkannya dengan mengembangkan metode pertanian yang paling maju pada zamannya. Dengan pengetahuan pra dan pascatanam yang dimilikinya, para petani Muslim berkemampuan baik dalam membuka lahan dan membudidayakan tanaman buah dan sayuran.

Begitu pula teknik membasmi serangga, pemilihan jenis tanaman, dan penggunaan pupuk dengan takaran yang tepat sampai cara memanen. Ihwal rotasi tanaman dipahami dengan baik pula. Bila sebelumnya para petani hanya mengalami satu kali masa panen setiap tahun, dengan teknik ini mereka bisa memanen beberapa kali dalam setahun.

Lewat inovasi, papar Philip K Hitti dalam History of the Arabs, lahan-lahan pertanian yang telantar dapat difungsikan kembali. Mereka membuka saluran irigasi lama atau membuat yang baru. Maka itu, lahan yang tadinya kering sanggup diubah menjadi lahan pertanian subur, misalnya sejumlah daerah di Asia Tengah.

Teknik pencangkokan tanaman untuk menghasilkan varietas baru menjadi keunggulan tersendiri dari para sarjana pertanian Muslim. Dari sini, muncul sejumlah varietas tanaman baru berkualitas baik sehingga menambah keragaman tanaman yang sudah ada.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA